Kamis, 04 Januari 2018

ANALISA FOTO VTIC (SARAWAK, MALAYSIA) VERSI WANDA


Assalamu'alaykum Wanda Lovers  maksudnya para blogger yang mungkin sekarang sedang galau, resah, gelisah, gundah, merana. Daripada kita bergalau-galau ria, mendingan baca posting-an kali ini.

Tulisan ini agak berbeda dari sebelumnya, di mana setiap kisah yang diceritakan berasal dari analisa foto yang diambil ketika sedang mengabdi menjadi guru bagi anak-anak buruh imigran Indonesia di negeri tetangga. Penasaran dengan kisahnya??? Yuk ah




Kita mulai dengan foto yang pertama. Foto tersebut di ambil saat hari pertama mengajar di kelas. Kondisinya satu ruang kelas dipergunakan untuk tiga tingakatan sekolah. Satu ruang kelas berisi siswa kelas 1, 2 ,dan kelas 3. Satu ruang kelas lainnya diperuntukkan kelas 4,5,dan kelas 6. Sebenarnya masih ada 1 ruang kelas lagi, namun belum tersedia bangku. Hari pertama diisi dengan perkenalan dan pembagian jadwal piket beserta tugas-tugasnya. Mereka sangat antusias mencatat jadwal piket loh :)




Foto di atas di ambil di hari ke dua kita datang ke lokasi tersebut. Ada Pak Woto dengan Mba Dita yang sedang asyik berbincang-bincang tentang kondisi orang-orang Indonesia di sana. Pak Woto adalah pekerja di sana yang merupakan penduduk Indonesia asli tepatnya dari Jawa Tengah. Selain bekerja di negara tetangga sebagai buruh kelapa sawit, beliau-pun adalah satu-satunya guru di sana sebelum datanya kami para cikgu-cikgu muda :) Beliau adalah pahlawan pendidikan yang sejati. Di tengah kesibukannya bekerja, beliau tetap memikirkan nasib pendidikan anak-anak Indonesia di sana. Beliau-lah yang mendidik seluruh anak-anak di sana mulai dari kelas 1 SD sampai kelas 6 SD di dalam rumahnya yang kecil. Luar Biasa :)

Sosok wanita yang satunya lagi adalah Mba Dita, teman satu tim yang berasal dari UGM. Beliau asli Sumatra sehingga beliau sedikitnya menguasai bahasa melayu. Beliau sangat penyayang, tidak hanya pada anak-anak, beliau juga sangat menyayangi kucing-kucing. Hehe



Begitulah kondisi kelas 1, 2, dan kelas 3. Wanda dan Mba Dita 
bertugas menjadi guru di kelas tersebut. Jumlah mereka sekitar 60 anak dengan beragam karakter. Bisa bayangkan betapa bisingnya mereka jika sudah mulai bosan belajar :( 

Sedangkan Mas Hera yang berasal dari Cirebon bertugas menjadi guru bagi kelas 4,5,dan kelas 6. Kami satu tim yang terdiri dari 3 orang guru (Wanda, Mba Dita, dan Mas Hera)




Foto berikutnya adalah suasana kelas Mas Hera yang terdiri dari kelas 4,5,dan kelas 6. Kondisinya jauh lebih kondusif dibandingkan kelas di bawahnya. Jumlah siswanya-pun lebih sedikit. Mereka semua memang belum memiliki seragam merah putih dan seragam sekolah lainnya. Sehingga mereka bebas menggunakan baju ke sekolah.




"Kenalkan kaka-kaka, namaku Brian. Aku murid yang paling lucu dan paling digemesin sama Bu Wanda" 

Hehehehe......Iya benar. Brian ini anak yang paling bisa bikin ketawa Bu Wanda karena pipi bakpawnya. Iiiiiihhh...gemechh



Oh iya, Wanda juga mengajar IPA di kelas 4,5,dan kelas 6 loh... Waktu itu Wanda percobaan telur melayang. Mereka sangat antusias lohhh:)







Tidak hanya telur melayang, kita juga buat percobaan menanam kacang hijau dengan media tanam berupa kapas. Mereka sangat menikmati percobaan IPA . Mereka sangat pintar-pintar loh khususnya dalam matapelajaran matematika. Mau tau kenapa?? Karena mereka terbiasa menghitung uang ringgit. hehehehe




