Bismillah
Hallo guys, ketemu lagi dengan Wanda yang sudah mulai tertarik nulis lagi karena beberapa waktu lalu masih fokus buat penelitian. Hehe. Ini adalah tulisan kedua setelah status berubah jadi istri. MasyaAllah, tak terasa. Allah ijabah do'a hamba yang banyak kurangnya ini di tahun 2020. Rasanya masih seperti mimpi, Allah mampukan diri ini menjadi seorang istri. Mohon do'anya semua semoga Allah hadirkan selalu rasa sakinah, mawaddah, warohmah. Aamiin
Tulisan kali ini kayaknya enggak akan panjang, karena Wanda masih mesti ngerjain gambar interaksi polimer yang digunakan di penelitian tugas akhir. Hehe....
Intinya...mau menasihati diri sendiri lewat tulisan, jikalau bisa kasih manfaat ke orang lain, alhamdulillah banget. Manusia itu memang enggak ada puasnya. Nangis-nangis pengen ini, khusyuk banget do'a pengen itu. Pas udah dikasih, kadang dikeluhin juga dan masih pengen ini itu gara-gara ngeliat orang lain. Seakan-akan udah kaya paling pinter di dunia dan ngerti sama masa depan. Semua yang direncanakan mesti terjadi sesuai rencana awal seakan-akan diri kita yang nyiptain siang dan malam. Astagfirullah. Sering melirik rejeki orang lain dan akhirnya membandingan dengan dirinya. Seringnya kalau udah lihat rejeki yang orang lain dapet, malah baper. Boro-boro ngedoain orang yang dapat rejeki itu untuk berkah, muka malah cemberut terus pusing sendiri gak jelas. Emang gitu ya kalau hati sedang lemah keyakinannya sama Allah. Jadi mudah pusing, stress gak jelas, dan nyusahin diri sendiri. Pagi hari yang indah aja gak kerasa apa-apa. Padahal mata masih dikasih jelas buat ngelihat, kaki tangan masih dikasih kekuatan buat bikin teh manis dan minum teh di pagi hari. Hidung masih bisa bernafas dengan mudah, telinga masih bisa ngedenger tanpa bantuan alat. Hal sepele itu aja belum tuntas untuk disyukuri. Dan sudah minta ini itu, kalau minta doang , fine-fine aja, tapi kalau minta tanpa diiringi rasa tawakkal ya jadinya makin numpuk penyakit hatinya. Astagfirullah...
Kalau udah begini, baiknya kita menepi sejenak. Coba lihatlah hal-hal hebat yang terjadi dalam hidup kita. Kita gali lagi lebih dalam betapa Allah sudah sangat banyak menolong hidup kita. Buka kembali kejadian-kejadian itu. Kalau saya biasanya ingat kejadian waktu SMA dimana ayah saya sakit Tubercolusis. Kondisi kesehatan ayah saya yang jauh bisa memberikan harapan membuat anak yang duduk di bangku SMA ini berdo'a lirih sembari megang hasil rontgen Ayah di pinggir jalan. "Ya Allah, Wanda hanya ingin lihat ayah sembuh, udah itu aja.". Karena kuasa-Nya Allah. Kondisi Ayah yang sudah parah saat itu, bisa kembali Allah sembuhkan. MasyaAllah wal hamdulillah.
Dan kini pun...kisah diri ini bisa bertemu dengan suami-pun sangatlah di luar kekuasaan manusia. Allah begitu hebatnya menyatukan kami diawali dengan taaruf selama 3 bulan, khitbah, lalu menikah. Awalnya karena diminta dosen pembimbing ke Bali untuk menggantikan publikasi penelitian senior di kimia, hingga akhirnya bertemu dengan seorang dosen muda akhwat. Kami akrab dan berkomunikasi, hingga akhirnya beliau memperkenalkan cv laki-laki untuk proses taaruf. Karena takdir Allah, laki-laki itu kini laki-laki yang kusebut dengan kata sapaan "abang", he is my husband. Semuanya terjadi benar-benar karna kekuasaan Allah. MasyaAllah wal hamdulillah.
2 hal hebat itu saja rasanya belum tuntas disyukuri dengan baik, terkadang penyakit hati membuat nafsu semakin menjadi-jadi. Hingga sejuknya angin sore tak mampu menggerakan mulut untuk berdzikir, memuji segala pemberian Allah. Astagfirullah.
Allah yang menguasai langsit dan bumi beserta yang ada di antara keduanya, semua hal berada di genggamman-Nya, teruslah berikhtiar dan berdo'a. Untuk masalah hasil, itu sama sekali bukan tugas kita sebagai yang diciptakan, sama sekali bukan. Manusia tidak tau apa apa terkait masa depan, Allah Maha Tahu. Percayakan pada Dzat yang mengetahui mana yang terbaik untuk kita. Teruslah berikhtiar, dan berdo'a semoga segala ikhtiar kebaikan ini bernilai pahala di sisi Allah SWT. Tidak ada yang sia-sia. Kini, cobalah syukuri dengan benar satu per satu nikmat yang Allah beri. Banyaklah lihat ke bawah, walau sesekali boleh juga melihat ke atas untuk motivasi. Kurangnya syukur hanya menambah debu di kacamata kita, hingga kita semakin sulit melihat indahnya dunia.
tebarkan senyuman, segera beraktifitas kebaikan, semangaaaaaatttttt.
:)
"My Name is Wanda Amelia Rahma" Hidup adalah belajar..Belajar dari Pengalaman dan Kesalahan...so, check this out!
Tampilkan postingan dengan label KISAH MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Rabu, 01 Juli 2020
Sabtu, 21 Maret 2020
BEGINI JADINYA #DIRUMAH AJA
Bismillahirrahmanirrahim
Selamat
malam guys, bro, sist. Semoga yang sedang baca tulisan ini dalam keadaan sehat
wal’afiat dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Aamiin
Tulisan
ini adalah efek dari #dirumahaja, hehe…jadi monggo kalau senggang, bisa dibaca
sampai akhir. Semoga bermanfaat.
Sumber:
https://covid19.kemkes.go.id
Berawal
dari materi ngaji yang sekarang ngajinya online pakai aplikasi karena memang
kami mencoba mengikuti anjuran pemerintah untuk stay aja di rumah. Materi ngaji
yang terus membahas wabah covid 19. Semua mata tertuju pada wabah ini,
khususnya bangsa Indonesia. Tentu dampaknya sangat luar biasa, semua bidang
kena dampaknya. Mungkin temen-temen semua lebih lincah untuk membahas dampak
yang terjadi, minimal dampak pada aktifitas kita. Rasa was-was berserakan
dimana –mana, khawatir, cemas, hingga mungkin ada yang berujung pada stress.
Aktifitas menjadi terbatas, kegiatan perekonomian terganggu, dsb. Selebihnya,
temen-temen pasti lebih lancar menjabarkan kondisi kita terkini.
Tulisan
ini dibuat semata-semata hanya untuk berbagi perasaan yang penulis baru saja
sadari beberapa jam yang lalu, dan segera dieksekusi dalam bentuk tulisan
karena kita tak pernah tau kapan ajal menjemput. Ya kan guys? Jadi begini,
penulis sempat mengalami rasa was-was berlebih karena fenomena ini, kita
ketahui setiap manusia punya rencana-rencana aktiftas baik jangka panjang
maupun jangka pendek. Lalu, tiba-tiba aja ada fenomena ini yang membuat kita
jadi kurang percaya diri untuk menghadapi hari esok. Setiap melihat berita,
malah nambah rasa was-was dan jadi sedikit engap karena jumlah positif covid 19
kian hari makin bertambah, jumlah korban meninggal juga demikian. Bahkan data
terakhir yang saya baca, persentase kematian di Indonesia akibat wabah covid19
ini menduduki peringkat 1. Beberapa pihak bermaksud baik dengan kritikan
tajamnya agar pemerintah bisa efektif dan tegas dalam menangani kasus ini,
beragam pahlawan dari tenaga medis pun standby di garda terdepan untuk terus
berusaha mengobati pasien yang sudah terinfeksi, beragam pihak lainnya yang dengan
segala potensi yang mereka miliki terus mengalirkan bantuan-bantuannya untuk
keselamatan kita bersama. MasyaAllah
Jujur,
diri ini jadi tergerak pengen kaya mereka, khususnya para tenaga medis yang bertarung
nyawa juga di rumah sakit. Penulis tiba-tiba aja mendadak pengen banget jadi
dokter atau perawat, tapi setelah difikir-fikir agak melelahkan juga kalau
harus ulang ambil S1 kedokteran. Ditambah lagi belum juga diterima sih wan
kalau ikut ujian masuknya. Jadi, penulis mengurungkan niat untuk ambil langkah
senekad itu. Dorongan ingin tetap berkontribusi meskipun di rumah-lah yang
akhirnya menghasilkan tulisan sederhana ini.
