Tampilkan postingan dengan label KISAH MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Juli 2020

PENGEN INI ITU, HARUS SEKARANG JUGA, PADAHAL SYUKUR-PUN BELUM TUNTAS DITUNAIKAN

Bismillah




Hallo guys, ketemu lagi dengan Wanda yang sudah mulai tertarik nulis lagi karena beberapa waktu lalu masih fokus buat penelitian. Hehe. Ini adalah tulisan kedua setelah status berubah jadi istri. MasyaAllah, tak terasa. Allah ijabah do'a hamba yang banyak kurangnya ini di tahun 2020. Rasanya masih seperti mimpi, Allah mampukan diri ini menjadi seorang istri. Mohon do'anya semua semoga Allah hadirkan selalu rasa sakinah, mawaddah, warohmah. Aamiin

Tulisan kali ini kayaknya enggak akan panjang, karena Wanda masih mesti ngerjain gambar interaksi polimer yang digunakan di penelitian tugas akhir. Hehe....

Intinya...mau menasihati diri sendiri lewat tulisan, jikalau bisa kasih manfaat ke orang lain, alhamdulillah banget. Manusia itu memang enggak ada puasnya. Nangis-nangis pengen ini, khusyuk banget do'a pengen itu. Pas udah dikasih, kadang dikeluhin juga dan masih pengen ini itu gara-gara ngeliat orang lain. Seakan-akan udah kaya paling pinter di dunia dan ngerti sama masa depan. Semua yang direncanakan mesti terjadi sesuai rencana awal seakan-akan diri kita yang nyiptain siang dan malam. Astagfirullah. Sering melirik rejeki orang lain dan akhirnya membandingan dengan dirinya. Seringnya kalau udah lihat rejeki yang orang lain dapet, malah baper. Boro-boro ngedoain orang yang dapat rejeki itu untuk berkah, muka malah cemberut terus pusing sendiri gak jelas. Emang gitu ya kalau hati sedang lemah keyakinannya sama Allah. Jadi mudah pusing, stress gak jelas, dan nyusahin diri sendiri. Pagi hari yang indah aja gak kerasa apa-apa. Padahal mata masih dikasih jelas buat ngelihat, kaki tangan masih dikasih kekuatan buat bikin teh manis dan minum teh di pagi hari. Hidung masih bisa bernafas dengan mudah, telinga masih bisa ngedenger tanpa bantuan alat. Hal sepele itu aja belum tuntas untuk disyukuri. Dan sudah minta ini itu, kalau minta doang , fine-fine aja, tapi kalau minta tanpa diiringi rasa tawakkal ya jadinya makin numpuk penyakit hatinya. Astagfirullah...

Kalau udah begini, baiknya kita menepi sejenak. Coba lihatlah hal-hal hebat yang terjadi dalam hidup kita. Kita gali lagi lebih dalam betapa Allah sudah sangat banyak menolong hidup kita. Buka kembali kejadian-kejadian itu. Kalau saya biasanya ingat kejadian waktu SMA dimana ayah saya sakit Tubercolusis. Kondisi kesehatan ayah saya yang jauh bisa memberikan harapan membuat anak yang duduk di bangku SMA ini berdo'a lirih sembari megang hasil rontgen Ayah di pinggir jalan. "Ya Allah, Wanda hanya ingin lihat ayah sembuh, udah itu aja.". Karena kuasa-Nya Allah. Kondisi Ayah yang sudah parah saat itu, bisa kembali Allah sembuhkan. MasyaAllah wal hamdulillah. 

Dan kini pun...kisah diri ini bisa bertemu dengan suami-pun sangatlah di luar kekuasaan manusia. Allah begitu hebatnya menyatukan kami diawali dengan taaruf selama 3 bulan, khitbah, lalu menikah. Awalnya karena diminta dosen pembimbing ke Bali untuk menggantikan publikasi penelitian senior di kimia, hingga akhirnya bertemu dengan seorang dosen muda akhwat. Kami akrab dan berkomunikasi, hingga akhirnya beliau memperkenalkan cv laki-laki untuk proses taaruf. Karena takdir Allah, laki-laki itu kini laki-laki yang kusebut dengan kata sapaan "abang", he is my husband. Semuanya terjadi benar-benar karna kekuasaan Allah. MasyaAllah wal hamdulillah.

2 hal hebat itu saja rasanya belum tuntas disyukuri dengan baik, terkadang penyakit hati membuat nafsu semakin menjadi-jadi. Hingga sejuknya angin sore tak mampu menggerakan mulut untuk berdzikir, memuji segala pemberian Allah. Astagfirullah.

Allah yang menguasai langsit dan bumi beserta yang ada di antara keduanya, semua hal berada di genggamman-Nya, teruslah berikhtiar dan berdo'a. Untuk masalah hasil, itu sama sekali bukan tugas kita sebagai yang diciptakan, sama sekali bukan. Manusia tidak tau apa apa terkait masa depan, Allah Maha Tahu. Percayakan pada Dzat yang mengetahui mana yang terbaik untuk kita. Teruslah berikhtiar, dan berdo'a semoga segala ikhtiar kebaikan ini bernilai pahala di sisi Allah SWT. Tidak ada yang sia-sia. Kini, cobalah syukuri dengan benar satu per satu nikmat yang Allah beri. Banyaklah lihat ke bawah, walau sesekali boleh juga melihat ke atas untuk motivasi. Kurangnya syukur hanya menambah debu di kacamata kita, hingga kita semakin sulit melihat indahnya dunia. 


tebarkan senyuman, segera beraktifitas kebaikan, semangaaaaaatttttt.

:)

Sabtu, 21 Maret 2020

BEGINI JADINYA #DIRUMAH AJA


Bismillahirrahmanirrahim
Selamat malam guys, bro, sist. Semoga yang sedang baca tulisan ini dalam keadaan sehat wal’afiat dan senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Aamiin

Tulisan ini adalah efek dari #dirumahaja, hehe…jadi monggo kalau senggang, bisa dibaca sampai akhir. Semoga bermanfaat.

Sumber: https://covid19.kemkes.go.id

Berawal dari materi ngaji yang sekarang ngajinya online pakai aplikasi karena memang kami mencoba mengikuti anjuran pemerintah untuk stay aja di rumah. Materi ngaji yang terus membahas wabah covid 19. Semua mata tertuju pada wabah ini, khususnya bangsa Indonesia. Tentu dampaknya sangat luar biasa, semua bidang kena dampaknya. Mungkin temen-temen semua lebih lincah untuk membahas dampak yang terjadi, minimal dampak pada aktifitas kita. Rasa was-was berserakan dimana –mana, khawatir, cemas, hingga mungkin ada yang berujung pada stress. Aktifitas menjadi terbatas, kegiatan perekonomian terganggu, dsb. Selebihnya, temen-temen pasti lebih lancar menjabarkan kondisi kita terkini.

Tulisan ini dibuat semata-semata hanya untuk berbagi perasaan yang penulis baru saja sadari beberapa jam yang lalu, dan segera dieksekusi dalam bentuk tulisan karena kita tak pernah tau kapan ajal menjemput. Ya kan guys? Jadi begini, penulis sempat mengalami rasa was-was berlebih karena fenomena ini, kita ketahui setiap manusia punya rencana-rencana aktiftas baik jangka panjang maupun jangka pendek. Lalu, tiba-tiba aja ada fenomena ini yang membuat kita jadi kurang percaya diri untuk menghadapi hari esok. Setiap melihat berita, malah nambah rasa was-was dan jadi sedikit engap karena jumlah positif covid 19 kian hari makin bertambah, jumlah korban meninggal juga demikian. Bahkan data terakhir yang saya baca, persentase kematian di Indonesia akibat wabah covid19 ini menduduki peringkat 1. Beberapa pihak bermaksud baik dengan kritikan tajamnya agar pemerintah bisa efektif dan tegas dalam menangani kasus ini, beragam pahlawan dari tenaga medis pun standby di garda terdepan untuk terus berusaha mengobati pasien yang sudah terinfeksi, beragam pihak lainnya yang dengan segala potensi yang mereka miliki terus mengalirkan bantuan-bantuannya untuk keselamatan kita bersama. MasyaAllah

Jujur, diri ini jadi tergerak pengen kaya mereka, khususnya para tenaga medis yang bertarung nyawa juga di rumah sakit. Penulis tiba-tiba aja mendadak pengen banget jadi dokter atau perawat, tapi setelah difikir-fikir agak melelahkan juga kalau harus ulang ambil S1 kedokteran. Ditambah lagi belum juga diterima sih wan kalau ikut ujian masuknya. Jadi, penulis mengurungkan niat untuk ambil langkah senekad itu. Dorongan ingin tetap berkontribusi meskipun di rumah-lah yang akhirnya menghasilkan tulisan sederhana ini.

