Tampilkan postingan dengan label SENTUHAN ROHANI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SENTUHAN ROHANI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Januari 2018

BUKAN MEDALI ATAU PIALA


Kemenangan itu terletak di dalam
Jauh di dalam qolbu
(Wanda Amelia Rahma)





Hiruk pikuk remaja tidak bisa terlepas dari hingar bingar dunia. Dunia kian berubah mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Dahulu membutuhkan waktu lama untuk sekedar mengirim pesan melalui surat. Kini, ribuan pesan dapat kita kirim dengan cepat dengan biaya yang lebih murah. Belum lagi perkembangan media social yang merajalela mulai dari friendster, facebook, twitter, instagram, telegram dengan segala keunggulan yang memanjakan umat manusia. Mudahnya dalam berkomunikasi turut memperbesar arus masuknya budaya luar tanpa filter yang baik.

Pemuda menjadi sasaran dari derasnya arus globalisasi. Siapa yang tidak berpegang kuat pada tali yang hakiki (Allah SWT) maka akan mudah terbawa arus bahkan mati. Diri ini bisa menjadi saksi fenomena tersebut karena tak dipungkiri penulis pernah terseret arus kemunafikan. Kemunafikan dengan mengumbar kata-kata bak penyair cinta, kata-kata yang meningkatkan eksistensi diri dengan membohongi khalayak ramai.

Dahulu, diri ini sangat sering membuat status alay hanya agar mendapat perhatian banyak orang. Status yang dibuat pun sudah seperti minum obat 3 kali sehari. Setiap peristiwa, di mana-pun dan kapan-pun selalu selfie dan  upload. Parahnya  foto yang di upload melanggar batas aurat. Tak jarang diri ini-pun suka meng-upload video dengan teman-teman seperguruan alias teman dengan hobi yang sama. Namun semua itu pernah membuat diri ini cemas bukan main tepatnya saat sinar hidayah itu mulai datang. Buat apa segala ikhtiar ibadah yang mulai perlahan ditingkatkan jikalau aurat masih ditebar di sana-sini. Berkali-kali membuka foto-foto dan video yang pernah di upload .  “Duhhhh…..rasanya sayang banget kalau semua fotonya harus dihapus” ujar diri ini.

Perlu waktu berminggu-minggu untuk akhirnya memencet tombol DELETE. Semua foto jaman jahiliyah sudah terhapus. Semoga benar-benar sudah tidak tersisa lagi. Rasanya lega sekali walaupun saat memencet tombol delete harus sambil menutup mata. Sejak itu hari terasa lebih ringan dan sejuk. Qalbu terasa tentram seakan-akan sedang menikmati suatu kemenangan. Kemenangan tanpa piala dan medali namun sangat menentramkan hati karena berhasil melawan hawa nafsu duniawi.

Selain berhasil melawan nafsu duniawi, adapula kemenangan lainnya. Saat cibiran dari sana-sini mulai berserakan membuat hati panas dan geram. Pernah saat duduk di bangku SMA, ketika sedang ingin memulai menjadi orang yang baik, diri ini justru mendapat cibiran negatif. Karena terlewat emosi, diri ini pernah berniat berhenti menjadi orang baik jikalau yang lain tetap menganggap diri ini negatif. Apa susahnya jadi orang jahat. Itu hal yang mudah, sehingga impas jahat dibalas dengan kejahatan.

Untung saja nasihat seorang teman benar-benar menyelamatkan. Katanya dahulu jikalau diri ini berniat kembali seperti dahulu hanya karena orang di luaran sana berfikiran negatif dengan perubahan baik kita maka diri kita tidak ada bedanya dengan mereka. Seandainya menjadi baik itu mudah, mungkin tidak akan ada perang dan perpecahan. Mendengar nasihatnya, berulang kali diri ini berupaya mengatur nafas berusaha membuang seluruh emosi  berbarengan dengan gas karbondioksida yang dibuang oleh tubuh. Fokus pada niat awal untuk berubah menjadi lebih baik di mata Allah, bukan di mata manusia. Karena hanya kekecewaan yang timbul saat berharap pada manusia.  Allah yang akan membukakan hatiku dan hati mereka. Lagi-lagi berkat kasih sayang Allah, diri yang penuh dosa ini diijinkan merasakan kemenangan kembali. Kemenangan melawan amarah. Hembusan angin setiap pulang sekolah seakan bersorak mengucapkan selamat karena berhasil bersabar dalam menerima cibiran negatif orang lain.

Prasangka negatif dari banyak orang lagi-lagi harus diterima sesaat setelah lulus dari bangku perkuliahan. Niat baik untuk membantu sebuah komunitas membuat diri ini terjebak dari segala prasangka buruk. “Saya bersalah” adalah  kata yang ingin dunia berikan pada diri ini. Segala canda gurau yang pernah terjalin terhapus begitu saja hanya karena satu peristiwa yang tidak mengenakan. Keputusan untuk membantu sebuah komunitas dengan menjadi ketua untuk komunitas tersebut mendapat penolakan keras. Segala upaya dan keseriusan sudah dicoba satu persatu berharap mereka mengerti dan mampu memahami. Semakin sadar bahwa mereka sulit mengubah prasangka negatifnya dari diri ini, membuat hati ini sesak. Sesak yang obatnya hanyalah berani jujur kepada Allah SWT. Duduk tersimpuh menangis,  memohon ampun atas segala sikap yang telah melukai banyak hati. Terus dilakukan seusai sholat, namun sesak ini belum juga pergi seluruhnya.  Apa yang salah dengan permohonan maaf dan istigfar ini?