Ini-lah dia fantastic four  ke- empat murid yang hiperaktif di kelas. Karena tingkah mereka sangat berlebihan di hari itu, maka mereka diberi hukuman dengan sholat dhuha. MasyaAllah mereka Insyaf semua kayaknya paska sholat:) Insyaf untuk sekian detik saja-_- setelah itu mereka berulah lagi :( 




Anak-anak di sana paling suka kalau diajak selfie hehehe. Jiwa narsis itu telah mendarah daging sepertinya...hehehe
Terlihat panas sekali ya di sana :( 



Itu adalah salah satu media belajar milik Pak Woto dari sekian media belajar lainnya yang telah beliau buat sendiri. Beliau kece abis deh....Semangat mendidiknya itu lohhhhhhh

Foto tersebut juga sekaligus menjadi penutup dari posting-an kali ini. Sebenarnya foto-fotonya banyak, tapi karena handphone sempat rusak dan sebagian besar foto ikut terhapus. Jadi, yasudahlah ya....


Semoga tetap bisa menginspirasi walaupun harus ke negeri tetangga. Mereka tetap garuda-garuda kecil bangsa. Mereka adek-adek kita. Jika bukan kita yang peduli terhadap mereka. Maka siapa lagi???

Terimakasih kepada pihak  Yayasan VTIC yang telah memberikan kesempatan kepada saya pribadi untuk menjenguk adik-adik saya di sana. Semoga mereka segera bisa mendapatkan hak-hak pendidikan di Bumi Ibu Pertiwi yaitu rumah kita bersama :)




-Wanda Amelia Rahma-





Rabu, 03 Januari 2018

BUKAN MEDALI ATAU PIALA


Kemenangan itu terletak di dalam
Jauh di dalam qolbu
(Wanda Amelia Rahma)





Hiruk pikuk remaja tidak bisa terlepas dari hingar bingar dunia. Dunia kian berubah mengikuti perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Dahulu membutuhkan waktu lama untuk sekedar mengirim pesan melalui surat. Kini, ribuan pesan dapat kita kirim dengan cepat dengan biaya yang lebih murah. Belum lagi perkembangan media social yang merajalela mulai dari friendster, facebook, twitter, instagram, telegram dengan segala keunggulan yang memanjakan umat manusia. Mudahnya dalam berkomunikasi turut memperbesar arus masuknya budaya luar tanpa filter yang baik.

Pemuda menjadi sasaran dari derasnya arus globalisasi. Siapa yang tidak berpegang kuat pada tali yang hakiki (Allah SWT) maka akan mudah terbawa arus bahkan mati. Diri ini bisa menjadi saksi fenomena tersebut karena tak dipungkiri penulis pernah terseret arus kemunafikan. Kemunafikan dengan mengumbar kata-kata bak penyair cinta, kata-kata yang meningkatkan eksistensi diri dengan membohongi khalayak ramai.

Dahulu, diri ini sangat sering membuat status alay hanya agar mendapat perhatian banyak orang. Status yang dibuat pun sudah seperti minum obat 3 kali sehari. Setiap peristiwa, di mana-pun dan kapan-pun selalu selfie dan  upload. Parahnya  foto yang di upload melanggar batas aurat. Tak jarang diri ini-pun suka meng-upload video dengan teman-teman seperguruan alias teman dengan hobi yang sama. Namun semua itu pernah membuat diri ini cemas bukan main tepatnya saat sinar hidayah itu mulai datang. Buat apa segala ikhtiar ibadah yang mulai perlahan ditingkatkan jikalau aurat masih ditebar di sana-sini. Berkali-kali membuka foto-foto dan video yang pernah di upload .  “Duhhhh…..rasanya sayang banget kalau semua fotonya harus dihapus” ujar diri ini.

Perlu waktu berminggu-minggu untuk akhirnya memencet tombol DELETE. Semua foto jaman jahiliyah sudah terhapus. Semoga benar-benar sudah tidak tersisa lagi. Rasanya lega sekali walaupun saat memencet tombol delete harus sambil menutup mata. Sejak itu hari terasa lebih ringan dan sejuk. Qalbu terasa tentram seakan-akan sedang menikmati suatu kemenangan. Kemenangan tanpa piala dan medali namun sangat menentramkan hati karena berhasil melawan hawa nafsu duniawi.