Kembali
kepada wabah covid 19 yang tengah kita hadapi. Tertegun bingung harus seperti
apa, semua pihak kini sudah nyaris turun gunung semua untuk memberantas mata
rantai penularannya, tapi kondisi hingga kini belum menunjukkan kurva
penurunan. Teringat akan materi dari seorang guru perihal manajemen stress. Semoga
Allah berkahi hidup beliau. Salah satu
cara jitu memanajemen stress adalah belajar melihat ke belakang saat kita mendapat ujian yang
besar, ingat-ingat kembali langkah-langkah yang kita lakukan dulu dan apa
hikmah dari kejadian masa lampau tersebut. Yups, masing-masing dari kita
pastilah pernah mengalami ujian yang besar menurut pribadi kita. Coba kita
ambil lagi hikmah dari kejadian itu dan kita coba terapkan di ujian masa kini.
Dulu, saya pernah nyaris di blacklist dari suatu seleksi beasiswa karena ada
berkas yang tertukar. Secara logika manusia, seharusnya kejadian itu gak
terjadi, karena sudah hampir setiap hari saya selalu ngecheck berkas berkas
tersebut. Tapi…ya balik lagi, kalau Allah enggak kasih teguran berkas tertukar
mungkin saya tanpa sadar akan terus berfikir bahwa segala pencapaian yang saya
dapatkan hingga kini semata-mata karena
usaha keras saja. Saat kejadian itu, singkat cerita seperti ada film
yang berputar di otak penulis dan isinya adalah rangkaian kekhilafan, dosa
selama ini. Spontan minta ampun sama Allah saat itu dan sadar bahwa banyak
kekhilafan dari hati yang tanpa sengaja. Allah begitu baik, di tengah
kepasrahan dan memohon ampun yang benar-benar begitu menyesal, Allah kasih
jalan keluar hingga Alhamdulillah penulis berhasil menyelesaikan masalah itu
dan diijinkan menjadi salah satu penerima beasiswa.
Mungkin
teman-teman yang baca bingung, apa hubungannya covid 19 dengan tragedi
beasiswa? Hehehe…maafin ya. Intinya bahwa, Allah selalu punya pesan di setiap
peristiwa yang diberikan kepada hambanya. Begitulah cara-Nya menyampaikan
pesan, baik itu pesan untuk menegur kita, pesan untuk menambah keilmuan kita,
pesan untuk menguatkan keyakinan kita. Corona virus ini hanyalah media
penyampai pesan, corona virus tetaplah makhluk Allah SWT, ia bergerak pindah
dari satu sel ke sel lain atas seijin Allah. Bukankah tidak ada daun yang jatuh
tanpa ijin dari Allah? Pertanyaanya, apa pesan yang ingin Allah sampaikan. Jika
pesan itu sudah diterima oleh kita sebagai hambanya, maka tidak sulit bagi
Allah untuk mengembalikan kondisi kembali pulih seperti sediakala bukan?
Sungguh mudah bagi Allah, sangat mudah, kelewat mudah bagi Allah. Karena jika
bukan dengan cara seperti ini, agak aneh rasanya jikalau Allah menyampaikan
pesannya lewat suara bergemuruh di langit. Manusia khususnya seperti saya yang
banyak khilafnya ini, tentulah enggak akan kuat mendengar langsung nasihat-Nya
di langit dengan suara bergemuruh. Maka melalui peristiwa, Sang Maha Penyayang
ingin menyampaikan pesan-Nya. Pesan yang bak berlian bagi hambanya yang
beriman, pesan itu lebih kita kenal dengan hikmah nantinya.
Disamping
beragam pihak intelektual bekerja, pemerintah berupaya keras, dan kita sebagai
warga yang dianjurkan dirumah aja. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Bisa
diawali dengan belajar menerima kedatangan wabah ini. Menerima dengan penuh
pemaknaan bahwa pastilah banyak kebaikan dari kejadian ini. Proses hati yang
menerima keadaan ini sangat jitu membuka hati untuk senantiasa bersyukur
kemudian berujung pada rasa sabar yang kian hari makin mahal harganya. “Ya
Allah, saya menerima hadirnya wabah ini, InsyaAllah kami terima”. Katakan
dengan lembut seusai sholat, bisa jadi berujung pada air mata. Hingga akhirnya
tercipta kalimat selanjutnya. “Ampuni kami ya Rabb, kami banyak khilaf, kami
banyak menduakan-Mu, ampuni ya Rabb”. Katakan dengan jujur, sejujur-jujurnya,
begitu dekat jarak kita dengan-Nya. Hingga klimaksnya kita pun memohon, “Sembuhkanlah
saudara kami yang sakit terkena covid
19, pulihkan bangsa ini ya Rabb”. Tanpa sadar tubuh jatuh menuju titik
penghambaan terbaik yaitu saat sujud. Keyakinan itu semakin menguat bahwa Allah
mendengar do’a kita bahkan sudah langsung merespon do’a-do’a kita. Keyakinan itu
semakin muncul bahwa Allah akan menolong kita, mengampuni dosa-dosa kita. Entah
melalui tangan siapa, melalui teknik seperti apa, hingga akhirnya wabah covid
19 ini benar-benar bisa teratasi. Semua kembali ke kondisi yang baik. Aamiin.
Ketika waktu itu tiba, Allah ijabah. Semoga jadi pengingat untuk kita kelak,
bahwa masalah yang kita hadapi mungkin saja sebesar kapal di lautan. Tapi
nikmat yang Allah berikan ternyata seluas lautan itu sendiri.
Penulis
sendiri menyadari dan menyesal, banyak hal yang suka dikeluhkan sebelumnya.
Merasa menjadi orang yang paling punya banyak masalah, merasa paling
dikecewakan, merasa iri dengan pencapaian orang lain, merasa dan perasaan negatif
lainnya. Seakan lupa bahwa Allah setiap detiknya terus menjaga diri kita.
Contoh: kalau kita punya masalah dengan tugas akhir seakan berat sekali, tapi
bukankah Allah kasih kita laptop? Allah kasih kita kuota? Allah kasih banyak
referensi? Allah kasih tubuh kita sehat? Allah kasih banyak hal lainnya. Satu
hal, Allah adalah satu-satunya Zat yang enggak pernah ninggalin kita baik dalam
keadaan senang atau sedih (makna surat Ad-Dhuha). Ini baru dengan virus yang tak kasat mata, dimana
jika imun tubuh kita baik maka virus itu akan lemah dengan sendirinya, dan
sebaliknya barulah bisa terinfeksi. Nah…yang bisa menyetting imun tubuh kita
prima tentu semuanya atas ijin Allah bukan? Belum lagi kalau anak biologi
ngejelasin masalah penyusunan DNA kita, kalau aja urutan DNA nya ada yang
kurang tepat, Allah udah ciptain enzim yang udah standby ngebenerin urutannya
lagi. Jadi sebenarnya mudah aja bagi Allah untuk melemahkan kita, tinggal kasih
arahan ke enzim dalam tubuh kita untuk malas bekerja. Selesai sudah hidup kita. Astagfirullah, terlalu banyak
nikmat yang diabaikan. Belum lagi kalau kita mencapai pencapaian yang besar,
terus tanpa disengaja ada yang merendahkan kita, mendadak kita emosi bukan main
seakan mau menunjukkan bahwa segala pencapaian yang diperoleh itu murni full
hasil kerja keras kita sendiri hingga tanpa disadari berujung pada kesombongan
hingga merusak keikhlasan dari amal yang udah susah payah kita lakukan.
Tulisan
ini ditujukan khusus untuk penulis yang punya potensi melakukan hal-hal yang
Allah tidak sukai. Kita yang #dirumahaja bisa memulai dengan intropeksi diri
kita masing-masing dulu, baik intropeksi perihal pola hidup, intropeksi terkait
hubungan kita kepada Allah SWT. Terkadang segala teknik yang canggih kalah
dengan sujud yang tulus. Dengan melihat ke diri kita dulu, maka kita akan bijak
melihat yang lain.
Meski
#dirumahaja, semoga kita ketemu di dimensi do’a selalu. Kita ramaikan langit.
Semoga para pihak yang berjuang juga Allah lindungi selalu. Aamiin. Yakin,
Allah akan menolong, entah melalui tangan siapa, atau melalui teknik seperti
apa. Yakin seyakin yakinnya, seperti halnya kita yakin kalau malam ini bisa
minum air mineral, atau seyakin kita kalau besok masih bisa bangun pagi, atau
seyakin kita bahwa besok pasti bisa sarapan.