Allah-pun menunjukkan jalan-Nya melalui ceramah Tarawih di Bulan Ramadhan bahwa ada 3 amal yang Allah sembunyikan hadianya. Ketika Allah tidak secara gamblang menunjukkan hadiah atas suatu amalan, pertanda bahwa amalannya sangat besar. Seperti orang tua yang ketika ingin memberikan hadiah ulang tahun mewah nan mahal kepada anaknya, pasti hadiahnya dirahasiakan dari anaknya. Tiga amal tersebut adalah puasa, sabar, dan memaafkan. Ada salah seorang sahabat yang dijamin masuk Syurga  karena memiliki amalan unggulan yaitu sering memaafkan saudaranya sebelum Ia tidur. Isi ceramah tersebut menyadarkan diri ini bahwa selain meminta maaf, kita juga harus memaafkan. Tanpa disadari hati ini terluka karena sikap mereka dan diri ini belum memaafkan diri sendiri dan  mereka. Mencoba membayangi wajah mereka satu per satu sebelum tidur dan mengucapkan, “Saya telah memaafkannya.” Berulang kali hal tersebut dilakukan sampai sesak ini hilang perlahan. Semenjak itu diri ini mulai kembali jelas melihat indahnya pagi, sejuknya sore hari, damainya kehidupan.


Kemenangan bagi diri ini adalah saat kita berhasil melawan hawa nafsu dari hasrat duniawi, bersabar dalam amarah, serta memaafkan

MANISNYA TAWAKKAL


Kita hanya bisa memberikan do’a dan ikhtiar terbaik
Allah yang akan mereaksikanyya di Langit
(Wanda Amelia Rahma)



Umat manusia sudah sewajarnya memiliki impian-impian yang ingin diraihnya selama hidup di dunia.  Impian  yang dapat menjadikan seseorang menjadi lebih bermanfaat dari sebelumnya. Selain itu, impian juga sangat jitu meningkatkan semangat dalam hidup, selalu ada target-target yang ingin dicapai baik dalam jangka pendek atau-pun jangka panjang. Impian akan jauh lebih baik jika tidak hanya di awang-awang saja karena khawatir akan terlupa. Belajar dari orang-orang sukses merealisasikan impiannya, bahwa mereka selalu menulis impian tersebut di atas kertas dan di tempel di bagian dalam kamarnya yang sering dilewati agar terpacu gairah hidupnya setiap hari.   Ada yang mengatakan bahwa hidup itu tenang saja seperti air yang mengalir. Banyak orang yang keliru mengartikan kalimat tersebut. Hidup seperti air yang mengalir bukanlah hidup dengan kepasrahan, melainkan hidup itu perlu tujuan atau targetan yang ingin dicapai. Sejatinya air yang mengalir memiliki tujuan untuk sampai ke hilir.

Selepas merasakan indahnya menjadi wisudawan Universitas Negeri Jakarta pada tanggl 16 Maret 2017, diri ini-pun langsung menatap deretan impian yang masih terpajang di dinding kamar.  Melanjutkan Studi S2 secara gratis melalui beasiswa, begitulah tulisan salah satu impian yang sudah dituliskan sejak duduk di bangku SMA kelas X.

Setelah melihat syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan beasiswa LPDP ( Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) merupakan pemberi beasiswa untuk program Magister dan Doktoral dari Pemerintah Indonesia, diri ini jadi terpacu untuk mencoba mengikuti seleksinya pada tahun 2017. Mencoba meluruskan niat, merancang strategi , dan terus mendekatkan diri kepada Sang Khalik agar diridhoi dan diberikan kelancaran. Banyak pertolongan Allah yang berperan ketika proses seleksi, dimulai dari skore toefl yang mencukupi persayatan LPDP walaupun diri ini belum pernah sama sekali sebelumnya mengikuti tes toefl apalagi belajar di suatu lembaga khusus. Setiap malam berusaha selalu berkabar dan  memohon kepada Allah terkait perkembangan proses seleksi. Hingga akhirnya diri ini sampai pada tahap terakhir. Atas ijin Allah SWT, diri ini bisa lolos seleksi pada tahap 1 dan tahap 2. Kini diri ini harus berjuang ekstra di tahap terakhir yaitu tahap wawancara, penulisan esai on the spot , dan LGD.

Rasa syukur begitu besar diri ini panjatkan kehadirat Allah SWT dimana diijinkan bisa lolos hingga ke tahap 3 serta menyisihkan banyak orang. Seleksi tahap ke-3 ini tentu harus optimal  sebagai wujud syukur pada Sang Ilahi yang  telah memberikan nikmat yang banyak.

Diri ini sudah mempersiapkan segala berkas yang diperlukan H-1 minggu dari waktu wawancara dilakukan. Pada tahap terakhir ini terdapat verifikasi dokumen dimana akan dicocokkan dokumen asli dengan dokume yang di upload. Apabila dokumen tidak sesuai maka peserta dapat didiskualifikasi dan akan di blacklist. Bisa dibilang, diri ini sangat mempersiapkan dengan serapih mungkin, bahkan diri ini menyempatkan untuk survey lokasi seleksi sebelum jadwalnya. Secara tertulis, jadwal untuk verifikasi dokumen adalah pukul 13.45. Karena khawatir terlambat, maka diri ini sudah hadir di lokasi sejak pukul 09.00. Alhamdulillah kondisi ruhiyah kala itu sedang dalam keadaan baik. Tilawah 1 juz sudah terselesaikan, Sholat Dhuha sudah ditunaikan dan amalam yaumiyah lainnya. Ketika sudah masuk waktu untu verifikasi, ternyata berkas toefl yang dibawa tertukar dengan berkas tes TOEP. Pihak LPDP masih memberikan waktu 2 jam untuk membawa berkas toefl yang asli. Estimasi waktu yang diperlukan dari lokasi tes ke wawacara normalnya ialah 4 jam untuk pulang dan pergi. Sedangkan ini, hanya diberi waktu 2 jam saja untuk pulang dan pergi. Atas saran dari penumpang kereta, diri ini tidak melanjutkan transit ke stasiun lainnya karena akan memakan waktu. Alhasil diri ini menuju tukang ojek. Melalui kalimat penawaran yang kece, alhamdulillah akhirnya ada satu tukang ojek yang  bersedia mengantarkan ke kosan dengan waktu 30 menit. Sesampainya di kosan, mata langsung menuju lemari tempat penyimpanan berkas-berkas penting. Qodarullahnya, berkas toefl belum ditemukan bahkan sampai lemari baju dibongkar,  berkas toefl juga belum ditemukan. Duduk dipojok kamar sambil beristigfar memohon ampun dan mencoba ikhlas dan meyakinkan hati bahwa ini sudah takdir Allah yang terbaik untuk hamba. Di tengah istigfar , datang Ibu kos yang ikut membantu mencarikan berkas tersebut. Lagi-lagi pertolongan Allah ada melalui tangan Ibu kos yang berhasil menemukan berkas tersebut. Tanpa berfikir panjang, diri ini langsung melaju kembali menuju lokasi seleksi.