Kembali kepada wabah covid 19 yang tengah kita hadapi. Tertegun bingung harus seperti apa, semua pihak kini sudah nyaris turun gunung semua untuk memberantas mata rantai penularannya, tapi kondisi hingga kini belum menunjukkan kurva penurunan. Teringat akan materi dari seorang guru perihal manajemen stress. Semoga Allah berkahi hidup beliau.  Salah satu cara jitu memanajemen stress adalah belajar melihat  ke belakang saat kita mendapat ujian yang besar, ingat-ingat kembali langkah-langkah yang kita lakukan dulu dan apa hikmah dari kejadian masa lampau tersebut. Yups, masing-masing dari kita pastilah pernah mengalami ujian yang besar menurut pribadi kita. Coba kita ambil lagi hikmah dari kejadian itu dan kita coba terapkan di ujian masa kini. Dulu, saya pernah nyaris di blacklist dari suatu seleksi beasiswa karena ada berkas yang tertukar. Secara logika manusia, seharusnya kejadian itu gak terjadi, karena sudah hampir setiap hari saya selalu ngecheck berkas berkas tersebut. Tapi…ya balik lagi, kalau Allah enggak kasih teguran berkas tertukar mungkin saya tanpa sadar akan terus berfikir bahwa segala pencapaian yang saya dapatkan hingga kini semata-mata karena  usaha keras saja. Saat kejadian itu, singkat cerita seperti ada film yang berputar di otak penulis dan isinya adalah rangkaian kekhilafan, dosa selama ini. Spontan minta ampun sama Allah saat itu dan sadar bahwa banyak kekhilafan dari hati yang tanpa sengaja. Allah begitu baik, di tengah kepasrahan dan memohon ampun yang benar-benar begitu menyesal, Allah kasih jalan keluar hingga Alhamdulillah penulis berhasil menyelesaikan masalah itu dan diijinkan menjadi salah satu penerima beasiswa.

Mungkin teman-teman yang baca bingung, apa hubungannya covid 19 dengan tragedi beasiswa? Hehehe…maafin ya. Intinya bahwa, Allah selalu punya pesan di setiap peristiwa yang diberikan kepada hambanya. Begitulah cara-Nya menyampaikan pesan, baik itu pesan untuk menegur kita, pesan untuk menambah keilmuan kita, pesan untuk menguatkan keyakinan kita. Corona virus ini hanyalah media penyampai pesan, corona virus tetaplah makhluk Allah SWT, ia bergerak pindah dari satu sel ke sel lain atas seijin Allah. Bukankah tidak ada daun yang jatuh tanpa ijin dari Allah? Pertanyaanya, apa pesan yang ingin Allah sampaikan. Jika pesan itu sudah diterima oleh kita sebagai hambanya, maka tidak sulit bagi Allah untuk mengembalikan kondisi kembali pulih seperti sediakala bukan? Sungguh mudah bagi Allah, sangat mudah, kelewat mudah bagi Allah. Karena jika bukan dengan cara seperti ini, agak aneh rasanya jikalau Allah menyampaikan pesannya lewat suara bergemuruh di langit. Manusia khususnya seperti saya yang banyak khilafnya ini, tentulah enggak akan kuat mendengar langsung nasihat-Nya di langit dengan suara bergemuruh. Maka melalui peristiwa, Sang Maha Penyayang ingin menyampaikan pesan-Nya. Pesan yang bak berlian bagi hambanya yang beriman, pesan itu lebih kita kenal dengan hikmah nantinya.

Disamping beragam pihak intelektual bekerja, pemerintah berupaya keras, dan kita sebagai warga yang dianjurkan dirumah aja. Banyak hal yang bisa kita lakukan. Bisa diawali dengan belajar menerima kedatangan wabah ini. Menerima dengan penuh pemaknaan bahwa pastilah banyak kebaikan dari kejadian ini. Proses hati yang menerima keadaan ini sangat jitu membuka hati untuk senantiasa bersyukur kemudian berujung pada rasa sabar yang kian hari makin mahal harganya. “Ya Allah, saya menerima hadirnya wabah ini, InsyaAllah kami terima”. Katakan dengan lembut seusai sholat, bisa jadi berujung pada air mata. Hingga akhirnya tercipta kalimat selanjutnya. “Ampuni kami ya Rabb, kami banyak khilaf, kami banyak menduakan-Mu, ampuni ya Rabb”. Katakan dengan jujur, sejujur-jujurnya, begitu dekat jarak kita dengan-Nya. Hingga klimaksnya kita pun memohon, “Sembuhkanlah saudara  kami yang sakit terkena covid 19, pulihkan bangsa ini ya Rabb”. Tanpa sadar tubuh jatuh menuju titik penghambaan terbaik yaitu saat sujud. Keyakinan itu semakin menguat bahwa Allah mendengar do’a kita bahkan sudah langsung merespon do’a-do’a kita. Keyakinan itu semakin muncul bahwa Allah akan menolong kita, mengampuni dosa-dosa kita. Entah melalui tangan siapa, melalui teknik seperti apa, hingga akhirnya wabah covid 19 ini benar-benar bisa teratasi. Semua kembali ke kondisi yang baik. Aamiin. Ketika waktu itu tiba, Allah ijabah. Semoga jadi pengingat untuk kita kelak, bahwa masalah yang kita hadapi mungkin saja sebesar kapal di lautan. Tapi nikmat yang Allah berikan ternyata seluas lautan itu sendiri.

Penulis sendiri menyadari dan menyesal, banyak hal yang suka dikeluhkan sebelumnya. Merasa menjadi orang yang paling punya banyak masalah, merasa paling dikecewakan, merasa iri dengan pencapaian orang lain, merasa dan perasaan negatif lainnya. Seakan lupa bahwa Allah setiap detiknya terus menjaga diri kita. Contoh: kalau kita punya masalah dengan tugas akhir seakan berat sekali, tapi bukankah Allah kasih kita laptop? Allah kasih kita kuota? Allah kasih banyak referensi? Allah kasih tubuh kita sehat? Allah kasih banyak hal lainnya. Satu hal, Allah adalah satu-satunya Zat yang enggak pernah ninggalin kita baik dalam keadaan senang atau sedih (makna surat Ad-Dhuha).  Ini baru dengan virus yang tak kasat mata, dimana jika imun tubuh kita baik maka virus itu akan lemah dengan sendirinya, dan sebaliknya barulah bisa terinfeksi. Nah…yang bisa menyetting imun tubuh kita prima tentu semuanya atas ijin Allah bukan? Belum lagi kalau anak biologi ngejelasin masalah penyusunan DNA kita, kalau aja urutan DNA nya ada yang kurang tepat, Allah udah ciptain enzim yang udah standby ngebenerin urutannya lagi. Jadi sebenarnya mudah aja bagi Allah untuk melemahkan kita, tinggal kasih arahan ke enzim dalam tubuh kita untuk malas bekerja. Selesai sudah  hidup kita. Astagfirullah, terlalu banyak nikmat yang diabaikan. Belum lagi kalau kita mencapai pencapaian yang besar, terus tanpa disengaja ada yang merendahkan kita, mendadak kita emosi bukan main seakan mau menunjukkan bahwa segala pencapaian yang diperoleh itu murni full hasil kerja keras kita sendiri hingga tanpa disadari berujung pada kesombongan hingga merusak keikhlasan dari amal yang udah susah payah kita lakukan.

Tulisan ini ditujukan khusus untuk penulis yang punya potensi melakukan hal-hal yang Allah tidak sukai. Kita yang #dirumahaja bisa memulai dengan intropeksi diri kita masing-masing dulu, baik intropeksi perihal pola hidup, intropeksi terkait hubungan kita kepada Allah SWT. Terkadang segala teknik yang canggih kalah dengan sujud yang tulus. Dengan melihat ke diri kita dulu, maka kita akan bijak melihat yang lain.

Meski #dirumahaja, semoga kita ketemu di dimensi do’a selalu. Kita ramaikan langit. Semoga para pihak yang berjuang juga Allah lindungi selalu. Aamiin. Yakin, Allah akan menolong, entah melalui tangan siapa, atau melalui teknik seperti apa. Yakin seyakin yakinnya, seperti halnya kita yakin kalau malam ini bisa minum air mineral, atau seyakin kita kalau besok masih bisa bangun pagi, atau seyakin kita bahwa besok pasti bisa sarapan.