Rabu, 03 Januari 2018
BUKAN MEDALI ATAU PIALA
Kemenangan itu terletak di dalam
Jauh di dalam qolbu
(Wanda
Amelia Rahma)
Hiruk pikuk remaja tidak bisa terlepas dari hingar bingar dunia. Dunia kian berubah mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Dahulu membutuhkan waktu lama untuk sekedar mengirim pesan melalui surat. Kini, ribuan pesan dapat kita kirim dengan cepat dengan biaya yang lebih murah. Belum lagi perkembangan media social yang merajalela mulai dari friendster, facebook, twitter, instagram, telegram dengan segala keunggulan yang memanjakan umat manusia. Mudahnya dalam berkomunikasi turut memperbesar arus masuknya budaya luar tanpa filter yang baik.
Pemuda menjadi
sasaran dari derasnya arus globalisasi. Siapa yang tidak berpegang kuat pada
tali yang hakiki (Allah SWT) maka akan mudah terbawa arus bahkan mati. Diri ini
bisa menjadi saksi fenomena tersebut karena tak dipungkiri penulis pernah
terseret arus kemunafikan. Kemunafikan dengan mengumbar kata-kata bak penyair
cinta, kata-kata yang meningkatkan eksistensi diri dengan membohongi khalayak
ramai.
Dahulu, diri
ini sangat sering membuat status alay hanya
agar mendapat perhatian banyak orang. Status yang dibuat pun sudah seperti
minum obat 3 kali sehari. Setiap peristiwa, di mana-pun dan kapan-pun selalu selfie dan upload.
Parahnya foto yang di upload melanggar batas aurat. Tak jarang
diri ini-pun suka meng-upload video
dengan teman-teman seperguruan alias teman dengan hobi yang sama. Namun semua
itu pernah membuat diri ini cemas bukan main tepatnya saat sinar hidayah itu
mulai datang. Buat apa segala ikhtiar
ibadah yang mulai perlahan ditingkatkan jikalau aurat masih ditebar di
sana-sini. Berkali-kali membuka foto-foto dan video yang pernah di upload . “Duhhhh…..rasanya sayang banget kalau semua
fotonya harus dihapus” ujar diri ini.
Perlu waktu
berminggu-minggu untuk akhirnya memencet tombol DELETE. Semua foto jaman jahiliyah sudah terhapus. Semoga
benar-benar sudah tidak tersisa lagi. Rasanya lega sekali walaupun saat
memencet tombol delete harus sambil
menutup mata. Sejak itu hari terasa lebih ringan dan sejuk. Qalbu terasa
tentram seakan-akan sedang menikmati suatu kemenangan. Kemenangan tanpa piala
dan medali namun sangat menentramkan hati karena berhasil melawan hawa nafsu
duniawi.
Selain
berhasil melawan nafsu duniawi, adapula kemenangan lainnya. Saat cibiran dari
sana-sini mulai berserakan membuat hati panas dan geram. Pernah saat duduk di
bangku SMA, ketika sedang ingin memulai menjadi orang yang baik, diri ini
justru mendapat cibiran negatif. Karena terlewat emosi, diri ini pernah berniat
berhenti menjadi orang baik jikalau yang lain tetap menganggap diri ini negatif.
Apa susahnya jadi orang jahat. Itu hal yang mudah, sehingga impas jahat dibalas dengan kejahatan.
Untung saja
nasihat seorang teman benar-benar menyelamatkan. Katanya dahulu jikalau diri
ini berniat kembali seperti dahulu hanya karena orang di luaran sana berfikiran
negatif dengan perubahan baik kita maka diri kita tidak ada bedanya dengan
mereka. Seandainya menjadi baik itu mudah, mungkin tidak akan ada perang dan
perpecahan. Mendengar nasihatnya, berulang kali diri ini berupaya mengatur
nafas berusaha membuang seluruh emosi berbarengan dengan gas karbondioksida yang
dibuang oleh tubuh. Fokus pada niat awal untuk berubah menjadi lebih baik di
mata Allah, bukan di mata manusia. Karena hanya kekecewaan yang timbul saat
berharap pada manusia. Allah yang akan
membukakan hatiku dan hati mereka. Lagi-lagi berkat kasih sayang Allah, diri yang
penuh dosa ini diijinkan merasakan kemenangan kembali. Kemenangan melawan
amarah. Hembusan angin setiap pulang sekolah seakan bersorak mengucapkan
selamat karena berhasil bersabar dalam menerima cibiran negatif orang lain.
Prasangka negatif
dari banyak orang lagi-lagi harus diterima sesaat setelah lulus dari bangku
perkuliahan. Niat baik untuk membantu sebuah komunitas membuat diri ini
terjebak dari segala prasangka buruk. “Saya bersalah” adalah kata yang ingin dunia berikan pada diri ini.
Segala canda gurau yang pernah terjalin terhapus begitu saja hanya karena satu
peristiwa yang tidak mengenakan. Keputusan untuk membantu sebuah komunitas
dengan menjadi ketua untuk komunitas tersebut mendapat penolakan keras. Segala
upaya dan keseriusan sudah dicoba satu persatu berharap mereka mengerti dan
mampu memahami. Semakin sadar bahwa mereka sulit mengubah prasangka negatifnya
dari diri ini, membuat hati ini sesak. Sesak yang obatnya hanyalah berani jujur
kepada Allah SWT. Duduk tersimpuh menangis, memohon ampun atas segala sikap yang telah
melukai banyak hati. Terus dilakukan seusai sholat, namun sesak ini belum juga
pergi seluruhnya. Apa yang salah dengan
permohonan maaf dan istigfar ini?
Allah-pun
menunjukkan jalan-Nya melalui ceramah Tarawih di Bulan Ramadhan bahwa ada 3
amal yang Allah sembunyikan hadianya. Ketika Allah tidak secara gamblang
menunjukkan hadiah atas suatu amalan, pertanda bahwa amalannya sangat besar.
Seperti orang tua yang ketika ingin memberikan hadiah ulang tahun mewah nan
mahal kepada anaknya, pasti hadiahnya dirahasiakan dari anaknya. Tiga amal
tersebut adalah puasa, sabar, dan memaafkan. Ada salah seorang sahabat yang
dijamin masuk Syurga karena memiliki amalan
unggulan yaitu sering memaafkan saudaranya sebelum Ia tidur. Isi ceramah
tersebut menyadarkan diri ini bahwa selain meminta maaf, kita juga harus
memaafkan. Tanpa disadari hati ini terluka karena sikap mereka dan diri ini
belum memaafkan diri sendiri dan mereka.
Mencoba membayangi wajah mereka satu per satu sebelum tidur dan mengucapkan, “Saya telah memaafkannya.” Berulang kali
hal tersebut dilakukan sampai sesak ini hilang perlahan. Semenjak itu diri ini
mulai kembali jelas melihat indahnya pagi, sejuknya sore hari, damainya
kehidupan.
Kemenangan
bagi diri ini adalah saat kita berhasil melawan hawa nafsu dari hasrat duniawi,
bersabar dalam amarah, serta memaafkan
MANISNYA TAWAKKAL
Kita hanya bisa memberikan do’a
dan ikhtiar terbaik
Allah yang akan mereaksikanyya di
Langit
Umat manusia sudah sewajarnya
memiliki impian-impian yang ingin diraihnya selama hidup di dunia. Impian yang dapat menjadikan seseorang menjadi lebih
bermanfaat dari sebelumnya. Selain itu, impian juga sangat jitu meningkatkan
semangat dalam hidup, selalu ada target-target yang ingin dicapai baik dalam
jangka pendek atau-pun jangka panjang. Impian akan jauh lebih baik jika tidak
hanya di awang-awang saja karena
khawatir akan terlupa. Belajar dari orang-orang sukses merealisasikan
impiannya, bahwa mereka selalu menulis impian tersebut di atas kertas dan di tempel
di bagian dalam kamarnya yang sering dilewati agar terpacu gairah hidupnya
setiap hari. Ada yang mengatakan bahwa
hidup itu tenang saja seperti air yang mengalir. Banyak orang yang keliru
mengartikan kalimat tersebut. Hidup seperti air yang mengalir bukanlah hidup
dengan kepasrahan, melainkan hidup itu perlu tujuan atau targetan yang ingin
dicapai. Sejatinya air yang mengalir memiliki tujuan untuk sampai ke hilir.
Selepas merasakan indahnya
menjadi wisudawan Universitas Negeri Jakarta pada tanggl 16 Maret 2017, diri
ini-pun langsung menatap deretan impian yang masih terpajang di dinding kamar. Melanjutkan Studi S2 secara gratis melalui
beasiswa, begitulah tulisan salah
satu impian yang sudah dituliskan sejak duduk di bangku SMA kelas X.