Pukul 16.00 WIB lewat beberapa detik yang menunjukkan bahwa sudah 2 jam lebih beberapa detik diri ini sampai ke lokasi seleksi. Atas ijin Allah, berkas tersebut masih diterima dan diri ini diperkenankan mengikuti tes wawancara. Saat memasuki ruangan wawancara, tersadar bahwa diri ini adalah peserta terakhir yang akan diwawancarai karena insiden tertukasnya berkas toefl dengan toep. Penampilan sudah lusuh dan lemas, namun tetap mencoba tampil prima. Sesekali menarik nafas dan menghembuskannya. Berkata dalam hati bahwa diri ini sudah banyak dibantu oleh Allah SWT dari pintu yang tidak di sangka-sangka, maka diri ini akan memberikan yang terbaik di sesi wawancara sebagai wujud terimakasih dan rasa syukur. Lahaula wala quwwata illa billa.

Proses wawancara berlangsung sangat sengit dengan pihak dosen yang mewawancarai. Akan tetapi Allah beri kelancaran lisan dalam menjawab sehinga jawaban diri ini terlihat sangat meyakinkan. Proses wawancara-pun berhasil dilewati dengan penuh perjuangan.. Walaupun proses seleksi sudah selesai, namun hati sempat merasa khawatir dan  merasa pesimis. Teringat akan beberapa pertanyaan dosen pewawancara yang sangat menjebak, ditambah lagi keterlambatan datang saat wawancara akibat insiden berkas tertukar. Hal-hal itu menjadi andalan syaitan untuk meggoyahkan hati. Alhamdulillah Allah beri hidayah melalui ceramah di media social terkait Tawakkal.

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).

Sesaat sebelum pergi menemani binaan untuk I’tikaf di Masjid  terdapat email masuk dari pihak LPDP yang isi pesannya menunjukkan bahwa diri ini lolos tahap terakhir dan resmi menjadi penerima beasiswa LPDP. Nikmat mana lagi yang mau kamu dustakan??  Sejenak hamba merenungi betapa indahnya Allah memberikan rasa bahagia melalui sebuah rintangan , peristiwa itu benar-benar meyakinkan diri ini bahwa Tawakkal yang kita lakukan pasti akan berbuah manis. Karena kita manusia memiliki kemampuan yang  terbatas, dan hanya Allah yang Berkuasa.


Ketika semuanya dikembalikan  kepada Allah, hati tenang nan bahagia
Sungguh manis buah dari Tawakkal








PANGGILAN JIWA


Ketika pemuda berhasil mereaksikan otak, otot, dan hati karena Allah
Maka lihatlah, akan ada produk berupa amalan besar
Dunia dan akhirat yang  menjadi saksi
(Wanda Amelia Rahma)



Berbicara tentang pemuda, maka berarti kita berbicara tentang sosok manusia yang tidak menjadikan uang sebagai tujuan hidupnya, sosok yang tidak tergiur dengan kenikmatan dunia, sosok yang terus resah melihat kesengsaraan saudara di sekitarnya, sosok pemikir untuk memecahkan masalah sekitar, sosok yang ikhlas berkorban untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Begitu kiranya sosok pemuda yang dengan keteguhannya mampu membuat negara ini merdeka, yang dengan semangatnya membantu dakwah Rasulullah hingga turun ke medan perang. Tentu di tengah jaman serba teknologi ini tak bisa lepas dari peran pemuda. Begitu banyak perubahan-perubahan baru yang pemuda lakukan, namun tidak banyak dari jumlah pemuda tersebut yang mewakafkan dirinya bergerak maju sebagai prajurit / tentara Allah SWT. Pemuda yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya alasan dari segala yang ia upayakan.

Dokter muda berhati mulia yaitu dr. Gamal Albinsaid telah berhasil menunjukkan bahwa tentara Allah itu masih ada dan nyata. Gelar yang diraih sebagai dokter muda tidaklah mampu menghilangkan keresahan hati melihat kondisi kualitas kesehatan masyarakat Indonesia yang masih memprihatinkan. Keputusunnya untuk mengikuti panggilan jiwa tidaklah sia-sia, program “Asuransi Sampah” yang beliau dirikan kini telah dirasakan kebermanfaatannya oleh hampir sebagian besar warga Malang. Berawal dari rasa prihatin melihat berita seorang anak perempuan kecil meninggal di dalam gerobak sampah milik orang tuanya. Ditambah pula masih banyak waega Indonesia yang berpenghasilan sangat minim. Dr Gamal berupaya mencari solusi agar warga bersedia mengalokasikan dana untuk kesehatan namun tetap terjangkau. Maka tercetuslah asuransi sampah yang menggunakan sampai sebagai bayaran asuransi kesehatan .Warga sangat menyambut baik program ini dan  merasakan manfaatnya yang besar.