Rabu, 03 Januari 2018

BUKAN MEDALI ATAU PIALA


Kemenangan itu terletak di dalam
Jauh di dalam qolbu
(Wanda Amelia Rahma)





Hiruk pikuk remaja tidak bisa terlepas dari hingar bingar dunia. Dunia kian berubah mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Dahulu membutuhkan waktu lama untuk sekedar mengirim pesan melalui surat. Kini, ribuan pesan dapat kita kirim dengan cepat dengan biaya yang lebih murah. Belum lagi perkembangan media social yang merajalela mulai dari friendster, facebook, twitter, instagram, telegram dengan segala keunggulan yang memanjakan umat manusia. Mudahnya dalam berkomunikasi turut memperbesar arus masuknya budaya luar tanpa filter yang baik.

Pemuda menjadi sasaran dari derasnya arus globalisasi. Siapa yang tidak berpegang kuat pada tali yang hakiki (Allah SWT) maka akan mudah terbawa arus bahkan mati. Diri ini bisa menjadi saksi fenomena tersebut karena tak dipungkiri penulis pernah terseret arus kemunafikan. Kemunafikan dengan mengumbar kata-kata bak penyair cinta, kata-kata yang meningkatkan eksistensi diri dengan membohongi khalayak ramai.

Dahulu, diri ini sangat sering membuat status alay hanya agar mendapat perhatian banyak orang. Status yang dibuat pun sudah seperti minum obat 3 kali sehari. Setiap peristiwa, di mana-pun dan kapan-pun selalu selfie dan  upload. Parahnya  foto yang di upload melanggar batas aurat. Tak jarang diri ini-pun suka meng-upload video dengan teman-teman seperguruan alias teman dengan hobi yang sama. Namun semua itu pernah membuat diri ini cemas bukan main tepatnya saat sinar hidayah itu mulai datang. Buat apa segala ikhtiar ibadah yang mulai perlahan ditingkatkan jikalau aurat masih ditebar di sana-sini. Berkali-kali membuka foto-foto dan video yang pernah di upload .  “Duhhhh…..rasanya sayang banget kalau semua fotonya harus dihapus” ujar diri ini.

Perlu waktu berminggu-minggu untuk akhirnya memencet tombol DELETE. Semua foto jaman jahiliyah sudah terhapus. Semoga benar-benar sudah tidak tersisa lagi. Rasanya lega sekali walaupun saat memencet tombol delete harus sambil menutup mata. Sejak itu hari terasa lebih ringan dan sejuk. Qalbu terasa tentram seakan-akan sedang menikmati suatu kemenangan. Kemenangan tanpa piala dan medali namun sangat menentramkan hati karena berhasil melawan hawa nafsu duniawi.

Selain berhasil melawan nafsu duniawi, adapula kemenangan lainnya. Saat cibiran dari sana-sini mulai berserakan membuat hati panas dan geram. Pernah saat duduk di bangku SMA, ketika sedang ingin memulai menjadi orang yang baik, diri ini justru mendapat cibiran negatif. Karena terlewat emosi, diri ini pernah berniat berhenti menjadi orang baik jikalau yang lain tetap menganggap diri ini negatif. Apa susahnya jadi orang jahat. Itu hal yang mudah, sehingga impas jahat dibalas dengan kejahatan.

Untung saja nasihat seorang teman benar-benar menyelamatkan. Katanya dahulu jikalau diri ini berniat kembali seperti dahulu hanya karena orang di luaran sana berfikiran negatif dengan perubahan baik kita maka diri kita tidak ada bedanya dengan mereka. Seandainya menjadi baik itu mudah, mungkin tidak akan ada perang dan perpecahan. Mendengar nasihatnya, berulang kali diri ini berupaya mengatur nafas berusaha membuang seluruh emosi  berbarengan dengan gas karbondioksida yang dibuang oleh tubuh. Fokus pada niat awal untuk berubah menjadi lebih baik di mata Allah, bukan di mata manusia. Karena hanya kekecewaan yang timbul saat berharap pada manusia.  Allah yang akan membukakan hatiku dan hati mereka. Lagi-lagi berkat kasih sayang Allah, diri yang penuh dosa ini diijinkan merasakan kemenangan kembali. Kemenangan melawan amarah. Hembusan angin setiap pulang sekolah seakan bersorak mengucapkan selamat karena berhasil bersabar dalam menerima cibiran negatif orang lain.

Prasangka negatif dari banyak orang lagi-lagi harus diterima sesaat setelah lulus dari bangku perkuliahan. Niat baik untuk membantu sebuah komunitas membuat diri ini terjebak dari segala prasangka buruk. “Saya bersalah” adalah  kata yang ingin dunia berikan pada diri ini. Segala canda gurau yang pernah terjalin terhapus begitu saja hanya karena satu peristiwa yang tidak mengenakan. Keputusan untuk membantu sebuah komunitas dengan menjadi ketua untuk komunitas tersebut mendapat penolakan keras. Segala upaya dan keseriusan sudah dicoba satu persatu berharap mereka mengerti dan mampu memahami. Semakin sadar bahwa mereka sulit mengubah prasangka negatifnya dari diri ini, membuat hati ini sesak. Sesak yang obatnya hanyalah berani jujur kepada Allah SWT. Duduk tersimpuh menangis,  memohon ampun atas segala sikap yang telah melukai banyak hati. Terus dilakukan seusai sholat, namun sesak ini belum juga pergi seluruhnya.  Apa yang salah dengan permohonan maaf dan istigfar ini?

Allah-pun menunjukkan jalan-Nya melalui ceramah Tarawih di Bulan Ramadhan bahwa ada 3 amal yang Allah sembunyikan hadianya. Ketika Allah tidak secara gamblang menunjukkan hadiah atas suatu amalan, pertanda bahwa amalannya sangat besar. Seperti orang tua yang ketika ingin memberikan hadiah ulang tahun mewah nan mahal kepada anaknya, pasti hadiahnya dirahasiakan dari anaknya. Tiga amal tersebut adalah puasa, sabar, dan memaafkan. Ada salah seorang sahabat yang dijamin masuk Syurga  karena memiliki amalan unggulan yaitu sering memaafkan saudaranya sebelum Ia tidur. Isi ceramah tersebut menyadarkan diri ini bahwa selain meminta maaf, kita juga harus memaafkan. Tanpa disadari hati ini terluka karena sikap mereka dan diri ini belum memaafkan diri sendiri dan  mereka. Mencoba membayangi wajah mereka satu per satu sebelum tidur dan mengucapkan, “Saya telah memaafkannya.” Berulang kali hal tersebut dilakukan sampai sesak ini hilang perlahan. Semenjak itu diri ini mulai kembali jelas melihat indahnya pagi, sejuknya sore hari, damainya kehidupan.


Kemenangan bagi diri ini adalah saat kita berhasil melawan hawa nafsu dari hasrat duniawi, bersabar dalam amarah, serta memaafkan

MANISNYA TAWAKKAL


Kita hanya bisa memberikan do’a dan ikhtiar terbaik
Allah yang akan mereaksikanyya di Langit
(Wanda Amelia Rahma)



Umat manusia sudah sewajarnya memiliki impian-impian yang ingin diraihnya selama hidup di dunia.  Impian  yang dapat menjadikan seseorang menjadi lebih bermanfaat dari sebelumnya. Selain itu, impian juga sangat jitu meningkatkan semangat dalam hidup, selalu ada target-target yang ingin dicapai baik dalam jangka pendek atau-pun jangka panjang. Impian akan jauh lebih baik jika tidak hanya di awang-awang saja karena khawatir akan terlupa. Belajar dari orang-orang sukses merealisasikan impiannya, bahwa mereka selalu menulis impian tersebut di atas kertas dan di tempel di bagian dalam kamarnya yang sering dilewati agar terpacu gairah hidupnya setiap hari.   Ada yang mengatakan bahwa hidup itu tenang saja seperti air yang mengalir. Banyak orang yang keliru mengartikan kalimat tersebut. Hidup seperti air yang mengalir bukanlah hidup dengan kepasrahan, melainkan hidup itu perlu tujuan atau targetan yang ingin dicapai. Sejatinya air yang mengalir memiliki tujuan untuk sampai ke hilir.

Selepas merasakan indahnya menjadi wisudawan Universitas Negeri Jakarta pada tanggl 16 Maret 2017, diri ini-pun langsung menatap deretan impian yang masih terpajang di dinding kamar.  Melanjutkan Studi S2 secara gratis melalui beasiswa, begitulah tulisan salah satu impian yang sudah dituliskan sejak duduk di bangku SMA kelas X.