Setelah melihat syarat-syarat
yang harus dipenuhi untuk mendapatkan beasiswa LPDP ( Lembaga Pengelola Dana
Pendidikan) merupakan pemberi beasiswa untuk program Magister dan Doktoral dari
Pemerintah Indonesia, diri ini jadi terpacu untuk mencoba mengikuti seleksinya
pada tahun 2017. Mencoba meluruskan niat, merancang strategi , dan terus
mendekatkan diri kepada Sang Khalik agar diridhoi dan diberikan kelancaran.
Banyak pertolongan Allah yang berperan ketika proses seleksi, dimulai dari
skore toefl yang mencukupi persayatan LPDP walaupun diri ini belum pernah sama
sekali sebelumnya mengikuti tes toefl apalagi belajar di suatu lembaga khusus.
Setiap malam berusaha selalu berkabar dan memohon kepada Allah terkait perkembangan
proses seleksi. Hingga akhirnya diri ini sampai pada tahap terakhir. Atas ijin
Allah SWT, diri ini bisa lolos seleksi pada tahap 1 dan tahap 2. Kini diri ini
harus berjuang ekstra di tahap terakhir yaitu tahap wawancara, penulisan esai on the spot , dan LGD.
Rasa syukur begitu besar diri ini
panjatkan kehadirat Allah SWT dimana diijinkan bisa lolos hingga ke tahap 3
serta menyisihkan banyak orang. Seleksi tahap ke-3 ini tentu harus optimal sebagai wujud syukur pada Sang Ilahi yang telah memberikan nikmat yang banyak.
Diri ini sudah mempersiapkan
segala berkas yang diperlukan H-1 minggu dari waktu wawancara dilakukan. Pada tahap
terakhir ini terdapat verifikasi dokumen dimana akan dicocokkan dokumen asli
dengan dokume yang di upload. Apabila dokumen tidak sesuai maka peserta dapat
didiskualifikasi dan akan di blacklist.
Bisa dibilang, diri ini sangat mempersiapkan dengan serapih mungkin, bahkan
diri ini menyempatkan untuk survey lokasi seleksi sebelum jadwalnya. Secara
tertulis, jadwal untuk verifikasi dokumen adalah pukul 13.45. Karena khawatir
terlambat, maka diri ini sudah hadir di lokasi sejak pukul 09.00. Alhamdulillah
kondisi ruhiyah kala itu sedang dalam keadaan baik. Tilawah 1 juz sudah
terselesaikan, Sholat Dhuha sudah ditunaikan dan amalam yaumiyah lainnya. Ketika
sudah masuk waktu untu verifikasi, ternyata berkas toefl yang dibawa tertukar
dengan berkas tes TOEP. Pihak LPDP masih memberikan waktu 2 jam untuk membawa
berkas toefl yang asli. Estimasi waktu yang diperlukan dari lokasi tes ke
wawacara normalnya ialah 4 jam untuk pulang dan pergi. Sedangkan ini, hanya
diberi waktu 2 jam saja untuk pulang dan pergi. Atas saran dari penumpang
kereta, diri ini tidak melanjutkan transit ke stasiun lainnya karena akan memakan
waktu. Alhasil diri ini menuju tukang ojek. Melalui kalimat penawaran yang
kece, alhamdulillah akhirnya ada satu tukang ojek yang bersedia mengantarkan ke kosan dengan waktu
30 menit. Sesampainya di kosan, mata langsung menuju lemari tempat penyimpanan
berkas-berkas penting. Qodarullahnya, berkas toefl belum ditemukan bahkan
sampai lemari baju dibongkar, berkas
toefl juga belum ditemukan. Duduk dipojok kamar sambil beristigfar memohon
ampun dan mencoba ikhlas dan meyakinkan hati bahwa ini sudah takdir Allah yang
terbaik untuk hamba. Di tengah istigfar , datang Ibu kos yang ikut membantu
mencarikan berkas tersebut. Lagi-lagi pertolongan Allah ada melalui tangan Ibu
kos yang berhasil menemukan berkas tersebut. Tanpa berfikir panjang, diri ini
langsung melaju kembali menuju lokasi seleksi.
Pukul 16.00 WIB lewat beberapa
detik yang menunjukkan bahwa sudah 2 jam lebih beberapa detik diri ini sampai
ke lokasi seleksi. Atas ijin Allah, berkas tersebut masih diterima dan diri ini
diperkenankan mengikuti tes wawancara. Saat memasuki ruangan wawancara,
tersadar bahwa diri ini adalah peserta terakhir yang akan diwawancarai karena
insiden tertukasnya berkas toefl dengan toep. Penampilan sudah lusuh dan lemas,
namun tetap mencoba tampil prima. Sesekali menarik nafas dan menghembuskannya.
Berkata dalam hati bahwa diri ini sudah banyak dibantu oleh Allah SWT dari
pintu yang tidak di sangka-sangka, maka diri ini akan memberikan yang terbaik
di sesi wawancara sebagai wujud terimakasih dan rasa syukur. Lahaula wala quwwata illa billa.
Proses wawancara berlangsung
sangat sengit dengan pihak dosen yang mewawancarai. Akan tetapi Allah beri
kelancaran lisan dalam menjawab sehinga jawaban diri ini terlihat sangat
meyakinkan. Proses wawancara-pun berhasil dilewati dengan penuh perjuangan..
Walaupun proses seleksi sudah selesai, namun hati sempat merasa khawatir dan merasa pesimis. Teringat akan beberapa pertanyaan
dosen pewawancara yang sangat menjebak, ditambah lagi keterlambatan datang saat
wawancara akibat insiden berkas tertukar. Hal-hal itu menjadi andalan syaitan
untuk meggoyahkan hati. Alhamdulillah Allah beri hidayah melalui ceramah di
media social terkait Tawakkal.
“Barangsiapa yang bertakwa
kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua
urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan
barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala
keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).
Sesaat
sebelum pergi menemani binaan untuk I’tikaf di Masjid terdapat email masuk dari pihak LPDP yang isi
pesannya menunjukkan bahwa diri ini lolos tahap terakhir dan resmi menjadi
penerima beasiswa LPDP. Nikmat mana lagi yang mau kamu dustakan?? Sejenak hamba merenungi betapa indahnya
Allah memberikan rasa bahagia melalui sebuah rintangan , peristiwa itu
benar-benar meyakinkan diri ini bahwa Tawakkal yang kita lakukan pasti akan
berbuah manis. Karena kita manusia memiliki kemampuan yang terbatas, dan hanya Allah yang Berkuasa.
Ketika
semuanya dikembalikan kepada Allah, hati
tenang nan bahagia
Sungguh
manis buah dari Tawakkal
PANGGILAN JIWA
Ketika pemuda berhasil
mereaksikan otak, otot, dan hati karena Allah
Maka lihatlah, akan ada produk
berupa amalan besar
Dunia dan akhirat yang menjadi saksi
(Wanda
Amelia Rahma)
Berbicara tentang pemuda, maka
berarti kita berbicara tentang sosok manusia yang tidak menjadikan uang sebagai
tujuan hidupnya, sosok yang tidak tergiur dengan kenikmatan dunia, sosok yang
terus resah melihat kesengsaraan saudara di sekitarnya, sosok pemikir untuk
memecahkan masalah sekitar, sosok yang ikhlas berkorban untuk membantu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Begitu kiranya sosok pemuda yang dengan
keteguhannya mampu membuat negara ini merdeka, yang dengan semangatnya membantu
dakwah Rasulullah hingga turun ke medan perang. Tentu di tengah jaman serba teknologi
ini tak bisa lepas dari peran pemuda. Begitu banyak perubahan-perubahan baru
yang pemuda lakukan, namun tidak banyak dari jumlah pemuda tersebut yang
mewakafkan dirinya bergerak maju sebagai prajurit / tentara Allah SWT. Pemuda
yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya alasan dari segala yang ia upayakan.
Dokter muda berhati mulia yaitu
dr. Gamal Albinsaid telah berhasil menunjukkan bahwa tentara Allah itu masih
ada dan nyata. Gelar yang diraih sebagai dokter muda tidaklah mampu
menghilangkan keresahan hati melihat kondisi kualitas kesehatan masyarakat
Indonesia yang masih memprihatinkan. Keputusunnya untuk mengikuti panggilan
jiwa tidaklah sia-sia, program “Asuransi Sampah” yang beliau dirikan kini telah
dirasakan kebermanfaatannya oleh hampir sebagian besar warga Malang. Berawal
dari rasa prihatin melihat berita seorang anak perempuan kecil meninggal di
dalam gerobak sampah milik orang tuanya. Ditambah pula masih banyak waega
Indonesia yang berpenghasilan sangat minim. Dr Gamal berupaya mencari solusi
agar warga bersedia mengalokasikan dana untuk kesehatan namun tetap terjangkau.
Maka tercetuslah asuransi sampah yang menggunakan sampai sebagai bayaran
asuransi kesehatan .Warga sangat menyambut baik program ini dan merasakan manfaatnya yang besar.