Pria berstatus dokter magang Rumah Sakit Saiful Anwar di Malang ini, kemudian bergerak bersama Indonesia Medika yang ia dirikan. Ia mengajak kader posyandu, PKK, dan warga untuk bergabung dalam program Klinik Asuransi Sampah. Warga, diajak mengumpulkan sampah dan menyetorkan sampah senilai Rp 10 ribu per bulan untuk mendapatkan berbagai fasilitas kesehatan. Target utamanya, adalah warga kurang mampu yang sebelumnya susah mengakses layanan kesehatan.
Sampah yang berhasil dikumpullkan kemudian diolah, sampah organik menjadi pupuk sementara inorganik dijual pada pengepul. Uang yang terkumpul, masuk dalam kas Dana Sehat yang digunakan untuk pelayanan kesehatan secara menyeluruh, meliputi tindakan promotif (meningkatkan kesehatan, pencegahan, pengobatan hingga rehabilitasi). Meski sempat tutup setelah berjalan enam bulan, lima klinik dengan sistem asuransi sampah ini akhirnya berjalan stabil sejak dibuka kembali pada Maret 2013, bahkan berhasil mengajak 88 relawan, 15 dokter dan 12 perawat untuk bergabung. Tanpa disadari akibat ide kreatif dr. Gamal dalam membangun usaha sosial dalam sektor kesehatan, sudah banyak pihak-pihak penting dalam negeri dan Internasional yang memberikan penghargaan atas kerja keras dr. Gamal dan tim. Anak dari pasangan Eliza Abdat dan Saleh Arofan Albinsaid ini berhasil menyabet penghargaan bergengsi dari pangeran Charles di London, Inggris. Meski telah menerima penghargaan bergengsi, Gamal menyebut ia tak ingin terlena dengan titel ini. “Bagi saya penghargaan itu tidak penting, bahkan berbahaya, bisa merusak keikhlasan,” ujarnya.
Ikhlas menjadi modal awal bagi orang-orang yang meng-azamkan dirinya menjadi tentara Allah di dunia. Layaknya surat Al-Ikhlas, dimana tidak ada satu kata “Ikhlas” di dalam surat Al-Ikhlas itu sendiri. Dr. Gamal yang merupakan lulusan kedokteran Universitas Brawijaya ini bisa saja membuat program-program yang memiliki profit keuangan yang tinggi melihat kapabilitasnya sebagai dokter muda. Tapi panggilan jiwanya lebih dominan menarik hatinya untuk terjun kepada aksi-aksi sosial yang memiliki keuntungan sosial di masyarakat. Tentu tidak mudah melakukan hal tersebut, kita dengan sukarela mengeluarkan tenaga, fikiran, waktu, bahkan uang untuk orang-orang di sekitar kita. Jika bukan karena kedekatannya dengan Allah, mungkin program “Asuransi Sampah” ini tidak bisa semaju ini.

Quran Surat Muhammad Ayat 7

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
Begitulah kiranya yang dilakukan dr. Gamal, ketika ia berniat menjadi tentara Allah di dunia melalui karunia ilmu kedokteran yang dimiliki, maka Allah-pun meneguhkan kedudukan dr. muda tersebut. Banyak masyarakat yang membutuhkan biaya operasi yang besar, dapat dibantu oleh asuransi sampah ini. Do’a dari orang-orang yang sembuh dari penyakit ini terus mengalir sampai akhirat. Terkadang waktu kita terlalu sibuk dan dihabiskan untuk sesuatu yang disayangkan oleh penghuni kubur. Mati-matian melakukan sesuatu yang tidak akan bisa dibawa kealam kubur dan akhirat. Sehingga waktu kita di dunia hanyalah diperbudak oleh harta dan kemewahan dunia.
Hal tersebut sangat memotivasi diri saya pribadi yang sudah berapa kali jatuh dalam menjalakan program-program sosial di bidang pendidikan. Taman bacaan rakyat yang saya dan beberapa tema belum bisa bangkit kembali. Program sosial untuk mengembangkan energi alternatif di pedalama juga belum tereliasasi.. Kegiatan sosial yang besar diperlukan tim solid ayang satu visi misis dengan kita. Namun karena terinspirasi dari dr. Gamal yaitu menjadi tentara Allah dengan kemampuan kita, maka perlahan saya akan mencoba memulainya dari masalah-masalah kecil di lingkungan masyarakat.

-Dunia tidak peduli dengan seberapa kaya kita, seberapa pintar kita, seberapa hebat kita sekarng. Dunia hanya peduli dengan seberapa besar kebermanfaatan diri kita bagi sesama-


Selasa, 13 September 2016

ANTARA SISKOM DAN MAHASISWA BERPRETASI



Bismillahirrahmanirrahim….

Akhir-akhir ini begitu banyak jarkoman terkait SISKOM ( Studi Islam Komprehensif XXV) yang lalu lalang di media sosial. Seketika diri ini jadi termenung, rangkaian memori seakan mundur ke masa dimana diri ini sering dipanggil dengan sebutan MABA (Mahasiswa Baru). Judul artikel ini memang sedikit menggelitik “Antara Siskom dan Mahasiswa Berprestasi?????”  Tapi penulis kali ini sedikit akan membagi kisah, kisah seseorang yang tak diperhitungkan, yang pernah dianggap kuman di tengah lautan, namun memiliki tekad untuk menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat dari sebelumnya. Dari mana tekad itu muncul???????

Amanah yang Allah berikan sebagai Mahasiswa Berprestasi I FMIPA sekaligus MAPRES Terfavorit UNJ 2016 terkadang terus membuat diri ini tertawa. Seakan tak pernah percaya walau peristiwa itu sudah berlalu sekitar 4 bulan yang lalu. Awal masuk kuliah, saat sedang interview beasiswa. Pihak dosen yang melakukan wawancara di kala itu jelas-jelas secara terang-terangan meragukan diri ini bisa bertahan kuliah di jurusan yang kaya akan elektron, proton dan neutron ( Kimia). Alasan beliau karena diri ini sama sekali tidak memiliki sertifikat olimpiade kimia dan sejenisnya. Dosen pertama yang mengajar di kelas-pun menyarankan diri ini  untuk lebih baik daftar menjadi stand up comedy karena gaya presentasi tidak menunjukkan sikap ilmiah, dan terlihat seperti “main-main”.  Tidak hanya pihak interviewer  beasiswa dan dosen yang seakan tak pernah percaya dengan kemampuan yang dimiliki. Banyak pihak yang di kala itu sangat membuat diri ini pesimis untuk bisa bertahan di jurusan yang memiliki senjata berupa 118 unsur kimia.  Mungkin, tidak semuanya bisa di ceritakan pada artikel ini. “Boro-boro” berifkir menjadi Mahasiswa Berprestasi, bisa lulus dari jurusan ini saja sepertinya sudah suatu keajaiban. Belum lagi background sekolah dahulu yang tidak secanggih sekolah di Ibu Kota dan sekitarnya membuat diri semakin minder bukan main.