Setelah melihat syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan beasiswa LPDP ( Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) merupakan pemberi beasiswa untuk program Magister dan Doktoral dari Pemerintah Indonesia, diri ini jadi terpacu untuk mencoba mengikuti seleksinya pada tahun 2017. Mencoba meluruskan niat, merancang strategi , dan terus mendekatkan diri kepada Sang Khalik agar diridhoi dan diberikan kelancaran. Banyak pertolongan Allah yang berperan ketika proses seleksi, dimulai dari skore toefl yang mencukupi persayatan LPDP walaupun diri ini belum pernah sama sekali sebelumnya mengikuti tes toefl apalagi belajar di suatu lembaga khusus. Setiap malam berusaha selalu berkabar dan  memohon kepada Allah terkait perkembangan proses seleksi. Hingga akhirnya diri ini sampai pada tahap terakhir. Atas ijin Allah SWT, diri ini bisa lolos seleksi pada tahap 1 dan tahap 2. Kini diri ini harus berjuang ekstra di tahap terakhir yaitu tahap wawancara, penulisan esai on the spot , dan LGD.

Rasa syukur begitu besar diri ini panjatkan kehadirat Allah SWT dimana diijinkan bisa lolos hingga ke tahap 3 serta menyisihkan banyak orang. Seleksi tahap ke-3 ini tentu harus optimal  sebagai wujud syukur pada Sang Ilahi yang  telah memberikan nikmat yang banyak.

Diri ini sudah mempersiapkan segala berkas yang diperlukan H-1 minggu dari waktu wawancara dilakukan. Pada tahap terakhir ini terdapat verifikasi dokumen dimana akan dicocokkan dokumen asli dengan dokume yang di upload. Apabila dokumen tidak sesuai maka peserta dapat didiskualifikasi dan akan di blacklist. Bisa dibilang, diri ini sangat mempersiapkan dengan serapih mungkin, bahkan diri ini menyempatkan untuk survey lokasi seleksi sebelum jadwalnya. Secara tertulis, jadwal untuk verifikasi dokumen adalah pukul 13.45. Karena khawatir terlambat, maka diri ini sudah hadir di lokasi sejak pukul 09.00. Alhamdulillah kondisi ruhiyah kala itu sedang dalam keadaan baik. Tilawah 1 juz sudah terselesaikan, Sholat Dhuha sudah ditunaikan dan amalam yaumiyah lainnya. Ketika sudah masuk waktu untu verifikasi, ternyata berkas toefl yang dibawa tertukar dengan berkas tes TOEP. Pihak LPDP masih memberikan waktu 2 jam untuk membawa berkas toefl yang asli. Estimasi waktu yang diperlukan dari lokasi tes ke wawacara normalnya ialah 4 jam untuk pulang dan pergi. Sedangkan ini, hanya diberi waktu 2 jam saja untuk pulang dan pergi. Atas saran dari penumpang kereta, diri ini tidak melanjutkan transit ke stasiun lainnya karena akan memakan waktu. Alhasil diri ini menuju tukang ojek. Melalui kalimat penawaran yang kece, alhamdulillah akhirnya ada satu tukang ojek yang  bersedia mengantarkan ke kosan dengan waktu 30 menit. Sesampainya di kosan, mata langsung menuju lemari tempat penyimpanan berkas-berkas penting. Qodarullahnya, berkas toefl belum ditemukan bahkan sampai lemari baju dibongkar,  berkas toefl juga belum ditemukan. Duduk dipojok kamar sambil beristigfar memohon ampun dan mencoba ikhlas dan meyakinkan hati bahwa ini sudah takdir Allah yang terbaik untuk hamba. Di tengah istigfar , datang Ibu kos yang ikut membantu mencarikan berkas tersebut. Lagi-lagi pertolongan Allah ada melalui tangan Ibu kos yang berhasil menemukan berkas tersebut. Tanpa berfikir panjang, diri ini langsung melaju kembali menuju lokasi seleksi.

Pukul 16.00 WIB lewat beberapa detik yang menunjukkan bahwa sudah 2 jam lebih beberapa detik diri ini sampai ke lokasi seleksi. Atas ijin Allah, berkas tersebut masih diterima dan diri ini diperkenankan mengikuti tes wawancara. Saat memasuki ruangan wawancara, tersadar bahwa diri ini adalah peserta terakhir yang akan diwawancarai karena insiden tertukasnya berkas toefl dengan toep. Penampilan sudah lusuh dan lemas, namun tetap mencoba tampil prima. Sesekali menarik nafas dan menghembuskannya. Berkata dalam hati bahwa diri ini sudah banyak dibantu oleh Allah SWT dari pintu yang tidak di sangka-sangka, maka diri ini akan memberikan yang terbaik di sesi wawancara sebagai wujud terimakasih dan rasa syukur. Lahaula wala quwwata illa billa.

Proses wawancara berlangsung sangat sengit dengan pihak dosen yang mewawancarai. Akan tetapi Allah beri kelancaran lisan dalam menjawab sehinga jawaban diri ini terlihat sangat meyakinkan. Proses wawancara-pun berhasil dilewati dengan penuh perjuangan.. Walaupun proses seleksi sudah selesai, namun hati sempat merasa khawatir dan  merasa pesimis. Teringat akan beberapa pertanyaan dosen pewawancara yang sangat menjebak, ditambah lagi keterlambatan datang saat wawancara akibat insiden berkas tertukar. Hal-hal itu menjadi andalan syaitan untuk meggoyahkan hati. Alhamdulillah Allah beri hidayah melalui ceramah di media social terkait Tawakkal.

Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan ke luar (bagi semua urusannya). Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (segala keperluan)nya” (QS ath-Thalaaq:2-3).

Sesaat sebelum pergi menemani binaan untuk I’tikaf di Masjid  terdapat email masuk dari pihak LPDP yang isi pesannya menunjukkan bahwa diri ini lolos tahap terakhir dan resmi menjadi penerima beasiswa LPDP. Nikmat mana lagi yang mau kamu dustakan??  Sejenak hamba merenungi betapa indahnya Allah memberikan rasa bahagia melalui sebuah rintangan , peristiwa itu benar-benar meyakinkan diri ini bahwa Tawakkal yang kita lakukan pasti akan berbuah manis. Karena kita manusia memiliki kemampuan yang  terbatas, dan hanya Allah yang Berkuasa.


Ketika semuanya dikembalikan  kepada Allah, hati tenang nan bahagia
Sungguh manis buah dari Tawakkal








PANGGILAN JIWA


Ketika pemuda berhasil mereaksikan otak, otot, dan hati karena Allah
Maka lihatlah, akan ada produk berupa amalan besar
Dunia dan akhirat yang  menjadi saksi
(Wanda Amelia Rahma)



Berbicara tentang pemuda, maka berarti kita berbicara tentang sosok manusia yang tidak menjadikan uang sebagai tujuan hidupnya, sosok yang tidak tergiur dengan kenikmatan dunia, sosok yang terus resah melihat kesengsaraan saudara di sekitarnya, sosok pemikir untuk memecahkan masalah sekitar, sosok yang ikhlas berkorban untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Begitu kiranya sosok pemuda yang dengan keteguhannya mampu membuat negara ini merdeka, yang dengan semangatnya membantu dakwah Rasulullah hingga turun ke medan perang. Tentu di tengah jaman serba teknologi ini tak bisa lepas dari peran pemuda. Begitu banyak perubahan-perubahan baru yang pemuda lakukan, namun tidak banyak dari jumlah pemuda tersebut yang mewakafkan dirinya bergerak maju sebagai prajurit / tentara Allah SWT. Pemuda yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya alasan dari segala yang ia upayakan.

Dokter muda berhati mulia yaitu dr. Gamal Albinsaid telah berhasil menunjukkan bahwa tentara Allah itu masih ada dan nyata. Gelar yang diraih sebagai dokter muda tidaklah mampu menghilangkan keresahan hati melihat kondisi kualitas kesehatan masyarakat Indonesia yang masih memprihatinkan. Keputusunnya untuk mengikuti panggilan jiwa tidaklah sia-sia, program “Asuransi Sampah” yang beliau dirikan kini telah dirasakan kebermanfaatannya oleh hampir sebagian besar warga Malang. Berawal dari rasa prihatin melihat berita seorang anak perempuan kecil meninggal di dalam gerobak sampah milik orang tuanya. Ditambah pula masih banyak waega Indonesia yang berpenghasilan sangat minim. Dr Gamal berupaya mencari solusi agar warga bersedia mengalokasikan dana untuk kesehatan namun tetap terjangkau. Maka tercetuslah asuransi sampah yang menggunakan sampai sebagai bayaran asuransi kesehatan .Warga sangat menyambut baik program ini dan  merasakan manfaatnya yang besar.