Selain berhasil melawan nafsu duniawi, adapula kemenangan lainnya. Saat cibiran dari sana-sini mulai berserakan membuat hati panas dan geram. Pernah saat duduk di bangku SMA, ketika sedang ingin memulai menjadi orang yang baik, diri ini justru mendapat cibiran negatif. Karena terlewat emosi, diri ini pernah berniat berhenti menjadi orang baik jikalau yang lain tetap menganggap diri ini negatif. Apa susahnya jadi orang jahat. Itu hal yang mudah, sehingga impas jahat dibalas dengan kejahatan.

Untung saja nasihat seorang teman benar-benar menyelamatkan. Katanya dahulu jikalau diri ini berniat kembali seperti dahulu hanya karena orang di luaran sana berfikiran negatif dengan perubahan baik kita maka diri kita tidak ada bedanya dengan mereka. Seandainya menjadi baik itu mudah, mungkin tidak akan ada perang dan perpecahan. Mendengar nasihatnya, berulang kali diri ini berupaya mengatur nafas berusaha membuang seluruh emosi  berbarengan dengan gas karbondioksida yang dibuang oleh tubuh. Fokus pada niat awal untuk berubah menjadi lebih baik di mata Allah, bukan di mata manusia. Karena hanya kekecewaan yang timbul saat berharap pada manusia.  Allah yang akan membukakan hatiku dan hati mereka. Lagi-lagi berkat kasih sayang Allah, diri yang penuh dosa ini diijinkan merasakan kemenangan kembali. Kemenangan melawan amarah. Hembusan angin setiap pulang sekolah seakan bersorak mengucapkan selamat karena berhasil bersabar dalam menerima cibiran negatif orang lain.

Prasangka negatif dari banyak orang lagi-lagi harus diterima sesaat setelah lulus dari bangku perkuliahan. Niat baik untuk membantu sebuah komunitas membuat diri ini terjebak dari segala prasangka buruk. “Saya bersalah” adalah  kata yang ingin dunia berikan pada diri ini. Segala canda gurau yang pernah terjalin terhapus begitu saja hanya karena satu peristiwa yang tidak mengenakan. Keputusan untuk membantu sebuah komunitas dengan menjadi ketua untuk komunitas tersebut mendapat penolakan keras. Segala upaya dan keseriusan sudah dicoba satu persatu berharap mereka mengerti dan mampu memahami. Semakin sadar bahwa mereka sulit mengubah prasangka negatifnya dari diri ini, membuat hati ini sesak. Sesak yang obatnya hanyalah berani jujur kepada Allah SWT. Duduk tersimpuh menangis,  memohon ampun atas segala sikap yang telah melukai banyak hati. Terus dilakukan seusai sholat, namun sesak ini belum juga pergi seluruhnya.  Apa yang salah dengan permohonan maaf dan istigfar ini?

Allah-pun menunjukkan jalan-Nya melalui ceramah Tarawih di Bulan Ramadhan bahwa ada 3 amal yang Allah sembunyikan hadianya. Ketika Allah tidak secara gamblang menunjukkan hadiah atas suatu amalan, pertanda bahwa amalannya sangat besar. Seperti orang tua yang ketika ingin memberikan hadiah ulang tahun mewah nan mahal kepada anaknya, pasti hadiahnya dirahasiakan dari anaknya. Tiga amal tersebut adalah puasa, sabar, dan memaafkan. Ada salah seorang sahabat yang dijamin masuk Syurga  karena memiliki amalan unggulan yaitu sering memaafkan saudaranya sebelum Ia tidur. Isi ceramah tersebut menyadarkan diri ini bahwa selain meminta maaf, kita juga harus memaafkan. Tanpa disadari hati ini terluka karena sikap mereka dan diri ini belum memaafkan diri sendiri dan  mereka. Mencoba membayangi wajah mereka satu per satu sebelum tidur dan mengucapkan, “Saya telah memaafkannya.” Berulang kali hal tersebut dilakukan sampai sesak ini hilang perlahan. Semenjak itu diri ini mulai kembali jelas melihat indahnya pagi, sejuknya sore hari, damainya kehidupan.


Kemenangan bagi diri ini adalah saat kita berhasil melawan hawa nafsu dari hasrat duniawi, bersabar dalam amarah, serta memaafkan

Serunya Oreo 110th Birthday Celebration Bareng Keluarga di Rumah

  Hal yang paling dirindukan dari seorang anak perempuan yang sudah berumah tangga adalah momen saat bisa kumpul bareng sama orangtua ters...