Posisi yang pesimis akan nasib di kuliah seakan membuat nuansa kampus menjadi membosankan. Entah mengapa tawaran teman dekat untuk ikut SISKOM benar-benar menarik perhatian diri ini. Sempat terlintas dalam hati “ jika tidak bisa menjadi yang dibanggakan di dunia, setidaknya diri ini ingin taat di hadapan Sang Pencipta”. Terlahir bukan dari keluarga yang agamis, saat SMA-pun bukanlah pengurus rohis. Tapi entah kenapa, ajakan dari kaka-kaka tingkat yang penuh kesabaran, penuh dengan senyuman mampu membuat diri ini ikut serta dalam kegiatan SISKOM.  Singkat cerita, di sana begitu banyak rangkaian kegiatan yang mempu memantik semangat hidup. Mulai dari rasa kekeluargaan yang dibangun oleh panitia, berbagai kajian dari pemateri-pemateri kece, outbond gratis, games menarik, tilawah bersama di tengah-tengah nuansa pegunungan yang sejuk, shalat berjamaah, tahajud bersama. MasyaAllah, saat itu lah titik di mana orientasi hidup ini berubah.  Ada satu materi saat itu yang benar-benar menampar diri ini, yang intinya bahwa segala tujuan hidup kita di dunia itu adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Belajar juga ibadah, membantu orang tua juga ibadah, segala sesuatu yang baik yang diniatkan karena Allah adalah ibadah. Jiwa ini langsung terbakar, tanpa sadar diri ini menulis di sebuah catatan kecil bahwa diri ini akan terus belajar sampai maut menjemput untuk menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.

Semangat itu begitu berdampak luar biasa , bukan pada semangat ibadah wajib seperti sholat saja, tapi aktivitas kebaikan lainnya pun satu-per satu mulai dilakukan dengan totalitas. Membagi waktu antara untuk belajar , mengerjakan tugas, berdiskusi, organisasi, ibadah, mentoring, dan aktivitas kebiakan lainnya.  Tujuan diri ini semenjak SISKOM berubah drastis. Dulu, sempat terpatri dalam hati bahwa suatu saat nanti, diri ini ingin sekali mejadi seseorang yang dibanggakan agar orang-orang yang dahulu pernah menghina diri ini bisa terdiam. Tapi ternyata hal itu hanya membuat beban yang semakin berat. Akan tetapi, saat segala sesuatunya diniatkan untuk Allah. Alhamdulillah, pertolongan itu selalu ada bahkan dari sisi –sisi yang tak di sangka. 

Entah bagaimana jadinya diri ini , apabila 3 tahun yang lalu diri ini lebih memilih di rumah dibandingkan pergi bersama-sama untuk mengikuti SISKOM. Barulah diri ini tersadar, bahwa segala sesuatu yang dititipkan kepada diri ini ( termasuk amanah sebagai MAPRES) merupakan kuasa sang ilahi. Konsep hidup berlandaskan Al-Qur’an dan As-shunnah baru diri ini temukan maknanya benar-benar melalui rangkaian kegiatan SISKOM. Wajar diri ini menjadi salah satu mahasiswa yang kecanduan untuk ikut SISKOM.

Khusus untuk panitia SISKOM, ana haturkan terimakasih banyak karena telah merancang acara yang luar biasa sangat berpengaruh untuk kehidupan dunia dan akhirat penulis.



Rabu, 14 Januari 2015

Resensi Film Assalamualaikum Beijing: “Antara Iman dan Cinta”


Sutradara : Guntur Soeharjanto
Produser : Yoen K, Ody Mulya Hidayat
Penulis Naskah : Asma Nadia
Pemain : 
Revalina S. Temat, Morgan Oey, Ibnu Jamil, Laudya Cynthia Bella, Desta, Ollyne Apple, Cynthia Ramlan, Jajang C. Noer.



Film yang telah tayang sejak 30 Desember 2014 ini telah berhasil membuat banjir air mata di studio bioskop setiap harinya bahkan di hari-hari terakhir penayangannya. Film yang kental dengan nuansa asmara-religi ini sarat akan hikmah yang sangat menyentuh hati. Kisah cinta dan Islam dikemas seindah mungkin dalam balutan keimanan. Dimana tema utama dari cerita ini adalah “ ketika Iman bercerita tentang cinta”. Selain itu, alasan penulis meresensi film ini karena ini adalah film pertama selama kuliah di Jakarta yang berhasil disaksikan oleh penulis di Bioskop secara langsung. (Wah..sungguh mengharukan bukan kisah penulis resensi ini?)

Hampir serupa namum tak sama, konflik percintaan dalam karya Asma Nadia masih berpola pada tema sebelumnya yaitu pengkhianatan, perselingkuhan. Film ini diperankan oleh Revalina S.Temat sebagai Asmara. Morgan Oey sebagai Zhongwe, Ibnu Jamil sebagai Dewa, Laudya Cynthia Bella sebagai Sekar, dan Desta sebagai Ridwan.

“Ra”, sapaan Dewa kepada Asmara. Bayang-bayang indah pernikahan seketika sirna dari pandangan Asmara. Dewa dan Asmara memang tengah mempersiapkan acara pernikahannya, namun pengakuan Dewa saat itu benar benar telah berhasil mematahkan hatinya. Patah sepatah  patahnya hingga membuat luka perih jauh dalam hati. Pengakuan Dewa bahwa dirinya telah menghamili Anita, rekan kerjanya. Sungguh tak dapat dimengerti oleh Asmara. Laki-laki yang sempat terbayang dalam benaknya akan menjadi seorang imam yang dapat menuntunnya ke surga ilahi telah mengkhianati kepercayaannya. Wanita manapun tentu akan sedih sesedihnya. Dewa dengan segala pengakuan pahitnya tetap berupaya untuk melanjutkan pernikahannya dengan Asmara. Akan tetapi, Asmara menolak. ”Cinta adalah menjaga, saat seseorang tak mampu menjaga cintanya sendiri, maka tak ada lagi kata cinta”, itulah alasan Asmara sekaligus menjadi kalimat penutup antara Dewa dengan dirinya.