Pria berstatus dokter magang Rumah Sakit Saiful Anwar di Malang ini, kemudian bergerak bersama Indonesia Medika yang ia dirikan. Ia mengajak kader posyandu, PKK, dan warga untuk bergabung dalam program Klinik Asuransi Sampah. Warga, diajak mengumpulkan sampah dan menyetorkan sampah senilai Rp 10 ribu per bulan untuk mendapatkan berbagai fasilitas kesehatan. Target utamanya, adalah warga kurang mampu yang sebelumnya susah mengakses layanan kesehatan.
Sampah yang berhasil dikumpullkan kemudian diolah, sampah organik menjadi pupuk sementara inorganik dijual pada pengepul. Uang yang terkumpul, masuk dalam kas Dana Sehat yang digunakan untuk pelayanan kesehatan secara menyeluruh, meliputi tindakan promotif (meningkatkan kesehatan, pencegahan, pengobatan hingga rehabilitasi). Meski sempat tutup setelah berjalan enam bulan, lima klinik dengan sistem asuransi sampah ini akhirnya berjalan stabil sejak dibuka kembali pada Maret 2013, bahkan berhasil mengajak 88 relawan, 15 dokter dan 12 perawat untuk bergabung. Tanpa disadari akibat ide kreatif dr. Gamal dalam membangun usaha sosial dalam sektor kesehatan, sudah banyak pihak-pihak penting dalam negeri dan Internasional yang memberikan penghargaan atas kerja keras dr. Gamal dan tim. Anak dari pasangan Eliza Abdat dan Saleh Arofan Albinsaid ini berhasil menyabet penghargaan bergengsi dari pangeran Charles di London, Inggris. Meski telah menerima penghargaan bergengsi, Gamal menyebut ia tak ingin terlena dengan titel ini. “Bagi saya penghargaan itu tidak penting, bahkan berbahaya, bisa merusak keikhlasan,” ujarnya.
Ikhlas menjadi modal awal bagi orang-orang yang meng-azamkan dirinya menjadi tentara Allah di dunia. Layaknya surat Al-Ikhlas, dimana tidak ada satu kata “Ikhlas” di dalam surat Al-Ikhlas itu sendiri. Dr. Gamal yang merupakan lulusan kedokteran Universitas Brawijaya ini bisa saja membuat program-program yang memiliki profit keuangan yang tinggi melihat kapabilitasnya sebagai dokter muda. Tapi panggilan jiwanya lebih dominan menarik hatinya untuk terjun kepada aksi-aksi sosial yang memiliki keuntungan sosial di masyarakat. Tentu tidak mudah melakukan hal tersebut, kita dengan sukarela mengeluarkan tenaga, fikiran, waktu, bahkan uang untuk orang-orang di sekitar kita. Jika bukan karena kedekatannya dengan Allah, mungkin program “Asuransi Sampah” ini tidak bisa semaju ini.

Quran Surat Muhammad Ayat 7

ÙŠَا Ø£َÙŠُّÙ‡َا الَّذِينَ Ø¢َÙ…َÙ†ُوا Ø¥ِÙ†ْ تَÙ†ْصُرُوا اللَّÙ‡َ ÙŠَÙ†ْصُرْÙƒُÙ…ْ ÙˆَÙŠُØ«َبِّتْ Ø£َÙ‚ْدَامَÙƒُÙ…ْ

"Hai orang-orang mu'min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu."
Begitulah kiranya yang dilakukan dr. Gamal, ketika ia berniat menjadi tentara Allah di dunia melalui karunia ilmu kedokteran yang dimiliki, maka Allah-pun meneguhkan kedudukan dr. muda tersebut. Banyak masyarakat yang membutuhkan biaya operasi yang besar, dapat dibantu oleh asuransi sampah ini. Do’a dari orang-orang yang sembuh dari penyakit ini terus mengalir sampai akhirat. Terkadang waktu kita terlalu sibuk dan dihabiskan untuk sesuatu yang disayangkan oleh penghuni kubur. Mati-matian melakukan sesuatu yang tidak akan bisa dibawa kealam kubur dan akhirat. Sehingga waktu kita di dunia hanyalah diperbudak oleh harta dan kemewahan dunia.
Hal tersebut sangat memotivasi diri saya pribadi yang sudah berapa kali jatuh dalam menjalakan program-program sosial di bidang pendidikan. Taman bacaan rakyat yang saya dan beberapa tema belum bisa bangkit kembali. Program sosial untuk mengembangkan energi alternatif di pedalama juga belum tereliasasi.. Kegiatan sosial yang besar diperlukan tim solid ayang satu visi misis dengan kita. Namun karena terinspirasi dari dr. Gamal yaitu menjadi tentara Allah dengan kemampuan kita, maka perlahan saya akan mencoba memulainya dari masalah-masalah kecil di lingkungan masyarakat.

-Dunia tidak peduli dengan seberapa kaya kita, seberapa pintar kita, seberapa hebat kita sekarng. Dunia hanya peduli dengan seberapa besar kebermanfaatan diri kita bagi sesama-


Minggu, 17 Desember 2017

IMPIAN KE-64 (LPDP)


                  (Sumber Gambar: http://scontent-sea1-1.cdninstagram.com)


Nikmat mana lagi yang mau kamu dustakan?

Teringat masa-masa sulit ketika duduk di bangku SMA. Masa di mana diri ini tidak seutuhnya merasakan manisnya dunia remaja. Gadis yang merasa hidupnya dipermainkan sempat berucap pada alam semesta, “Wanda hanya ingin Ayah sembuh, sudah itu aja kok, enggak minta yang lain” do’a-ku spontan saat sudah pesimis melihat kondisi hidup.

Waktu berjalan begitu cepat hingga tak terasa sudah berapa kerikil dan batuan lainnya yang sudah terlewati. Gadis yang sebenarnya manja ini hanya tertawa haru saat melihat daftar 201 impian “Wanda Amelia Rahma” yang semakin hari sudah banyak coretan menandakan semakin banyak yang terwujud. Padahal, dulu hanya minta ayah sembuh saja. Tapi Allah Maha Baik lagi Maha Penyayang. 201 Impian yang terlihat kurang masuk akal ini-pun tak luput dari perhatian Allah. Ini semua karena Allah.

“Dapat melanjutkan S2 Ilmu Kimia melalui beasiswa LPDP tahun 2017” begitulah kiranya kalimat yang tertera dalam kertas yang menempel di lemari kamar kos. Kalimat tersebut berada di urutan ke-64 dan ditulis saat duduk di duduk di bangku SMA kelas 10 dan direvisi kalimatnya saat semester 7 di bangku perkuliahan. Gadis yang pernah mengalami kondisi pilihan kalau tidak bisa kuliah ya berarti kerja, mahasiswa yang pernah mendapatkan skore terkecil di matakuliah kalkulus, mahasiswa yang sempat diragukan oleh pihak interviewer apakah akan kuat kuliah S1 jurusan kimia dan diminta pindah ke fakultas bahasa, dan sederetan kelemahan-kelemahan lainnya yang membuat diri ini menjadi manusia yang tidak pernah diperhitungkan.

Tapi begitulah kiranya Allah menolong hambanya yang mau berusaha, yang memiliki niat-niat baik di setiap impiannya serta bersabar. Tentu yang namanya kesedihan dan masalah akan ditemui di setiap sudut kehidupan, yang membedakan apakah kita melalui masalah tersebut dengan Allah atau tanpa Allah. Masalah yang dilalui karena Allah selalu berbuah manis, memiliki akhir cerita yang indah, dan selalu ada pelangi setelah hujan.


Beberapa postingan berikut ini akan berbagi cerita terkait proses dari awal hingga akhirnya Allah ijinkan menjadi bagian dari penerima beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan). Sejujurnya cerita ini tidak berjalan mulus layaknya jalan tol masa kini, begitu banyak pertolongan Allah yang hadir di dalamnya. Secara logika dan perhitungan manusia, diri ini memiliki kemungkinan besar tidak lolos. Akan tetapi, Allah yang berkuasa. Entah do’a siapa yang berhasil menembus ke langit, mungkin do’a Ibu, ayah, keluarga bahkan mungkin do’a dari teman-teman.