Pria berstatus
dokter magang Rumah Sakit Saiful Anwar di Malang ini, kemudian bergerak bersama
Indonesia Medika yang ia dirikan. Ia mengajak kader posyandu, PKK, dan warga
untuk bergabung dalam program Klinik Asuransi Sampah. Warga, diajak
mengumpulkan sampah dan menyetorkan sampah senilai Rp 10 ribu per bulan untuk
mendapatkan berbagai fasilitas kesehatan. Target utamanya, adalah warga kurang
mampu yang sebelumnya susah mengakses layanan kesehatan.
Sampah yang
berhasil dikumpullkan kemudian diolah, sampah organik menjadi pupuk sementara
inorganik dijual pada pengepul. Uang yang terkumpul, masuk dalam kas Dana Sehat
yang digunakan untuk pelayanan kesehatan secara menyeluruh, meliputi tindakan
promotif (meningkatkan kesehatan, pencegahan, pengobatan hingga rehabilitasi).
Meski sempat tutup setelah berjalan enam bulan, lima klinik dengan sistem
asuransi sampah ini akhirnya berjalan stabil sejak dibuka kembali pada Maret
2013, bahkan berhasil mengajak 88 relawan, 15 dokter dan 12 perawat untuk
bergabung. Tanpa disadari akibat ide kreatif dr. Gamal dalam membangun usaha
sosial dalam sektor kesehatan, sudah banyak pihak-pihak penting dalam negeri
dan Internasional yang memberikan penghargaan atas kerja keras dr. Gamal dan
tim. Anak dari pasangan Eliza Abdat dan Saleh
Arofan Albinsaid ini berhasil menyabet penghargaan bergengsi dari pangeran
Charles di London, Inggris. Meski telah menerima penghargaan bergengsi, Gamal
menyebut ia tak ingin terlena dengan titel ini. “Bagi saya penghargaan itu
tidak penting, bahkan berbahaya, bisa merusak keikhlasan,” ujarnya.
Ikhlas menjadi modal awal
bagi orang-orang yang meng-azamkan dirinya menjadi tentara Allah di dunia.
Layaknya surat Al-Ikhlas, dimana tidak ada satu kata “Ikhlas” di dalam surat
Al-Ikhlas itu sendiri. Dr. Gamal yang merupakan lulusan kedokteran Universitas
Brawijaya ini bisa saja membuat program-program yang memiliki profit keuangan
yang tinggi melihat kapabilitasnya sebagai dokter muda. Tapi panggilan jiwanya
lebih dominan menarik hatinya untuk terjun kepada aksi-aksi sosial yang
memiliki keuntungan sosial di masyarakat. Tentu tidak mudah melakukan hal
tersebut, kita dengan sukarela mengeluarkan tenaga, fikiran, waktu, bahkan uang
untuk orang-orang di sekitar kita. Jika bukan karena kedekatannya dengan Allah,
mungkin program “Asuransi Sampah” ini tidak bisa semaju ini.
Quran
Surat Muhammad Ayat 7
ÙŠَا
Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ Ø¢َÙ…َÙ†ُوا Ø¥ِÙ†ْ تَÙ†ْصُرُوا اللَّÙ‡َ ÙŠَÙ†ْصُرْÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙŠُØ«َبِّتْ
Ø£َÙ‚ْدَامَÙƒُÙ…ْ
"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
Begitulah
kiranya yang dilakukan dr. Gamal, ketika ia berniat menjadi tentara Allah di
dunia melalui karunia ilmu kedokteran yang dimiliki, maka Allah-pun meneguhkan
kedudukan dr. muda tersebut. Banyak masyarakat yang membutuhkan biaya operasi
yang besar, dapat dibantu oleh asuransi sampah ini. Do’a dari orang-orang yang
sembuh dari penyakit ini terus mengalir sampai akhirat. Terkadang waktu kita
terlalu sibuk dan dihabiskan untuk sesuatu yang disayangkan oleh penghuni
kubur. Mati-matian melakukan sesuatu yang tidak akan bisa dibawa kealam kubur
dan akhirat. Sehingga waktu kita di dunia hanyalah diperbudak oleh harta dan
kemewahan dunia.
Hal
tersebut sangat memotivasi diri saya pribadi yang sudah berapa kali jatuh dalam
menjalakan program-program sosial di bidang pendidikan. Taman bacaan rakyat
yang saya dan beberapa tema belum bisa bangkit kembali. Program sosial untuk
mengembangkan energi alternatif di pedalama juga belum tereliasasi.. Kegiatan
sosial yang besar diperlukan tim solid ayang satu visi misis dengan kita. Namun
karena terinspirasi dari dr. Gamal yaitu menjadi tentara Allah dengan kemampuan
kita, maka perlahan saya akan mencoba memulainya dari masalah-masalah kecil di
lingkungan masyarakat.
-Dunia tidak peduli dengan seberapa kaya kita, seberapa pintar kita,
seberapa hebat kita sekarng. Dunia hanya peduli dengan seberapa besar
kebermanfaatan diri kita bagi sesama-
Minggu, 17 Desember 2017
IMPIAN KE-64 (LPDP)
(Sumber Gambar: http://scontent-sea1-1.cdninstagram.com)
Nikmat mana lagi yang mau kamu dustakan?
Teringat masa-masa sulit ketika
duduk di bangku SMA. Masa di mana diri ini tidak seutuhnya merasakan manisnya
dunia remaja. Gadis yang merasa hidupnya dipermainkan sempat berucap pada alam
semesta, “Wanda hanya ingin Ayah sembuh, sudah itu aja kok, enggak minta yang
lain” do’a-ku spontan saat sudah pesimis melihat kondisi hidup.
Waktu berjalan begitu cepat
hingga tak terasa sudah berapa kerikil dan batuan lainnya yang sudah terlewati.
Gadis yang sebenarnya manja ini hanya tertawa haru saat melihat daftar 201
impian “Wanda Amelia Rahma” yang semakin hari sudah banyak coretan menandakan semakin
banyak yang terwujud. Padahal, dulu hanya minta ayah sembuh saja. Tapi Allah
Maha Baik lagi Maha Penyayang. 201 Impian yang terlihat kurang masuk akal
ini-pun tak luput dari perhatian Allah. Ini semua karena Allah.
“Dapat melanjutkan S2 Ilmu Kimia
melalui beasiswa LPDP tahun 2017” begitulah kiranya kalimat yang tertera dalam
kertas yang menempel di lemari kamar kos. Kalimat tersebut berada di urutan ke-64
dan ditulis saat duduk di duduk di bangku SMA kelas 10 dan direvisi kalimatnya
saat semester 7 di bangku perkuliahan. Gadis yang pernah mengalami kondisi
pilihan kalau tidak bisa kuliah ya berarti kerja, mahasiswa yang pernah mendapatkan
skore terkecil di matakuliah kalkulus, mahasiswa yang sempat diragukan oleh
pihak interviewer apakah akan kuat kuliah S1 jurusan kimia dan diminta pindah
ke fakultas bahasa, dan sederetan kelemahan-kelemahan lainnya yang membuat diri
ini menjadi manusia yang tidak pernah diperhitungkan.
Tapi begitulah kiranya Allah
menolong hambanya yang mau berusaha, yang memiliki niat-niat baik di setiap
impiannya serta bersabar. Tentu yang namanya kesedihan dan masalah akan ditemui
di setiap sudut kehidupan, yang membedakan apakah kita melalui masalah tersebut
dengan Allah atau tanpa Allah. Masalah yang dilalui karena Allah selalu berbuah
manis, memiliki akhir cerita yang indah, dan selalu ada pelangi setelah hujan.
Beberapa postingan berikut ini
akan berbagi cerita terkait proses dari awal hingga akhirnya Allah ijinkan
menjadi bagian dari penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan).
Sejujurnya cerita ini tidak berjalan mulus layaknya jalan tol masa kini, begitu
banyak pertolongan Allah yang hadir di dalamnya. Secara logika dan perhitungan
manusia, diri ini memiliki kemungkinan besar tidak lolos. Akan tetapi, Allah
yang berkuasa. Entah do’a siapa yang berhasil menembus ke langit, mungkin do’a
Ibu, ayah, keluarga bahkan mungkin do’a dari teman-teman.
Penasaran???