Hari berganti hari, waktu pun kian beralih. Rasa sakit itu kian luntur termakan pusaran waktu. Berkat bantuan sahabatnya, Asmara kini dapat bekerja di Beijing China sebagai penulis kolom berita. Sekar, sahabat terbaik Asmara beserta suaminya “Ridwan” sangat menyambut kedatangannya di China. Sebuah apartemen yang tak jauh letaknya dari apartemen mereka telah dipersiapkan khusus untuk Asmara. “Asma”, sapaan Sekar terhadap Asmara. Sekar sangat menyayangi sahabatnya, ia tak mau awan kesedihan terus mengelilingi Asma.
(Keterangan foto: Ridwan, Sekar, dan Asma)
***
Panorama China memang sangat indah, kental dengan kebudayaannya. Camera pun tak lepas dikalungkan di lehernya, dan apabila melihat hal-hal yang menarik. Jarinya segera tanggap menangkap gambar tersebut. Saat perjalanan pulang, di dalam bus. Asma tak sengaja bertemu dengan pemuda China. Perkenalan pun terjadi tanpa rencana. Zhongwe, ialah nama pemuda tersebut. Zhongwe yang sangat menyukai mitologi ini menyebut Asma dengan sebutan “Ashima”. Ashima merupakan sosok gadis legenda China, ia adalah gadis yang cantik dan hatinya pun cantik. Pertemuan singkat dalam bus tersebut memaksa mereka tak dapat berbincang-bincang terlalu lama. Sebuah buku diberikan dengan terburu –buru oleh Zhongwe. Buku Ashima dalam tulisan full China membuat Asma bingung bagaimana cara mebacanya. Namun Zhongwe berjanji akan menceritakannya apabila mereka bertemu kembali.
(Keterangan foto: Saat Asma dan Zhongwe berkenalan, namun Asma yang seorang muslim tak menyambut uluran tangan Zhongwe sebagai salam perkenalan)

Kisah singkat itu, ia ceritakan pada Sekar. Sekar yang sangat menyukai film korea ini sangat senang berlebihan melihat Asma sudah dapat move on dari luka lamanya.

Semenjak pertemuan di bis tersebut, mereka belum jua bertemu kembali. Walau hati meraka sungguh menginginkan pertemuan itu terjadi. Asma pun tak mau ambil pusing, ia luruskan niatnya kembali ke China untuk bekerja.

Untuk dapat menulis kolom berita China yang berjudul “Assalamualaikum Beijing”, Asma yang ditemani tour guide berniat untuk mengetahui lebih dalam mengenai China. Sosok perempuan China dengan kulit putihnya yang khas sempat membuat Asma kagum heran, karena tour guidenya kali ini mampu  berbahasa Indonesia dengan baik, Sunny namanya. Ternyata seluruh tour guide di China memang pandai menggunakan beragam bahasa. Hal tersebut sangat memudahkan Asma untuk berkomunikasi.

Wanita berjilbab ternyata tak seperti alien di China. Pengguna Jilbab di China pun terbilang cukup banyak, tak hanya Asma dan Sekar. Agama Islam di China disebut dengan “agama yang murni”, agama Islam menjadi salah satu dari lima agama yang diakui di China. Tempat wisata yang ia kunjungi pertama bersama tour guidenya adalah Tembok Raksasa China yang pernah menjadi salah satu keajaiban dunia. Panjang tembok raksasa ini sebesar 6400 km. Tembok ini dibangun diatas nyawa-nyawa yang terbujur kaku. Menurut kepercayaan daerah setempat, orang yang berhasil menaiki tembok raksasa ini kelak akan menjadi orang yang hebat.

 (Keterangan foto: Tembok raksasa China)

***

Entah karena kelelahan kerja dan berwisata, akhir akhir ini Asma seringkali dilanda pusing. Namun seketika pusing itu pun hilang. Seusai Sholat, Asma selalu mengucap syukur atas segala nikmat umur dan sehat yang telah Allah berikan untuk hari ini.

Hari esok pun siap disambut Asma dengan penuh semangat. Perjalanan wisatanya pada hari ini cukup berbeda. Tour guide yang biasa menemaninya ternyata tak bisa hadir pada hari ini karena ibunya sedang sakit. Tour guide penggantinya pun membuat Asma terkejut bahagia. Zhongwe, pemuda yang sudah lama ingin ia temui kembali sudah berada di depan matanya sebagai tour guidenya. Zhongwe berasal dari keluarga yang sederhana di pedesaan terpencil di China. Zhongwe berprofesi sebagai tourguide dengan kemampuan beragam bahasanya, sehingga Zhongwe mampu berbahasa Indonesia dengan baik.

Keterangan foto: Saat Zhongwe sebagai tourguide Asma

Wisata pada hari ini tertuju pada salah satu Masjid yang berada di China. Masjid ini telah dibangun pada 996 tahun yang lalu. Jika kuil menghadap ke selatan, maka Masjid di China menghadap ke Mekkah.



Sesampainya di depan pintu Masjid, Asma mengajak Zhongwe untuk masuk ke dalam Masjid juga. Namun Zhongwe menolak. Disitulah Asma mengetahui bahwa Zhongwe bukanlah pemeluk agama Islam. Zhongwe merupakan pemuda yang mengakui adanya Tuhan, namun masih ragu dengan agamanya. Seusai dari Masjid, Zhongwe pun semakin banyak bertanya terkait Islam, seperti cara bersalaman orang muslimin, mengapa di dunia ini harus ada agama yang pada akhirnya berujung pada perang?

Asma dengan lembut, perlahan demi perlahan mencoba menjelaskan atas pertanyaan Zhongwe. “ Dalam Islam, kaum perempuan memang tidak boleh bersentuhan dengan kaum laki-laki yang bukan mukhrimnya. Sedangkan peperangan bukanlah karena agama, namun karena nafsu manusia itu sendiri. Jika dunia tanpa agama, maka justru akan terjadi perang yang jauhhhhh lebih dahsyat.

Penjelasan Asma kali ini telah membuat Zhongwe terangguk diam seakan menyetujui pendapat Asma. Perjalanan pun dilanjutkan, sesekali Zhongwe sebagai tour guide menerangkan beberapa budaya di China. Salah satunya budaya minum teh. Teh dapat menyeimbangkan yin dan yen dalam tubuh. Dalam kebudayaan China, tradisi menuangkan teh sama saja seperti kita meminta maaf. Menikmati teh tidak akan sama setelah mengetahui tradisi yang sebenarnya.

Ya…Film ini sangatlah bagus, keindahan China benar-benar disuguhkan dengan menakjubkan hingga membuat seluruh penonton tak rela mengedipkan matanya walau hanya satu detik.