Penasaran???
Okay, bismillah
Tunggu postingan selanjutnya




Sabtu, 18 Juli 2015

KEBERUNTUNGAN



Teringat pertanyaan salah satu teman SD di media social , waktu itu masih duduk di bangku SMA. ”Wan, kamu ikut OSN gak???” mau tau jawabanku apa????? (hayooo apa??) hehe… “ OSN itu apa ya?’’ itulah jawabanku L Seandainya waktu bisa di putar, lebih baik aku diam saja -__- huhuu

Bayanganku pun beralih menuju masa masa di bangku SMA, apalah aku.. apa OSN?? Hidup ku di kala itu seperti tersekat oleh banyak sisi. Mungkin ini ratapan alay anak SMA. Seakan tak ada waktu untuk memikirkan OSN dan semacamnya. Berangkat sekolah, belanja sembako untuk warung, dan mengurus ayah yang sakit.  Fikiranku selalu terbawa angin meski ragaku berada di sekolah. Sempat aku ditawari oleh guru kimiaku  untuk ikut seleksi lomba. Aku tak begitu peduli, aku bahkan menolaknya. Apalah arti lomba bagi anak sepertiku?? Fikirku dahulu, urusan keluarga yang begitu menguras fikiran membuat fikiran ini sempit bahkan lebih sempit dari pikiran orang yang putus asa. Seminggu berlalu, kulihat daftar nama di kertas yang tertempel di jendela-jendela kelas. Ya..itulah daftar nama peserta lolos OSN tingkat SMA ( Olimpiade Sains Nasional), disitulah pertama kalinya aku tahu apa itu OSN. Hehe…(sungguh memalukan)-_-  sedikit merasa menyesal…tapi lagi lagi fikiran ini kembali lagi malayang terbawa angin, hal itu tak begitu kupedulikan lagi.

Kesempatan yang pernah terlewatkan ini seperti Allah tawarkan kembali di bangku perkuliahan. Sejujurnya, apabila mengukur kemampuanku sendiri, sungguh malu saat ingin mendaftarkan diri untuk seleksi pertama OSN. Awalnya hanya karena sebagai perwakilan departemen keilmiahan saja aku ikut, tapi mengingat evaluasi diri pada peristiwa sebelumnya bahwa segala sesuatu yang baik harus diniatkan karna Allah semata, ikhlas agar semua terasa ringan. Ujian seleksi berlalu begitu saja, hati tidak terlalu berdebar seperti saat mengerjakan ujian termodinamika , hehe

Pengumuman yang tidak aku nanti, kesibukan di kampus hampir melupakan hal itu. Namun ada pesan di WA “ Selamat kepada Wanda Amelia Rahma yang berhasil lolos di seleksi pertama OSN Kimia” Sungguh aku tak percaya, ku coba cek dan ternyata benar aku memanglah lolos walaupun nilaiku paling kecil diantara yang lolos. Sejujurnya, ini seperti keberuntungan dan aku terus bersyukur. Begitu banyak teman-temanku yang jauuuhhhh lebih baik dari diri ini, namun banyak dari mereka yang tidak mendaftarkan diri mereka di ajang ini. Semua orang punya pilihan, dan aku hargai itu.  Saat seleksi kedua, dimana aku bertemu dengan banyak orang orang perwakilan kampus mereka. MasyaAllah , Maha Besar Allah, Allah ciptakan makhluk makhluknya dengan akal yang luar biasa. Mereka antusias mengerjakan soal soal itu. Terkadang aku bukannya mengerjakan soal, tapi malah bercerita sendiri dalam diamku saat ujian berlangsung, seakan akan aku seorang psikolog yang sedang membaca karakter mereka. Terkadang aku juga menangis, bukan karena aku terharu, tapi sedih karena soalnya susah sekali….-_- ( ya ampun)


Teradang hidup ini lucu, saat persiapan terlihat nyaris sempurna, namun hasil justru berkebalikan, dan saat biasa-biasa saja justru keberuntungan menjemput. Jika kau berada di posisi ini, jangan salahkan keadaan itu. Yang harus kita yakini, bahwa Allah-lah pemilik kendali kehidupan ini. Kita sebagai manusia hanya bisa memberikan ikhtiar dan do’a terbaik kita. Selebihnya bukan lagi urusan kita, melainkan urusan sang ilahi yang merupakan pemilik segala urusan di jagat raya. 


:)) Wanda Amelia Rahma

EVALUASI KEKALAHAN ITU PENTING !!!





Assalamu’alaykum warohmatullahi wabarakatuh

Hai guys…akhi ukhti..

Rindu rasanya bisa menulis kembali di blog ini. Entah mengapa bibir ini terlalu kelu untuk bicara pada yang bernyawa. Namun terlalu bebas saat sudah bermain dengan kata kata…

Teringat, kurang lebih dua tahun yang lalu. Saat Allah pertama kali memberiku kesempatan untuk bisa berkompetisi mewakili kampus tercinta di sebuah ajang karya tulis ilmiah bersama dengan ketua temanku. Seperti di ceritaku sebelumnya, bahwa Alhamdulillah Allah memberiku pelajaran yang berharga. Aku memang kalah dalam lomba ini. Tapi teringat dengan kata-kata seseorang. “Orang yang berhasil bukanlah orang yang benar benar mendapatkan kemenangan, namun ia yang mampu mengambil hikmah dari segala peristiwa yang dialami”. Ada juga yang mengatakan bahwa hikmah itu bagai berlian, sesuatu yang mahal harganya dan tak mudah untuk mendapatkannya. Banyak orang yang memilih jalan lain dibandingkan bersusah payah mencari hikmah di atas kepedihan hati.

Tulisan kali ini bukan lagi mendeklarasikan kekalahan waktu itu, hehe..yang lalu biarlah berlalu. Siapa bilang kekalahan itu tidak membuat sakit?? Sesuatu yang tidak kita harapkan memanglah membuat hati ini kecewa, tapi saat hati ini sadar bahwa Allah-lah pemilik hakiki diri ini, maka rasa syukur seharusnya yang kita rasakan. Jika sudah begitu, maka kekalahan itu akan berubah menjadi “kegagalan yang bermakna” Benar begitu????

Kami memang beruntung, ku akui itu. Di semester pertama, abstrak kami lolos dalam sebuah ajang nasional. Tentu kami bahagia bukan main, seakan sudah mewakili bangsa Indonesia saja…hehe Berbagai persiapan sudah kami lakukan, bahkan kami sampai sering nginep di kosan secara bergantian untuk mengerjakan makalah dan presentasi. Ikhtiar secara duniawi seperti sudah 99% sempurna. Sampai-sampai saat perjalanan menuju Surabaya, kami masih saja berutat dengan laptop. Hari itu membuat kami melupakan ujian kalkulus yang sebentar lagi akan mengguncang dunia..(lebay kali ini anak).  Saat tiba di stasiun terakhir, kami masih berkutat dengan materi presentasi kami. MasyaAllah..jujur saat itu aku seperti terobsesi tinggi.

Beberapa menit sebelum kami tampil presentasi, kami sangat ketakutan, hati kami berdebar luar biasa. Tapi kesalahan fatal yang aku lakukan, aku justru membuat lelucon yang tidak penting sebelum kami tampil. Maksudku kala itu adalah untuk mencairkan suasana, namun setelah aku fikir. Kini aku mengerti, banyak kekhilafan yang aku lakukan. Kegagalan itu memanglah sudah takdir, sudah yang terbaik untuk kami. Namun, kekhilafan dan kesalahan-kesalahan kecil yang tidak aku sadari justru yang membuat langkah ini menjadi kurang berkah. Seharusnya, aku banyak beristigfar di kala itu, seharusnya aku tak membuat lelucon saat hati berdebar. Itu menandakan bahwa aku tidak melibatkan Allah di setiap ikhtiar ku. Astagfirullah…Entah apa yang aku fikir, rasa senang bisa bertemu dengan teman-teman dari kampus lain malah membuat iman ini melemah. Allah pun memberikan hasil yang terbaik untuk kami. Coba seandainya aku menang lomba di kala itu, pastilah tak ada koreksi untuk diri dan selamanya akan seperti ini. Sungguh aku sangat bersyukur.

