Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 November 2019

PUISI: DIAM INI

Seakan sudah habis segala kata
Sudah habis segala tenaga
Kini yang ada keheningan
Diam sedikit sendu..

Oh angin...
Kau penyampai pesan terbaik
Sampaikan dengan tulus
Pada setiap hati yang ragu dengan diri ini

Ya Rabb
Diam lisanku hanya dari Kalimat merengek ala manusia
Dzikir ku tetap pada Mu
Dzat yang selalu ada saat suka atau duka
Ini bentuk ikhtiarku, meminta bantuan

Tak ada lagi
Selain Engkau

Minggu, 18 Februari 2018

DARI KEJAUHAN DIMENSI


Depok, 18 Februari 2018
Puisi: Dari Kejauhan Dimensi






MANISNYA TERASA BEGITUPUN AROMANYA

SENYUM-PUN TERSIMPUL DARI KEJAUHAN DIMENSI

AKHIRNYA KUPEJAMKAN DAN ANGIN MENYAPA

JELAS BUMI BAHAGIA, DAN AKU-PUN BEGITU...

Minggu, 03 Mei 2015

YANG BERDAMAI DENGAN SANG WAKTU

Sedih, takut....oh itu lagu lama
Air mata mengalir tak berbelas kasih
Mata pun lelah kiranya
Harus mengurai butir butir keperihan

Diri ini memanglah payah
Jelas kuakui dari dalam sanubari
Ku seperti orang gila
Yang berkali kali tak percaya bahwa obat ini sungguh pahit

Pahit bukanlah derita pribadi yang mutlak
Bukan hanya kau!

Buat apa kau ratapi kegagalan?
Kau bertekad taklukan dunia
Dunia yang pada saatnya pun akan lenyap dalam bayangmu
Lalu taklukan apa lagi?

Perang ini jelas dilema bukan main
Oh...salah ku selama ini
Baju egoisme dan selimut nafsu
Sungguh membuatku asik sendiri

Hanya Sang Khalik tujuan air mengalir
Apapun yang ingin kutaklukan
Pastilah lebih dulu telah takluk pada Mu
Apapun itu akan pergi meninggalkanku

Itu konsep hidup, bukan lagi teori
Ku yakin dengan sang waktu
Akan mempersilahkannya untukku
Tak peduli, ini harapan yang nyala

Hingga waktu itu tiba.............

Senin, 11 Agustus 2014

Batu kecil Palestina


Hai berbaju besi!
Setiap pagi kau beri sarapan ketakutan untuk kami
Kau renggut siang kami dengan kehancuran
Masih kau renggut juga waktu bermain kami dengan darah
Dan malam kami kau buat penuh air mata

Semiskin apakah hai kau berbaju besi!
Hingga tak habisnya kau renggut segala milik kami
Rumah kami rata dengan tanah! Kau bahagia
Kakak ku mati muda! Kau tertawa

Air mata ibuku, adalah luka terperih dalam jiwa
Kini ayahku akan kau bawa kemana?
Tubuhku yang mungil tak akan kubiarkan percuma untukmu
Berhentilah kau baju besi, ada batu kecil yang akan menghadangmu di sini!!!!!!


Minggu, 13 Juli 2014

PUISI NATRIUM: AKU BERBEDA TANPAMU

Begitu damai embun pagi hari
Seakan mencoba hibur hati yang lara
Kuayunkan kaki ku dan bertanya
Inilah akibat dari keputusanku????

Saat waktu menggiringku
Hingga akupun harus bereaksi dengan ion Clorida
Tegakah takdir memaksaku tuk ambil keputusan ini?
Keputusan untuk melepaskan 1 elektronku demi menjadi ion?

Aku nyaman dengan wujudku yang dahulu
Dimana ada 11 proton dan 11 elektron dalam diriku
Namun, saat mimpi buruk itu datang
Kini aku hanya ditemani 11 proton dan 10 elektron

Kau tau? Ini cukup berat bagiku
Wujudku semakin mengecil setelah menjadi ion
Dahulu 11 proton menarik 11 elektron
Namun kini, 11 proton HANYA menarik 10 elektron?
Tentu tarikannya akan lebih kuat dari sebelumnya

Elektron pun tertarik ke dalam inti lebih dalam
Dan wujudku semakin mengecil akibat tertarik terlalu dalam ke inti
Ya…aku sudah berubah dengan wujud asliku
Wajar saja jika hatiku resah penuh amarah akan takdir

Tersadar diri ini,
Seberapa besar amukan amarahku pada samudra
Samudrapun tetap tenang, karena ini sudah jalanku
Wujud yang berubah tak seharusnya merubah hatiku juga…



Senin, 27 Januari 2014

YANG TAK PERNAH TERLIHAT






Ini lebih dari itu

Lebih dari sekedar manisnya gula
Lebih dari legitnya madu
Lebih juga dari senyumanmu

Apalah arti dunia semata
Semakin dikejar, semakin mati berdiri
Dan gila karna menggilainya
Sukur! Rasakan Sendiri!