Asma diajak kembali mengunjungi tembok raksasa China oleh Zhongwe. Kali ini, Zhongwe menceritakan kisah Ashima dalam buku yang pernah ia berikan untuk Asma ke dalam bahasa Indonesia. Konon pada jaman dahulu kala. Ada seorang gadis yang berparas cantik bernama Ashima, tidak hanya itu, ia juga memiliki hati yang cantik. Inti cerita pada buku tersebut adalah Ashima disukai oleh seorang pemuda miskin bernama Ahe. Namun ada seseorang yang kaya raya yang menjadi penghalang cinta mereka berdua. Sehingga antara Ashima dan Ahe tak dapat bertemu. Ahe pun tetap memperjuangkan Cintanya untuk Ashima. Namun saat puncak perjuangannya, ia melihat Ashima sudah berdiri kaku menjadi patung. Ahe pun hanya bisa melihat Ashima lewat patung tersebut, Ahe tak perlu jawaban balasan cinta dari Ashima. Patung itu menjadi saksi akan cinta mereka.
Begitulah kiranya Zhongwe mentranslate kisah yang ditulis dalam tulisan China ini.


***
Dewa yang ternyata tak mampu melupakan cintanya pada Asma, walaupun ia sudah menikahi Anita dan memiliki satu orang anak yang cantik. Dewa tanpa meminta izin pada istrinya, langsung menyusul Asma ke Beijing. Kehadiran Dewa sungguh mengganggu Asma. Dengan segala rayuan Dewa, mencoba untuk dapat bersama kembali dengan Asma. Asma yang jelas –jelas tak akan kembali padanya, terus saja ia kejar-kejar hingga ke China. Dewa yang merasa ada sesuatu antara Asma dan Zhongwe, merasa kesal. Ia berupaya menarik perhatian Asma, namun hal tersebut percuma. Asma seperti sudah mati rasa terhadap Dewa. Melihat sikap Asma yang tak juga merespon usahanya. Maka Dewa pun kembali ke Jakarta, bukan berarti menyerah, namun ia hanya sejenak memberi waktu pada Asma untuk dapat menerimanya kembali.


***
Kali ini, rasa sakit ini semakin terasa. Kepala seperti sudah mau pecah. Pandangan mata ini pun semakin kabur hingga perlahan hanya terlihat bayangan bayangan dan akhirnya gelap gulita. Asma jatuh sakit dengan fonis penyakit yang berbahaya. Asma mengidap penyakit Sindrom antibodi antifosfolipid (bahasa Inggris:Antiphospholipid antibody syndrom) disingkat APS adalah gangguan pada sistempembekuan darah yang dapat menyebabkan thrombosis pada arteri dan vena serta dapat menyebabkan gangguan pada kehamilanyang berujung pada keguguran. Disebabkan karena produksi antibodi sistem kekebalan tubuh terhadap membran sel. Penyakit ini berhubungan dengan mengentalnya darah secara tiba-tiba dan sewaktu-waktu dapat menyebabkan kematian.

Asma pun segera kembali ke Indonesia untuk mendapat perawatan di sana. Dengan terpaksa, ia membatalkan janjinya dengan Zhongwe untuk pergi ke Yunan melihat patung Ashima. Tak ia beritahu kondisinya saat ini, “ada keperluan keluarga” menjadi alasan Ashima kepada Zhongwe.

Ashima mengalami stroke, ia sulit untuk berjalan. Namun Asma adalah wanita yang kuat dan tangguh. Tak pantang menyerah melawan penyakitnya yang dapat merenggut nyawanya tiap detik. Perawatan demi perawatan ia lalui, dan akhirnya pihak rumah sakit mengizinkannya untuk kembali ke rumah. Betapa senangnya Asma mampu keluar dari rumah sakit yang sangat menjenuhkan itu.

Tak disangka, Sekar yang merupakan sahabat terbaiknya datang ke Indonesia khusus ingin melihat kondisi Asma. Keberadaan teman terbaiknya ini ternyata membuat wajah Asma sedikit tersenyum hingga tak terlalu terlihat pucat. Perbincangan dua sahabat itu akhirnya berujung pada Zhongwe. Asma pun menghentikan harapan sahabatnya untuk dapat menjodohkan dirinya dengan Zhongwe. Ia tak mau membuatnya kecewa dengan keadaannya yang sekarang.

Ulah sekar yang ingin sekali menyatukan mereka berdua. Zhongwe pun tiba di rumah Asma bersama suaminya Sekar, yaitu Ridwan. Asma yang berada di kamarnya mendadak mengeluh tak dapat melihat. Zhongwe dan Ridwan yang baru saja tiba, langsung segera melihat kondisi Asma. Tak diduga, Dewa pun pada hari yang sama datang ke rumah Asma. Mereka semua menyaksikan keadaan Asma yang sudah tak seperti dulu lagi. Kini pandangan mata Asma hanya gelap, dalam kegelapannya yang ia cari kala itu adalah kepastian keberadaan zhongwe di rumahnya. Setelah mendengar suara Zhongwe yang mengucapkan “Assalamualaikum Asma” membuat wajahnya sumringah. Namun tak lama, ia justru jatuh pingsan dan segera di bawa ke rumah sakit. Zhongwe memang sudah mualaf. Sepeninggalan Asma dari Beijing, ia sering bertanya terkait agama kepada imam Masjid. Segala pertanyaanya pun mampu terjawab, dan ia memutuskan untuk memeluk agama Islam. Zhongwe mengagumi sosok Mushab bin Umair, sahabat Rasulullah yang rela melepaskan harta, kedudukan dan kehormatannya saat berhijrah pada agama Islam, dan mati syahid saat berperang melawan kaum musyrikin dalam kondisi kedua tangannya putus ditebas lawan.

Dewa awalnya kecewa, melihat Asma yang tak peduli dengan keberadaannya lagi. Namun Dewa pun mengikhlaskan Asma kepada Zhongwe. Dewa sadar bahwa dirinya dahulu terlalu jahat menyakiti hati Asma, dan tak pantas rasanya kini untuk kedua kalinya ia mengganggu kebahagiaan Asma.

