Saat bintang coba bisikkan, isyarat agar aku mengunjunginya
Sekali saja….tapi aku justru menunda
Hal yang paling tak terduga, walau itu hal yang pasti. Nenek…
Entah pantaskah aku memanggilmu dengan sebutan itu?
Masih terputar dalam memoriku, sepotong roti yang kau beri
Selembar kertas 5000 kau tawarkan, begitu membengkas dalam mesin
waktuku
Entah berapa petuah telah kau sajikkan untukku.
Walau tak ada darah yang mengalir jelas antara kita
Nenek…yang namanya baru ku hafal justru saat kau telah bisu
Bisu akan bisingnya dunia, dan akupun terhunus panah waktu
Kau pergi saat aku mulai bisa bertahan dengan hidupku
Kau kembali pada-Nya saat diri ini lebih tegar dari sebelumnya
Pilu ini semakin terasa saat mataku tak pernah berhasil mencari
nenek di shaf terdepan barisan wanita dalam masjid.
Dulu, nenek selalu disitu. Yah…duduk sambil memegang tasbih
Apa mungkin nenek ke kamar mandi sejenak??
Tidak! Sudah kucari memang tidak ada..
Ya Robb…kubukanlah cucu kandungnya
Tapi aku sangat menyayanginya layak nenekku sendiri
Saat dahulu hidupku diputar balik, kau menerimaku sungguh manis
Saat yang lain hanya membuat LUKA, tapi nenek selalu beritahu
bahwa adanya luka dunia untuk membuat kita semakin kuat dan bertahan
Nek..kini aku sholat isya di Masjid sendirian, gak ada nenek
lagi
Dulu kita kan sering bercerita di sini, iya di sini. Nenek ingat
kan??
Kau begitu bahagia menceritakan cucumu yang kembar
Dan aku selalu tertawa saat ku dengar ceritamu
Bersama nenek, aku merasa seperti anak 5 tahun yang selalu minta
untuk diceritakan pengalaman-pengalaman menakjubkan dalam hidupmu
Kau yang selalu tersenyum saat aku ikut menjadi jama’ah di
masjid
Nek…Wanda sayang nenek, seperti nenek menyayangiku dengan tulus
tanpa pamrih
Itu kalimat yang tak pernah terucap saat berbincang denganmu
Kini anggota NNC tinggal 2, Kalian semua keluargaku, nenek…
Namamu terselip dalam do’aku…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berikan komentar terbaikmu:)