Okay, bismillah
Tunggu postingan selanjutnya
Sabtu, 18 Juli 2015
KEBERUNTUNGAN
Teringat pertanyaan salah satu teman SD di media social , waktu itu masih duduk di bangku SMA. ”Wan, kamu ikut OSN
gak???” mau tau jawabanku apa????? (hayooo apa??) hehe… “ OSN itu apa ya?’’
itulah jawabanku L Seandainya waktu bisa di putar, lebih baik aku
diam saja -__- huhuu
Bayanganku pun beralih menuju masa masa di
bangku SMA, apalah aku.. apa OSN?? Hidup ku di kala itu seperti tersekat oleh
banyak sisi. Mungkin ini ratapan alay anak SMA. Seakan tak ada waktu untuk
memikirkan OSN dan semacamnya. Berangkat sekolah, belanja sembako untuk warung,
dan mengurus ayah yang sakit. Fikiranku
selalu terbawa angin meski ragaku berada di sekolah. Sempat aku ditawari oleh
guru kimiaku untuk ikut seleksi lomba.
Aku tak begitu peduli, aku bahkan menolaknya. Apalah arti lomba bagi anak
sepertiku?? Fikirku dahulu, urusan keluarga yang begitu menguras fikiran
membuat fikiran ini sempit bahkan lebih sempit dari pikiran orang yang putus
asa. Seminggu berlalu, kulihat daftar nama di kertas yang tertempel di jendela-jendela
kelas. Ya..itulah daftar nama peserta lolos OSN tingkat SMA ( Olimpiade Sains
Nasional), disitulah pertama kalinya aku tahu apa itu OSN. Hehe…(sungguh
memalukan)-_- sedikit merasa
menyesal…tapi lagi lagi fikiran ini kembali lagi malayang terbawa angin, hal
itu tak begitu kupedulikan lagi.
Kesempatan yang pernah terlewatkan ini seperti
Allah tawarkan kembali di bangku perkuliahan. Sejujurnya, apabila mengukur
kemampuanku sendiri, sungguh malu saat ingin mendaftarkan diri untuk seleksi
pertama OSN. Awalnya hanya karena sebagai perwakilan departemen keilmiahan saja
aku ikut, tapi mengingat evaluasi diri pada peristiwa sebelumnya bahwa segala
sesuatu yang baik harus diniatkan karna Allah semata, ikhlas agar semua terasa
ringan. Ujian seleksi berlalu begitu saja, hati tidak terlalu berdebar seperti
saat mengerjakan ujian termodinamika , hehe
Pengumuman yang tidak aku nanti, kesibukan di
kampus hampir melupakan hal itu. Namun ada pesan di WA “ Selamat kepada Wanda
Amelia Rahma yang berhasil lolos di seleksi pertama OSN Kimia” Sungguh aku tak
percaya, ku coba cek dan ternyata benar aku memanglah lolos walaupun nilaiku
paling kecil diantara yang lolos. Sejujurnya, ini seperti keberuntungan dan aku
terus bersyukur. Begitu banyak teman-temanku yang jauuuhhhh lebih baik dari
diri ini, namun banyak dari mereka yang tidak mendaftarkan diri mereka di ajang
ini. Semua orang punya pilihan, dan aku hargai itu. Saat seleksi kedua, dimana aku bertemu dengan
banyak orang orang perwakilan kampus mereka. MasyaAllah , Maha Besar Allah,
Allah ciptakan makhluk makhluknya dengan akal yang luar biasa. Mereka antusias
mengerjakan soal soal itu. Terkadang aku bukannya mengerjakan soal, tapi malah
bercerita sendiri dalam diamku saat ujian berlangsung, seakan akan aku seorang
psikolog yang sedang membaca karakter mereka. Terkadang aku juga menangis,
bukan karena aku terharu, tapi sedih karena soalnya susah sekali….-_- ( ya
ampun)
Teradang hidup ini lucu, saat persiapan
terlihat nyaris sempurna, namun hasil justru berkebalikan, dan saat biasa-biasa
saja justru keberuntungan menjemput. Jika kau berada di posisi ini, jangan
salahkan keadaan itu. Yang harus kita yakini, bahwa Allah-lah pemilik kendali
kehidupan ini. Kita sebagai manusia hanya bisa memberikan ikhtiar dan do’a
terbaik kita. Selebihnya bukan lagi urusan kita, melainkan urusan sang ilahi
yang merupakan pemilik segala urusan di jagat raya.
:)) Wanda Amelia Rahma
EVALUASI KEKALAHAN ITU PENTING !!!
Assalamu’alaykum
warohmatullahi wabarakatuh
Hai guys…akhi ukhti..
Rindu
rasanya bisa menulis kembali di blog ini. Entah mengapa bibir ini terlalu kelu
untuk bicara pada yang bernyawa. Namun terlalu bebas saat sudah bermain dengan
kata kata…
Teringat,
kurang lebih dua tahun yang lalu. Saat Allah pertama kali memberiku kesempatan
untuk bisa berkompetisi mewakili kampus tercinta di sebuah ajang karya tulis
ilmiah bersama dengan ketua temanku. Seperti di ceritaku sebelumnya, bahwa
Alhamdulillah Allah memberiku pelajaran yang berharga. Aku memang kalah dalam
lomba ini. Tapi teringat dengan kata-kata seseorang. “Orang yang berhasil
bukanlah orang yang benar benar mendapatkan kemenangan, namun ia yang mampu
mengambil hikmah dari segala peristiwa yang dialami”. Ada juga yang mengatakan
bahwa hikmah itu bagai berlian, sesuatu yang mahal harganya dan tak mudah untuk
mendapatkannya. Banyak orang yang memilih jalan lain dibandingkan bersusah
payah mencari hikmah di atas kepedihan hati.
Tulisan
kali ini bukan lagi mendeklarasikan kekalahan waktu itu, hehe..yang lalu
biarlah berlalu. Siapa bilang kekalahan itu tidak membuat sakit?? Sesuatu yang
tidak kita harapkan memanglah membuat hati ini kecewa, tapi saat hati ini sadar
bahwa Allah-lah pemilik hakiki diri ini, maka rasa syukur seharusnya yang kita
rasakan. Jika sudah begitu, maka kekalahan itu akan berubah menjadi “kegagalan
yang bermakna” Benar begitu????
Kami
memang beruntung, ku akui itu. Di semester pertama, abstrak kami lolos dalam
sebuah ajang nasional. Tentu kami bahagia bukan main, seakan sudah mewakili
bangsa Indonesia saja…hehe Berbagai persiapan sudah kami lakukan, bahkan kami
sampai sering nginep di kosan secara bergantian untuk mengerjakan makalah dan
presentasi. Ikhtiar secara duniawi seperti sudah 99% sempurna. Sampai-sampai
saat perjalanan menuju Surabaya, kami masih saja berutat dengan laptop. Hari
itu membuat kami melupakan ujian kalkulus yang sebentar lagi akan mengguncang
dunia..(lebay kali ini anak). Saat tiba
di stasiun terakhir, kami masih berkutat dengan materi presentasi kami.
MasyaAllah..jujur saat itu aku seperti terobsesi tinggi.
Beberapa
menit sebelum kami tampil presentasi, kami sangat ketakutan, hati kami berdebar
luar biasa. Tapi kesalahan fatal yang aku lakukan, aku justru membuat lelucon
yang tidak penting sebelum kami tampil. Maksudku kala itu adalah untuk
mencairkan suasana, namun setelah aku fikir. Kini aku mengerti, banyak
kekhilafan yang aku lakukan. Kegagalan itu memanglah sudah takdir, sudah yang
terbaik untuk kami. Namun, kekhilafan dan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak
aku sadari justru yang membuat langkah ini menjadi kurang berkah. Seharusnya,
aku banyak beristigfar di kala itu, seharusnya aku tak membuat lelucon saat
hati berdebar. Itu menandakan bahwa aku tidak melibatkan Allah di setiap
ikhtiar ku. Astagfirullah…Entah apa yang aku fikir, rasa senang bisa bertemu
dengan teman-teman dari kampus lain malah membuat iman ini melemah. Allah pun
memberikan hasil yang terbaik untuk kami. Coba seandainya aku menang lomba di
kala itu, pastilah tak ada koreksi untuk diri dan selamanya akan seperti ini.
Sungguh aku sangat bersyukur.
Pembelajaran
lain yang diperoleh, dua pemenang utama dalam lomba ini adalah justru 2 tim
yang datang terlambat dan nyaris didiskualifikasi. Mereka bukan datang sengaja
terlambat, tapi ada halangan di perjalanan mereka. Tapi syukurnya, mereka tidak
pantang menyerah hingga akhirnya mereka berhasil tiba di lokasi lomba. Mereka
tertinggal kereta, dan akhirnya harus mencari bis ke arah jawa. Di perjalanan
mereka pun sempat tersesat, dan tinggal beberapa waktu di rumah salah satu
saudara mereka. Sempat salah satu dari mereka putus asa dan memutuskan untuk
kembali ke Jakarta. Tapi iman mereka yang kuat, dan mereka berserah diri pada
Allah dan mereka pun terus maju sebagai tanda syukur mereka, kemenangan pun
berhasil mereka peroleh.
Masya
Allah…peristiwa yang pernah membuat hati ini kecewa justru menyimpan hikmah .
