Selasa, 13 September 2016

ANTARA SISKOM DAN MAHASISWA BERPRETASI



Bismillahirrahmanirrahim….

Akhir-akhir ini begitu banyak jarkoman terkait SISKOM ( Studi Islam Komprehensif XXV) yang lalu lalang di media sosial. Seketika diri ini jadi termenung, rangkaian memori seakan mundur ke masa dimana diri ini sering dipanggil dengan sebutan MABA (Mahasiswa Baru). Judul artikel ini memang sedikit menggelitik “Antara Siskom dan Mahasiswa Berprestasi?????”  Tapi penulis kali ini sedikit akan membagi kisah, kisah seseorang yang tak diperhitungkan, yang pernah dianggap kuman di tengah lautan, namun memiliki tekad untuk menjadi orang yang lebih baik dan bermanfaat dari sebelumnya. Dari mana tekad itu muncul???????

Amanah yang Allah berikan sebagai Mahasiswa Berprestasi I FMIPA sekaligus MAPRES Terfavorit UNJ 2016 terkadang terus membuat diri ini tertawa. Seakan tak pernah percaya walau peristiwa itu sudah berlalu sekitar 4 bulan yang lalu. Awal masuk kuliah, saat sedang interview beasiswa. Pihak dosen yang melakukan wawancara di kala itu jelas-jelas secara terang-terangan meragukan diri ini bisa bertahan kuliah di jurusan yang kaya akan elektron, proton dan neutron ( Kimia). Alasan beliau karena diri ini sama sekali tidak memiliki sertifikat olimpiade kimia dan sejenisnya. Dosen pertama yang mengajar di kelas-pun menyarankan diri ini  untuk lebih baik daftar menjadi stand up comedy karena gaya presentasi tidak menunjukkan sikap ilmiah, dan terlihat seperti “main-main”.  Tidak hanya pihak interviewer  beasiswa dan dosen yang seakan tak pernah percaya dengan kemampuan yang dimiliki. Banyak pihak yang di kala itu sangat membuat diri ini pesimis untuk bisa bertahan di jurusan yang memiliki senjata berupa 118 unsur kimia.  Mungkin, tidak semuanya bisa di ceritakan pada artikel ini. “Boro-boro” berifkir menjadi Mahasiswa Berprestasi, bisa lulus dari jurusan ini saja sepertinya sudah suatu keajaiban. Belum lagi background sekolah dahulu yang tidak secanggih sekolah di Ibu Kota dan sekitarnya membuat diri semakin minder bukan main.

Posisi yang pesimis akan nasib di kuliah seakan membuat nuansa kampus menjadi membosankan. Entah mengapa tawaran teman dekat untuk ikut SISKOM benar-benar menarik perhatian diri ini. Sempat terlintas dalam hati “ jika tidak bisa menjadi yang dibanggakan di dunia, setidaknya diri ini ingin taat di hadapan Sang Pencipta”. Terlahir bukan dari keluarga yang agamis, saat SMA-pun bukanlah pengurus rohis. Tapi entah kenapa, ajakan dari kaka-kaka tingkat yang penuh kesabaran, penuh dengan senyuman mampu membuat diri ini ikut serta dalam kegiatan SISKOM.  Singkat cerita, di sana begitu banyak rangkaian kegiatan yang mempu memantik semangat hidup. Mulai dari rasa kekeluargaan yang dibangun oleh panitia, berbagai kajian dari pemateri-pemateri kece, outbond gratis, games menarik, tilawah bersama di tengah-tengah nuansa pegunungan yang sejuk, shalat berjamaah, tahajud bersama. MasyaAllah, saat itu lah titik di mana orientasi hidup ini berubah.  Ada satu materi saat itu yang benar-benar menampar diri ini, yang intinya bahwa segala tujuan hidup kita di dunia itu adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Belajar juga ibadah, membantu orang tua juga ibadah, segala sesuatu yang baik yang diniatkan karena Allah adalah ibadah. Jiwa ini langsung terbakar, tanpa sadar diri ini menulis di sebuah catatan kecil bahwa diri ini akan terus belajar sampai maut menjemput untuk menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.

Semangat itu begitu berdampak luar biasa , bukan pada semangat ibadah wajib seperti sholat saja, tapi aktivitas kebaikan lainnya pun satu-per satu mulai dilakukan dengan totalitas. Membagi waktu antara untuk belajar , mengerjakan tugas, berdiskusi, organisasi, ibadah, mentoring, dan aktivitas kebiakan lainnya.  Tujuan diri ini semenjak SISKOM berubah drastis. Dulu, sempat terpatri dalam hati bahwa suatu saat nanti, diri ini ingin sekali mejadi seseorang yang dibanggakan agar orang-orang yang dahulu pernah menghina diri ini bisa terdiam. Tapi ternyata hal itu hanya membuat beban yang semakin berat. Akan tetapi, saat segala sesuatunya diniatkan untuk Allah. Alhamdulillah, pertolongan itu selalu ada bahkan dari sisi –sisi yang tak di sangka. 

Entah bagaimana jadinya diri ini , apabila 3 tahun yang lalu diri ini lebih memilih di rumah dibandingkan pergi bersama-sama untuk mengikuti SISKOM. Barulah diri ini tersadar, bahwa segala sesuatu yang dititipkan kepada diri ini ( termasuk amanah sebagai MAPRES) merupakan kuasa sang ilahi. Konsep hidup berlandaskan Al-Qur’an dan As-shunnah baru diri ini temukan maknanya benar-benar melalui rangkaian kegiatan SISKOM. Wajar diri ini menjadi salah satu mahasiswa yang kecanduan untuk ikut SISKOM.

Khusus untuk panitia SISKOM, ana haturkan terimakasih banyak karena telah merancang acara yang luar biasa sangat berpengaruh untuk kehidupan dunia dan akhirat penulis.



2 komentar:

Berikan komentar terbaikmu:)

Serunya Oreo 110th Birthday Celebration Bareng Keluarga di Rumah

  Hal yang paling dirindukan dari seorang anak perempuan yang sudah berumah tangga adalah momen saat bisa kumpul bareng sama orangtua ters...