Belajarlah pada yang Taqwa
Maka hati akan terjaga
Hangat dan tenang sungguh nikmatnya

Inilah yang suci yang tak pernah terlihat

MANUSIA PICIK!

Ini karenamu dan ini ulahmu
Manusia Picik!
Sudikah kau mengemis pada keadaan
Manusia Bodoh!

Racun yang kau racik sendiri
Manusia Dusta!
Sakit kau telan sendiri
Manusia tak tau diuntung!

Bagaimana caranya kau berpijak pada bumi
Pastilah ada langit di atas langit
Semua tunduk pada Yang Maha Tinggi

Nikmat Mana Lagi??????????




-Wanda Amelia Rahma-

PEMILIK PENA INI

Hilir mudik angin menyapaku
Tak satupun mampu lepaskan
Sesak yang menggerogoti sukma
Tapi Bukan Sodara!

Kecewa nian diri ini
Pada jiwa yang berdebu
Yang bening kini tinggal kicauan
Tapi Bukan Sodara!

Air mana lagi yang harus aku teguk
Ini memang mutlak penyakit
Tapi Bukan Sodara!
Melainkan  pemilik pena ini……………


-Wanda Amelia Rahma-

Kamis, 01 Agustus 2013

AKU RINDU


Aku rindu, semakin ku resapi maka rindulah aku setengah mati
Mungkinkah aku bisa bertemu ? Wajah yang sangat meneduhkan,  sekalipun mata ini belum pernah melihat Ia.
Terkadang aku iri dengan Khodijah, iri dengan Fathimah , dan juga Aisyah
Apalah yang ku punya untuk bisa bertemu dengan-Mu. Wahai Kekasih Allah………………….

SAKLAR KEHIDUPAN


Ku nyalakan, ku matikan
Namun hanya diam, tak bisa mencegah
Terbujur kaku di dinding
Badannya yang terhubung dengan lampu kamarku
Membuatnya pasrah terhadap apa yang ku lakukan
“SAKLAR” begitulah menyebutnya
Sama dengan nyawa ini? Yang pasrah pada penciptanya
Sebagai penguasa atas SAKLAR KEHIDUPAN.
Lalu kapan sang Maha akan mematikannya? Allohu A’lam
Hanya bisa pasrah menunggu giliran tiba 


TAK ADA YANG LAIN


Kau yang menciptakan, akulah yang diciptakan
Kau yang memberi, akulah yang diberi
Kau yang memaafkan, akulah yang dimaafkan
Kau yang menjaga, akulah yang dijaga
Kau yang memiliki, akulah yang dimiliki
Kau yang melindungi, akulah yang dilindungi
Kau yang mengasihi, akulah yang dikasihi
Kau yang mengatur, akulah yang diatur.

Kuasa-Mu atas ku, apalah artinya aku tanpa-Mu
Cukuplah Allah bagiku, tidak yang lain!
Sujud ini  diharibaan-Mu

Senin, 22 April 2013

SEMANGAT



Gairah menggelora…
Apipun membakar jiwa
Tlah ku pandang satu titik
Sambil ku kepal kedua tangan mungil ini

Bangkit dengan penuh keyakinan
Ku pukul pundakku
Kata ajaibpun keluar begitu saja
“AKU BISA”

Keyakinan sang dewa menyerbu sanubari
Ini hanyalah jurang kecil
Yang mudah untuk dilewati
DAN AKU MAMPU!!!

Senyum mengembang optimis
Daaaannnn..lariiiiiiiiiiiii sekencang mungkin
Bayangkan Kau sudah ada di sana
Lalu? MELOMPATLAH LEBIH TINGGI


WANDA A.R


Serunya Oreo 110th Birthday Celebration Bareng Keluarga di Rumah

  Hal yang paling dirindukan dari seorang anak perempuan yang sudah berumah tangga adalah momen saat bisa kumpul bareng sama orangtua ters...