Pembelajaran lain yang diperoleh, dua pemenang utama dalam lomba ini adalah justru 2 tim yang datang terlambat dan nyaris didiskualifikasi. Mereka bukan datang sengaja terlambat, tapi ada halangan di perjalanan mereka. Tapi syukurnya, mereka tidak pantang menyerah hingga akhirnya mereka berhasil tiba di lokasi lomba. Mereka tertinggal kereta, dan akhirnya harus mencari bis ke arah jawa. Di perjalanan mereka pun sempat tersesat, dan tinggal beberapa waktu di rumah salah satu saudara mereka. Sempat salah satu dari mereka putus asa dan memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Tapi iman mereka yang kuat, dan mereka berserah diri pada Allah dan mereka pun terus maju sebagai tanda syukur mereka, kemenangan pun berhasil mereka peroleh.
Masya Allah…peristiwa yang pernah membuat hati ini kecewa justru menyimpan hikmah .


“Saat hasil yang diperoleh terlihat tak sesuai dengan yang kita harapkan, maka berarti Allah sedang mengajarkan arti keikhlasan kepada kita. Sudah seharusnya kita melibatkan Allah di setiap langkah kita.”

-Wanda Amelia Rahma-

Selasa, 06 Januari 2015

{ORGANISASI } “TERLALU MANIS UNTUK DILUPAKAN


 Termenung jatuh dalam lamunan sepi. Membayangkan segala yang terjadi (back sound lagu Ari Lasso segala yang terjadi dalam hidupku ini adalah sebuah misteri ilahi…na…na…na..na..”) apaan sich Wan -_-

Seperti memutar ulang perjalanan hidup ini (tiba tiba music mendadak berubah sendiri menjadi lagu Ebiet G. Ade perjalanan ini terasa sangat menyedihkan..na.na..na..na…”) Lempar  sepatu nih Wan..-_- #maaf

Okay, I will focus !!!

Tak terasa, kurang lebih sudah satu tahun bersama. Bersama dengan keluarga baruku di kampus tercinta. Keluarga yang sering kusebut sebagai “Anugrah Ilahi”.  Izinkan aku sejenak memutar ulang kembali mengapa akhirnya aku bisa terperosok ke dalam kisah manis ini. Yups, kisah yang terlalu manis untuk dilupakan…

# BEMJ Kimia UNJ # Departemen LC Masjid Ulul Albaab

Hari berganti, angin tetap berhembus. Daun berjatuhan dan cuaca tak menentu. Namun aku masih tetap di sini, berjalan apa adanya. Tak banyak yang terucap, karena tersimpan rapih dalam hati. Lewat tulisan ini saja akhirnya aku mampu tuk ungkapkan. Syukurku tiada tara bisa bertemu dengan kalian..Wahai kesatria BEMJ Kimia UNJ dan LC MUA J

Tak pernah terfikirkan, terbayangkan apalagi direncanakan. Bahkan mungkin tak ada sedikit pun niat dalam hati untuk masuk dalam ruang lingkup ini. Ruang lingkup yang kufikir dahulu hanya mementingkan ketenaran. Yups, organisasi! Dulu, dulu sekali. Ku fikir mahasiswa mahasiswa yang menekatkan diri masuk dalam lembah organisasi  hanyalah sekumpulan orang yang banyak bicara tanpa aksi nyata dan manfaat. Pandanganku yang terlalu sinis terhadap organisasi akhirnya memaksaku untuk terperosok ke dalamnya. Akan tetapi, yang perlu di garis bawahi “hingga kini aku tak pernah menyesal terperosok jatuh , justru aku sangat mensyukurinya”. Entah bagaimana cerita hidupku jika saat itu aku tak terperosok jatuh, mungkin hidup ini hambar bagai sayur tanpa garamnya. Ceilahhhh….

Ingat sekali, saat awal perkuliahan. Banyak beberapa temanku sudah sangat antusiasme sekali ingin menjadi anggota BEM dengan beragam alasan yang cukup menarik jika ingin ditelusuri. Contohnya nih, teman satu kamar kos denganku. Sebut saja dia Ayu Lestari. “ Wanda, nanti mah Ayu pengen masuk BEM lah…biar kece dikenal banyak orang gitu. Keren tau Wan…Ikut yuuuk Wan…., bujuk Ayu kala itu.

Rayuan masuk BEM berulang kali mampir ke telingaku, dengan beragam kalimat yang membujuk. Tapi jawabanku sangat simple dan sedikit kurang rasional. “ Enggak ikut lah, capek organisasi mah.”

Masih terekam jelas wajah kecewa dari Ayu. Wajah kecewa yang selalu berhasil membuatku tak tega hati. Akhirnya  sedikit ku perpanjang alasanku “ Udah…Ayu aja yang ikut BEM, nanti kalau Ayu sudah terkenal, Wanda kan juga bisa nebeng ikut terkenal juga…hahahahahahah”  candaan ku kali ini cukup manjur mencairkan suasana…yipiiiiiiiiiii

Entah, saat itu hari apa dan tanggal berapa. Pengumuman yang membuatku dilema. “ Wan, udah denger belom? Mahasiswa BidikMisi wajib ikut organisasi loh..minimal satu periode katanya” info dari salah satu teman bidikmisi yang satu kelas juga denganku. Ha??? OMG ..Seriously ???????? (gaya bicara menduplikat Cinta Laura)

Jakarta yang memang sudah panas, jadi tambah semakin panas. Berulang kali gigit jari, dahi mulai cenat cenut mengkerut, hati dilema bimbang luar binasa. “Argghhh, jilat ludah sendiri namanya huaaaaaaaaa L

Orang yang paling keukeuh tidak ingin ikut BEMJ, akhirnya harus menuliskan namanya di daftar calon anggota BEMJ Kimia.

( keukeuh= kuat pendiriannya : kamus besar bahasa Sunda)

Namaku pun berhasil berbaur dengan puluhan nama lainnya yang ikut daftar. Tapi dari sekian banyak orang yang mendaftar, mungkin hanya diriku saja yang melangkah tanpa visi misi yang jelas. Ngambang sekali hidupku kala itu. Hmmmmm….

Tlilit…tlilit..tlilit..nada ada sms masuk dari handphone ku. Panggilan untuk interview dimana setiap  calon anggota BEMJ harus memutuskan akan masuk departemen yang mana. Lagi-lagi dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit. Memilih akan masuk di departemen mana menjadi pilihan yang sangat sulit bagi calon anggota yang tidak benar-benar niat masuk ke dalamnya. Sebut saja dia adalah “aku”. Emang bener -__-

Masa iya ngitung kancing sih kaya lagi ujian buat milih departemen. Ya kali…..Apa bikin kocokan kaya dadu? Aduh…makin engga bener nih fikiran. Apa milihnya merem aja kali ya….  Asal milih takut menyesal, karena aku harus bertahan selama satu periode bersama departemen itu. Enggak.enggak..enggak…. kali ini aku enggak moleh main main. Sok bijak emang nih anak. 

Entah dapat ilham seusai sholat atau bagaimana, akhirnya untuk memilih departemen ini kuputuskan untuk meminta saran Ibu. Ridho orang tua kan ridho Allah, jadi apapun yang Ibu pilih untuk Wanda, insyaAllah ikhlas. Berkat kerja keras mencari sekilas info terkait semua departemen BEMJ Kimia dari salah satu blog BEMJ di internet, kujelaskan semuanya pada Ibuku tersayang. ( tuh kan..jadi kangen ibu, rumah..huaaa ….ini ngetik blognya di kosan L)

Ibuku yang sedang repot masak di dapur, bukannya dibantuin…eh anaknya malah ngeribetin nanya milih departemen. Astagfirullah…..insyaflah kau nak nak….Ibuku dengan beragam peralatan perang dapur di tangannya hanya menjawab “ Departemen mana yang paling tidak kamu sukai? Ibu tidak akan tanya alasannya karena kerjaan Ibu masih banyak….”

Melihat nada ibuku yang sedikit kesal karena anaknya ngeganggu dan ngeribetin banget di dapur. Aku pun langsung jawab “ yang paling tidak disukai…hmmm….aduh..apa ya…P2KA deh bu..”

Beberapa detik setelah itu, ibuku pun berhasil memutuskan. “ Okay, kalau gitu ibu restuin kamu di departemen P2KA aja..”

APAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA∫∞????????????????????

“ Sudah sana lanjutin lagi jaga warungnya, kalau di dapur semua nanti ada yang ngambil dagangan loh…” perintah ibuku ini hanya ku balas dengan anggukan sederhana dengan muka yang tidak jauh beda dengan muka Mr. Bean yang lagi bengong.

Keadaan dan kondisi hati saat itu di skip saja {SKIP}

Saatnya interview……………………………….