“Saat hasil yang diperoleh terlihat tak sesuai dengan yang
kita harapkan, maka berarti Allah sedang mengajarkan arti keikhlasan kepada
kita. Sudah seharusnya kita melibatkan Allah di setiap langkah kita.”
-Wanda Amelia Rahma-
Selasa, 06 Januari 2015
{ORGANISASI } “TERLALU MANIS UNTUK DILUPAKAN
Termenung jatuh dalam lamunan sepi. Membayangkan segala yang
terjadi (back sound lagu Ari Lasso “segala yang
terjadi dalam hidupku ini adalah sebuah misteri ilahi…na…na…na..na..”) apaan sich Wan -_-
Seperti memutar ulang
perjalanan hidup ini (tiba tiba music mendadak berubah sendiri
menjadi lagu Ebiet G. Ade “perjalanan ini terasa sangat menyedihkan..na.na..na..na…”) Lempar sepatu nih Wan..-_- #maaf
Okay, I will focus !!!
Tak terasa, kurang lebih sudah satu tahun
bersama. Bersama dengan keluarga baruku di kampus tercinta. Keluarga yang
sering kusebut sebagai “Anugrah Ilahi”. Izinkan aku sejenak memutar ulang kembali
mengapa akhirnya aku bisa terperosok ke dalam kisah manis ini. Yups, kisah yang
terlalu manis untuk dilupakan…
# BEMJ Kimia UNJ # Departemen LC Masjid Ulul Albaab
Hari berganti, angin tetap berhembus. Daun
berjatuhan dan cuaca tak menentu. Namun aku masih tetap di sini, berjalan apa
adanya. Tak banyak yang terucap, karena tersimpan rapih dalam hati. Lewat
tulisan ini saja akhirnya aku mampu tuk ungkapkan. Syukurku tiada tara bisa
bertemu dengan kalian..Wahai kesatria BEMJ Kimia UNJ dan LC MUA J
Tak
pernah terfikirkan, terbayangkan apalagi direncanakan. Bahkan mungkin tak ada
sedikit pun niat dalam hati untuk masuk dalam ruang lingkup ini. Ruang lingkup
yang kufikir dahulu hanya mementingkan ketenaran. Yups, organisasi! Dulu, dulu
sekali. Ku fikir mahasiswa mahasiswa yang menekatkan diri masuk dalam lembah
organisasi hanyalah sekumpulan orang
yang banyak bicara tanpa aksi nyata dan manfaat. Pandanganku yang terlalu sinis
terhadap organisasi akhirnya memaksaku untuk terperosok ke dalamnya. Akan
tetapi, yang perlu di garis bawahi “hingga kini aku tak
pernah menyesal terperosok jatuh , justru aku sangat mensyukurinya”. Entah bagaimana cerita hidupku jika saat itu
aku tak terperosok jatuh, mungkin hidup ini hambar bagai sayur tanpa garamnya. Ceilahhhh….
Ingat
sekali, saat awal perkuliahan. Banyak beberapa temanku sudah sangat antusiasme
sekali ingin menjadi anggota BEM dengan beragam alasan yang cukup menarik jika
ingin ditelusuri. Contohnya nih, teman satu kamar kos denganku. Sebut saja dia
Ayu Lestari. “ Wanda, nanti mah Ayu pengen masuk BEM
lah…biar kece dikenal banyak orang gitu. Keren tau Wan…Ikut yuuuk Wan…., bujuk Ayu kala itu.
Rayuan
masuk BEM berulang kali mampir ke telingaku, dengan beragam kalimat yang
membujuk. Tapi jawabanku sangat simple dan sedikit kurang rasional. “ Enggak ikut lah, capek organisasi mah.”
Masih
terekam jelas wajah kecewa dari Ayu. Wajah kecewa yang selalu berhasil
membuatku tak tega hati. Akhirnya sedikit ku perpanjang alasanku “ Udah…Ayu aja yang ikut BEM, nanti kalau Ayu sudah terkenal, Wanda
kan juga bisa nebeng ikut terkenal juga…hahahahahahah” candaan ku kali ini cukup manjur mencairkan
suasana…yipiiiiiiiiiii
Entah,
saat itu hari apa dan tanggal berapa. Pengumuman yang membuatku dilema. “ Wan, udah denger belom? Mahasiswa BidikMisi wajib ikut organisasi
loh..minimal satu periode katanya” info
dari salah satu teman bidikmisi yang satu kelas juga denganku. Ha??? OMG ..Seriously
???????? (gaya bicara menduplikat Cinta Laura)
Jakarta
yang memang sudah panas, jadi tambah semakin panas. Berulang kali gigit jari,
dahi mulai cenat cenut mengkerut, hati dilema bimbang luar binasa. “Argghhh, jilat ludah sendiri namanya huaaaaaaaaa L”
Orang
yang paling keukeuh tidak ingin ikut
BEMJ, akhirnya harus menuliskan namanya di daftar calon anggota BEMJ Kimia.
( keukeuh=
kuat pendiriannya : kamus besar bahasa Sunda)
Namaku
pun berhasil berbaur dengan puluhan nama lainnya yang ikut daftar. Tapi dari
sekian banyak orang yang mendaftar, mungkin hanya diriku saja yang melangkah
tanpa visi misi yang jelas. Ngambang sekali hidupku kala itu. Hmmmmm….
Tlilit…tlilit..tlilit..nada
ada sms masuk dari handphone ku. Panggilan untuk interview dimana setiap calon anggota BEMJ harus memutuskan akan masuk
departemen yang mana. Lagi-lagi dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit.
Memilih akan masuk di departemen mana menjadi pilihan yang sangat sulit bagi
calon anggota yang tidak benar-benar niat masuk ke dalamnya. Sebut saja dia
adalah “aku”. Emang bener -__-
Masa
iya ngitung kancing sih kaya lagi ujian buat milih departemen. Ya kali…..Apa
bikin kocokan kaya dadu? Aduh…makin engga bener nih fikiran. Apa milihnya merem
aja kali ya…. Asal milih takut menyesal,
karena aku harus bertahan selama satu periode bersama departemen itu.
Enggak.enggak..enggak…. kali ini aku enggak moleh main main. Sok bijak emang nih anak.
Entah
dapat ilham seusai sholat atau bagaimana, akhirnya untuk memilih departemen ini
kuputuskan untuk meminta saran Ibu. Ridho orang tua kan ridho Allah, jadi apapun
yang Ibu pilih untuk Wanda, insyaAllah ikhlas. Berkat kerja keras mencari
sekilas info terkait semua departemen BEMJ Kimia dari salah satu blog BEMJ di
internet, kujelaskan semuanya pada Ibuku tersayang. ( tuh kan..jadi kangen ibu, rumah..huaaa ….ini ngetik blognya di
kosan L)
Ibuku
yang sedang repot masak di dapur, bukannya dibantuin…eh anaknya malah
ngeribetin nanya milih departemen. Astagfirullah…..insyaflah kau nak nak….Ibuku
dengan beragam peralatan perang dapur
di tangannya hanya menjawab “ Departemen mana yang paling tidak kamu sukai? Ibu
tidak akan tanya alasannya karena kerjaan Ibu masih banyak….”
Melihat
nada ibuku yang sedikit kesal karena anaknya ngeganggu dan ngeribetin banget di
dapur. Aku pun langsung jawab “ yang paling tidak disukai…hmmm….aduh..apa ya…P2KA
deh bu..”
Beberapa
detik setelah itu, ibuku pun berhasil memutuskan. “ Okay, kalau gitu ibu
restuin kamu di departemen P2KA aja..”
APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA∫∞????????????????????
“ Sudah sana lanjutin
lagi jaga warungnya, kalau di dapur semua nanti ada yang ngambil dagangan loh…” perintah ibuku ini hanya ku balas dengan
anggukan sederhana dengan muka yang tidak jauh beda dengan muka Mr. Bean yang
lagi bengong.
Keadaan
dan kondisi hati saat itu di skip saja {SKIP}
Saatnya interview……………………………….
Ingat sekali, waktu interview calon anggota
BEM di kala itu saat libur seusai semester 1. Saat itu rumahku sedang
kebanjiran. Karena sudah langganan kena banjir, sehingga banjir seakan akan
seperti kumpulan air air yang imut dan unyu unyu yang sedang silaturrahim ke
rumahku. Jadi, halangan dan rintangan itu mampu aku lewati dan akhirnya
berhasil datang ke Kampus. Untung aku masih ada tabungan buat bayar
transportasi yang tidak bisa dibilang murah dari rumahku menuju kampus.
Ku lihat kanan kiri depan belakang atas
bawah, kok jumlah yang interview tidak sebanyak jumlah yang daftar ya???????