Asma yang masih koma di rumah sakit mendapat banyak doa dari ibunya, sahabat, dan juga Zhongwe. Diam-diam, Zhongwe meminta restu untuk dapat menikahi Asma. “Asma telah menuntunnya untuk menemukan cahaya hidayah, dan kini aku ingin menjadi cahaya dalam kegelapannya yang dapat menuntunnya ke syurga”

Setelah sadar dari koma, pernikahan pun berlangsung. Banyak perubahan baik terjadi pada Asma. Ancaman kebutaan dapat diselamatkan dokter, hanya saja kini Asma tak mampu berbicara. Mereka berdua hijrah ke China untuk bertemu dengan keluarga Zhongwe. Di sana paman dan bibi Zhongwe ternyata seorang muslim juga. Asma mendapat pengobatan tradisional dari keluarganya. Alhamdulillah, kini Asma sudah tak merasakan sakit yang mengancam nyawanya kembali. Obat pahit tradisional China harus ia telan setiap hari, namun Asma tak merasa pahit, karena ada suami yang mau menemaninya dimanapun dan bagaimanapun. Hari-hari dilalui dengan indah dan mereka pun akhirnya dapat melihat patung Ashima bersama-sama. Ahe yang telah menjelma menjadi Zhongwe tak perlu menunggu jawaban cinta dari Asma yang kondisinya kini sudah tak mampu berbicara. Dengan dapat melihatnya setiap hari saja sudah menjadi pembuktian cinta yang hakiki. Hingga akhirnya Asma pun diketahu hamil, nikmat yang Allah berikan kali ini menambah manis perjalanan cinta mereka. Ancaman keguguran karena penyakit yang diderita Asma tak membuat gentar. Mereka yakin anak ini akan setangguh ayah dan ibunya.

Memang benar kata Ridwan (suami Sekar), yang terpenting adalah iman, masalah romantis itu urusan belakangan. Indahnya iman membalut cinta. Cinta hakiki hanyalah milik Allah SWT. Hanya Allah yang mampu membolak balikan hati manusia.

JIka sudah ada cinta yang sempurna, maka untuk apalagi dipertanyakan kesempurnaan fisik?

Sutradara film ini sungguh berhasil menyajikan nuansa islami, cinta, keimanan, budaya, menjadi satu padu. Sehingga film ini memberi beragam kesan bagi para penonton film ini.


-Penulis resensi: Wanda Amelia Rahma-

Nb: Postingan ini adalah kurikulum KOMBUN periode 12-19 Januari 2015 dengan tema "Resensi Film"



Sabtu, 28 Juni 2014

INILAH YANG SEBENARNYA

Pernah terucap kalimat ini kepada mereka, mereka yang selalu menyemangatiku dikala iman sedang terkikis…………..

“Kalian sungguh beruntung, Allah begitu menjaga kalian”.Kataku dengan pelan…

“Tidak  seperti itu, Allah sangat menyayagi setiap hambanya, hanya saja selalu ada ukiran yang berbeda. Begitu juga kau…Kau yang punya cerita lain untuk mendapatkan hidayahnya. Ingatkah kau tentang cerita Umar bin Khotob?? Bagaimanakah Umar sebelum memeluk Islam??”

Tersenyum aku mendengar hal itu. Ya, memang belum ada kata terlambat. Masa lalu seharusnya kujadikan cambukan akan imanku….

Begitu banyak waktu berlalu, berlalu percuma. Sempatku bertanya, “Sekiranya masih cukupkah waktuku yang tersisa tuk tutupi itu semua?”
Ku coba diam, tak sepatahpun berkata, kini biarlah hati yang membuka apa adanya, ku tatap langit, berbicara padanya. Inilah aku yang sebenarnya….
Saat hati mulai bicara, ragakupun menyaksikan ungkapan hati yang terdalam. Dengarkanlah ia………..

Dulu dan kini memang tak sama. Tak peduli suka ataupun tidak. Inilah yang kurasakan. Ini tak menyiksaku, ini tak membebaniku, sedikitpun aku tak menyesal. Orang berkata bahwa ku lari dari kebahagiaan??? Orangpun berkata bahwa ku menyiakannya??

Tersenyum ;)

Meratapiku dengan tatapan aneh, kasihan, malang…huh
Mengapa pandanganmu berbeda sekali dengan relung jiwaku??

Dibalik hujan, kukatakan pada semuanya. Bukan hanya kau ataupun kalian. Tapi kepada semua yang tunduk pada ilahi.
Aku sama sekali tak meninggalkan kebahagiaan, justru aku mengejar kebahagiaan. Aku tidak meniadakan cinta, justru aku sedang membuat cinta itu nyata dan abadi. Aku tak menyiakan yang ada, justru aku sedang berupaya memberikan yang terbaik dengan yang ada.

Dengarkan embun bertasbih, maka kau kan paham ini semua. Tak ada kebahagiaan lain selain saat mengingat Mu ya Robb, saat ku sadar bahwa semua yang ada di sekelilingku adalah yang Engkau kasihi. Tak ada cinta yang sejati dan abadi selain cinta yang Kau berikan untuk hambamu, tak ada yang tersiakan karena ku mencoba menutup semua masa jahiliyahku.
Aku tak pernah meninggalkan cinta, cinta tak pernah mati ataupun padam dalam jiwa ini. Jika kau berikan pilihan untuk pilih dia atau Dia?? Maka pilihlah Dia, agar bisa menuntumu kepada dia. J

Jangan paksaku tuk mengejanya satu persatu. Karena aku bisa tersipu malu.

Hmmm…Ku mencintai kalian karena Alloh


Kamis, 01 Agustus 2013

AKU RINDU


Aku rindu, semakin ku resapi maka rindulah aku setengah mati
Mungkinkah aku bisa bertemu ? Wajah yang sangat meneduhkan,  sekalipun mata ini belum pernah melihat Ia.
Terkadang aku iri dengan Khodijah, iri dengan Fathimah , dan juga Aisyah
Apalah yang ku punya untuk bisa bertemu dengan-Mu. Wahai Kekasih Allah………………….

Serunya Oreo 110th Birthday Celebration Bareng Keluarga di Rumah

  Hal yang paling dirindukan dari seorang anak perempuan yang sudah berumah tangga adalah momen saat bisa kumpul bareng sama orangtua ters...