Ingat sekali, waktu interview calon anggota BEM di kala itu saat libur seusai semester 1. Saat itu rumahku sedang kebanjiran. Karena sudah langganan kena banjir, sehingga banjir seakan akan seperti kumpulan air air yang imut dan unyu unyu yang sedang silaturrahim ke rumahku. Jadi, halangan dan rintangan itu mampu aku lewati dan akhirnya berhasil datang ke Kampus. Untung aku masih ada tabungan buat bayar transportasi yang tidak bisa dibilang murah dari rumahku menuju kampus.

Ku lihat kanan kiri depan belakang atas bawah, kok jumlah yang interview tidak sebanyak jumlah yang daftar ya??????? Ternyata aku baru tau dari temanku yang juga memilih departemen yang sama denganku “banyak yang mundur Wan…alasannya sih kurang tau apa..mungkin cuaca kali ya Wan…” Mendengar penjelasan temanku, tersentak kaget. Karena cuaca??? Bagaimana denganku yang saat interview rumahku sedang kebanjiran. Saat di dalam rumah, air sudah sepinggang badanku dan di luar rumah sudah seperut orang dewasa. Aku pun mendadak diam, duduk dipojokan, termenung. Mengapa Allah mudahkan kaki ini untuk melangkah ke kampus??? Allah juga masih menyediakan beberapa uang di tabunganku hingga aku bisa sampai kampus dengan mudah? Orang tuakupun tumben mengizinkan dengan mudahnya. (karena tau ini syarat bidikmisi heheheheh) . Baru ku teringat bahwa Allah memudahkan urusan hambanya yang Ia kehendaki. Apakah ini pertanda bahwa memang Allah meridhoiku untuk langkah ku yang satu ini????? Entahlah….ku coba lewati masa interview dengan sebaik mungkin.

Benar ya…, ridho orang tua juga ridho Allah. Aku berhasil diterima menjadi anggota BEMJ di Departemen yang ku pilih. Padahal banyak teman-temanku yang memilih Departemen yang sama denganku akhirnya harus terlempar ke Departemen lain. Lagi..lagi..Allah mudahkan segala urusanku.

Pandangan sinisku terhadap organisasi mulai luntur perlahan. Dengan segala kemudahan yang Allah berikan, mulai ku syukuri setiap goresan cerita yang terjadi saat bersama mereka semua.

Ku amati beberapa orang diantara mereka…Bukan ketenaran ternyata. Aku telah salah selama ini. Banyak dari mereka yang sudah menghibahkan diri mereka hanya untuk berdakwah lewat kepengurusan BEMJ Kimia ini. MasyaAllah…………..mereka harus putar otak membagi waktu yang saharinya diberi jatah oleh Allah selama 24 jam untuk mengurusi masalah perkuliahan dengan bidang dan masalah yang beragam. Jika menginginkan ketenaran tak mungkin sampai tenaga, pikiran, materi ikut mereka keluarkan dengan ikhlas tanpa beban. Ternyata semua ini karena Lillah……..

Semangat mereka tak pernah padam oleh waktu. Dengan segudang tugas perkulihan yang juga sudah menyita waktu mereka, ditambah urusan urusan organisasi yang pada dasarnya sebagai pelayan mahasiswa lainnya. Tak pernah sedikit pun mereka singgung terkait gajih atau upah mereka selama berkontribusi. Bagi mereka, terpenuhinya segala kebutuhan mahasiswa sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka. Selalu ada wajah ceria dan candaan manis di sela-sela ketegangan yang terjadi. Ku selalu membayangkan, senyum yang mereka tebar selalu diiringi dengan senyuman para malaikat. Allohumma Aamiin.

Ku putar kisah yang sudah terlewati…senang, kecewa, merasa gagal, emosi, egois, marah, sedih, bingung, stress, bahagia, puas, bersyukur semua pernah kami rasakan bersama. Keberagaman rasa yang terjadi tetap terjaga dalam satu wadah kekeluargaan dimana rasa hangat sebuah keluarga selalu berhasil meredam segala amarah dan merubah kesedihan menjadi bahagia diiringi syukur. Mulai dari FamDay bersama dengan seluruh anggota BEMJ Kimia periode 2013/2014, rapat internal departemen, merayakan ulang tahun bersama, bahu membahu mengadakan suatu kegiatan/acara, ada TEKIM, ISO, KIR, Chemistry Cup, SPPL, PELIT, MPAJ, PKMJ, donor darah, dan kegiatan-kegiatan lainnya.

Ku goreskan diriku di dalamnya…ingat sekali jam terbang pertamaku dalam organisasi adalah sebagai anggota konsumsi dalam suatu acara. Ya..waktu itu aku hanya kebagian motong motong saja..hehe sempat ku mencoba sekretaris, bendahara, dan akupun akhirnya menikmati ini semua dan mencoba kembali menjadi staf acara, koor acara, sempat menjadi staf pendamping, hpd.

Di akhir kepengurusan ini, aku seperti orang yang sedang senang-senangnya berlari dan sejenak ku coba duduk di bawah pohon rindang. Mereview apa yang sudah terjadi. Orang sekeras aku bisa luluh seperti ini. Bahkan baru ku sadari teman satu kamar kos denganku yang dahulu terus merayuku untuk masuk BEMJ, justru ia akhirnya memutuskan untuk tidak jadi ikut sebagai anggota BEMJ. Hidup memang lucu jika kita flashback lagi….Dulu yang kutolak tawaran BEMJ karena alasan takut capek, justru kini ku nikmati sekali setiap tetesan keringat yang berhasil keluar dari tubuhku. Keringat ini menandakan bahwa tubuh ini masih bergerak dan mau terus bergerak untuk mencari makna kebermanfaatan diri.

Tak bedanya dengan kisahku di departemen Learning Center Masjid Ulul Albaab. Departemen tersebut ku pilih dengan alasan karena aku suka mengajar mengaji, padahal departemen tersebut hanya menyediakan pengajar ngaji bukan sebagai pengajarnya….hahahaha….Aku pun tak menyangka pengurus akhwat dari departemen LC tersebut adalah kaka tingkat yang pernah sempat dibuat kesal oleh ku. Ingat sekali saat acara SISKOM di Bogor. Pagi itu, pihak panitia hanya menyediakan bubur kacang ijo. Aku yang tidak suka dengan kacang ijo pun berniat meminta izin kepada kaka tersebut untuk ke luar area villa mencari nasi uduk. Namun kaka tersebut tidak mengizinkan, sebenarnya sikap kaka itu benar karena khawatir nanti pesertanya hilang jika keluar area. Namun karena jiwa sering kabur saat SMA belum sembuh total, akupun bersama satu temanku kabur ke luar villa. Tingkah nakalku yang satu ini pun berhasil diketahui oleh kaka tersebut. Kulihat ekspresi mukanya sangat kecewa padaku. Tapi saat interview menjadi anggota LC MUA, wajah kaka tersebut sangat menyambutku dengan baik dan ramah tanpa mempersoalkan lagi masalah antara aku dengannya beberapa waktu yang lalu. Namun wajah tak enak hati tak mampu ku sembunyikan. Aku merasa menjadi manusia yang banyak dosa dan ingin bertobat dengan masuk dalam oganisasi ini. HUaaaaaaa Kakanya baik sekali. Islam memang indah nan lembut sekali. Allah memperbaiki hubungan aku dengan kaka tersebut lewat sebuah organisasi yang tak pernah aku sangka sangka. Aku pun tak tau jika kaka tersebut merupakan pengurus dari departemen LC MUA. Semua ini terjadi karena Allah begitu sayang pada hambanya. Allah kenalkan organisasi dengan nuansa islami kepadaku dengan caraNya yang unik dan mengesankan. Tak hentinya kuucap syukur. Kisah ini menambah keunikan dari perjalananku mengembara di bumi. Semoga pengembaraan ini selalu dikelilingi dengan hikmah yang dapat kita ambil sebagai pembelajaran.

Anugrah Ilahi yang satu ini memang terlalu manis untuk dilupakan
ORGANISASI

Terimakasih Ya Allah…..
Kau luruskan niatku yang kurang baik menjadi suatu berkah yang kini tak hentinya ku syukuri.
Kau pertemukan aku dengan para pejuang pejuang Mu dalam wadah Organisasi
Kau simpulkan senyum manis mereka untukku
Hingga perjalanan ini berhasil terlukis indah
Semua ini karena Lillah
Ya Rahman Ya Rahim
Syukurku pada Mu Ya Rabb
Hidup dan Matiku hanya kembali pada Mu





Serunya Oreo 110th Birthday Celebration Bareng Keluarga di Rumah

  Hal yang paling dirindukan dari seorang anak perempuan yang sudah berumah tangga adalah momen saat bisa kumpul bareng sama orangtua ters...