Ternyata aku baru tau dari temanku yang juga memilih departemen yang sama
denganku “banyak yang mundur Wan…alasannya
sih kurang tau apa..mungkin cuaca kali ya Wan…” Mendengar penjelasan temanku, tersentak
kaget. Karena cuaca??? Bagaimana denganku yang saat interview rumahku sedang
kebanjiran. Saat di dalam rumah, air sudah sepinggang badanku dan di luar rumah
sudah seperut orang dewasa. Aku pun mendadak diam, duduk dipojokan, termenung. Mengapa
Allah mudahkan kaki ini untuk melangkah ke kampus??? Allah juga masih
menyediakan beberapa uang di tabunganku hingga aku bisa sampai kampus dengan
mudah? Orang tuakupun tumben mengizinkan dengan mudahnya. (karena tau ini syarat bidikmisi heheheheh) . Baru ku teringat bahwa
Allah memudahkan urusan hambanya yang Ia kehendaki. Apakah ini pertanda bahwa
memang Allah meridhoiku untuk langkah ku yang satu ini????? Entahlah….ku coba
lewati masa interview dengan sebaik mungkin.
Benar ya…, ridho orang tua juga ridho Allah.
Aku berhasil diterima menjadi anggota BEMJ di Departemen yang ku pilih. Padahal
banyak teman-temanku yang memilih Departemen yang sama denganku akhirnya harus
terlempar ke Departemen lain. Lagi..lagi..Allah mudahkan segala urusanku.
Pandangan sinisku terhadap organisasi mulai
luntur perlahan. Dengan segala kemudahan yang Allah berikan, mulai ku syukuri
setiap goresan cerita yang terjadi saat bersama mereka semua.
Ku amati beberapa orang diantara mereka…Bukan
ketenaran ternyata. Aku telah salah selama ini. Banyak dari mereka yang sudah
menghibahkan diri mereka hanya untuk berdakwah lewat kepengurusan BEMJ Kimia
ini. MasyaAllah…………..mereka harus putar otak membagi waktu yang saharinya
diberi jatah oleh Allah selama 24 jam untuk mengurusi masalah perkuliahan
dengan bidang dan masalah yang beragam. Jika menginginkan ketenaran tak mungkin
sampai tenaga, pikiran, materi ikut mereka keluarkan dengan ikhlas tanpa beban.
Ternyata semua ini karena Lillah……..
Semangat mereka tak pernah padam oleh waktu.
Dengan segudang tugas perkulihan yang juga sudah menyita waktu mereka, ditambah
urusan urusan organisasi yang pada dasarnya sebagai pelayan mahasiswa lainnya.
Tak pernah sedikit pun mereka singgung terkait gajih atau upah mereka selama
berkontribusi. Bagi mereka, terpenuhinya segala kebutuhan mahasiswa sudah
menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Selalu ada wajah ceria dan candaan
manis di sela-sela ketegangan yang terjadi. Ku selalu membayangkan, senyum yang
mereka tebar selalu diiringi dengan senyuman para malaikat. Allohumma Aamiin.
Ku putar kisah yang sudah terlewati…senang,
kecewa, merasa gagal, emosi, egois, marah, sedih, bingung, stress, bahagia,
puas, bersyukur semua pernah kami rasakan bersama. Keberagaman rasa yang
terjadi tetap terjaga dalam satu wadah kekeluargaan dimana rasa hangat sebuah
keluarga selalu berhasil meredam segala amarah dan merubah kesedihan menjadi
bahagia diiringi syukur. Mulai dari FamDay bersama dengan seluruh anggota BEMJ
Kimia periode 2013/2014, rapat internal departemen, merayakan ulang tahun
bersama, bahu membahu mengadakan suatu kegiatan/acara, ada TEKIM, ISO, KIR,
Chemistry Cup, SPPL, PELIT, MPAJ, PKMJ, donor darah, dan kegiatan-kegiatan
lainnya.
Ku goreskan diriku di dalamnya…ingat sekali
jam terbang pertamaku dalam organisasi adalah sebagai anggota konsumsi dalam
suatu acara. Ya..waktu itu aku hanya kebagian motong motong saja..hehe sempat
ku mencoba sekretaris, bendahara, dan akupun akhirnya menikmati ini semua dan
mencoba kembali menjadi staf acara, koor acara, sempat menjadi staf pendamping,
hpd.
Di akhir kepengurusan ini, aku seperti orang
yang sedang senang-senangnya berlari dan sejenak ku coba duduk di bawah pohon
rindang. Mereview apa yang sudah terjadi. Orang sekeras aku bisa luluh seperti
ini. Bahkan baru ku sadari teman satu kamar kos denganku yang dahulu terus
merayuku untuk masuk BEMJ, justru ia akhirnya memutuskan untuk tidak jadi ikut
sebagai anggota BEMJ. Hidup memang lucu jika kita flashback lagi….Dulu yang
kutolak tawaran BEMJ karena alasan takut capek, justru kini ku nikmati sekali
setiap tetesan keringat yang berhasil keluar dari tubuhku. Keringat ini menandakan
bahwa tubuh ini masih bergerak dan mau terus bergerak untuk mencari makna
kebermanfaatan diri.
Tak bedanya dengan kisahku di departemen
Learning Center Masjid Ulul Albaab. Departemen tersebut ku pilih dengan alasan
karena aku suka mengajar mengaji, padahal departemen tersebut hanya menyediakan
pengajar ngaji bukan sebagai pengajarnya….hahahaha….Aku pun tak menyangka
pengurus akhwat dari departemen LC tersebut adalah kaka tingkat yang pernah
sempat dibuat kesal oleh ku. Ingat sekali saat acara SISKOM di Bogor. Pagi itu,
pihak panitia hanya menyediakan bubur kacang ijo. Aku yang tidak suka dengan
kacang ijo pun berniat meminta izin kepada kaka tersebut untuk ke luar area
villa mencari nasi uduk. Namun kaka tersebut tidak mengizinkan, sebenarnya
sikap kaka itu benar karena khawatir nanti pesertanya hilang jika keluar area.
Namun karena jiwa sering kabur saat SMA belum sembuh total, akupun bersama satu
temanku kabur ke luar villa. Tingkah nakalku yang satu ini pun berhasil
diketahui oleh kaka tersebut. Kulihat ekspresi mukanya sangat kecewa padaku.
Tapi saat interview menjadi anggota LC MUA, wajah kaka tersebut sangat
menyambutku dengan baik dan ramah tanpa mempersoalkan lagi masalah antara aku
dengannya beberapa waktu yang lalu. Namun wajah tak enak hati tak mampu ku
sembunyikan. Aku merasa menjadi manusia yang banyak dosa dan ingin bertobat
dengan masuk dalam oganisasi ini. HUaaaaaaa Kakanya baik sekali. Islam memang
indah nan lembut sekali. Allah memperbaiki hubungan aku dengan kaka tersebut
lewat sebuah organisasi yang tak pernah aku sangka sangka. Aku pun tak tau jika
kaka tersebut merupakan pengurus dari departemen LC MUA. Semua ini terjadi
karena Allah begitu sayang pada hambanya. Allah kenalkan organisasi dengan
nuansa islami kepadaku dengan caraNya yang unik dan mengesankan. Tak hentinya
kuucap syukur. Kisah ini menambah keunikan dari perjalananku mengembara di
bumi. Semoga pengembaraan ini selalu dikelilingi dengan hikmah yang dapat kita
ambil sebagai pembelajaran.
Anugrah Ilahi yang satu ini
memang terlalu manis untuk dilupakan
ORGANISASI
Terimakasih Ya Allah…..
Kau luruskan niatku yang
kurang baik menjadi suatu berkah yang kini tak hentinya ku syukuri.
Kau pertemukan aku dengan
para pejuang pejuang Mu dalam wadah Organisasi
Kau simpulkan senyum manis
mereka untukku
Hingga perjalanan ini
berhasil terlukis indah
Semua ini karena Lillah
Ya Rahman Ya Rahim
Syukurku pada Mu Ya Rabb
Hidup dan Matiku hanya
kembali pada Mu
Langganan:
Postingan (Atom)
Serunya Oreo 110th Birthday Celebration Bareng Keluarga di Rumah
Hal yang paling dirindukan dari seorang anak perempuan yang sudah berumah tangga adalah momen saat bisa kumpul bareng sama orangtua ters...
-
Assalamu’alaikum guys….mendulang kesuksesan pada post sebelumnya mengenai singkatan lucu deret volta. Ternyata banyak banget yang butu...
-
Hal yang paling dirindukan dari seorang anak perempuan yang sudah berumah tangga adalah momen saat bisa kumpul bareng sama orangtua ters...
-
w punya pengalaman yang gak bakal dilupain deh ampe tua nanti....seruuuu abis.... seneng, sedih, lucu, asem, pedes, sepet, kecut,,,ad...







