Jumat, 01 Juli 2016

CERPEN : SAAT SINAR HIDAYAH TIBA




Tinggi semampai, kulitnya yang putih berseri sangat menyejukkan hati. Suaranya yang lembut menambah manis wajahnya. Hijab berwarna merah muda sangat menambah cantik paras wajahnya. Gamis bermotif bunga menciptakan pesona natural pada dirinya. Bukan hanya cantik, ia juga wanita yang cerdas dan sholihah. Anak tunggal dari keluarga pengusaha ini selalu menjadi pembicaraan guru-guru di kelas. Tak jarang setiap wali murid yang bertemu dengannya saat pembagian rapor selalu memujinya. Peringkat pertama di kelas sangat mudah ia capai, beberapa lomba berhasil ia menangkan baik lomba akademik ataupun lomba keagamaan. Bisa dikatakan, ia idaman bagi semua orang yang melihatnya. Sifat kesederhanaannya membuat ia nyaris terlihat sempurna. Tidak ada yang tak mengenalnya.

“Zahra, aku sungguh iri padamu” tuturku pelan sambil menatap Zahra yang sedang makan di kantin bersama teman-temannya.

“Naira, kau mengapa berdiri di situ? Ayo gabung dengan kami, kita makan bersama di sini. “ ajak Afifah padaku sambil memberi sedikit ruang kursi untukku.

Afifah adalah teman satu bangku denganku. Namun sayang, dari sekian banyak penggemar Zahra, hanya Afifah yang bisa menghargai keberadaanku.        
 ( Kepalaku menggeleng) pertanda bahwa aku menolak ajakannya.
***
“Sial!!!!!!!!! Mengapa aku belum mati juga??? Argghh..mengapa mobil tadi tak manabrak ku saja! Pakai menghindar lagi…Argggg “ nada ku kesal penuh amarah.

Sudah dua jam berkeliaran di jalan raya dimana waktu malam sudah akan berganti menjadi dini hari, lampu kendaraan yang sengaja aku matikan, helm yang tak aku kenakan, kembali aku mengencangkan gas kendaraan dan melaju kencang tanpa pelindung jaket atau apapun.

“ Hai Malaikat Maut, Apakah Kau takut pada gadis berumur 16 tahun ini ha????? Kau berani ambil seluruh kebahagiannku kan??? Mengapa kau hingga detik ini belum juga mengambil nyawaku???? Apakah kau kini baru sadar sedang berhadapan dengan siapa??? “ teriakku kencang memecah keheningan malam.

Jalanan pun semakin sepi, yang terdengar hanya hembusan angin kencang serta beberapa helai daun yang berterbangan. Kembali ku melaju kencang dengan motor yang umurnya lebih tua satu tahun dari umurku.

“Mana bubur ayah????” tanya ibuku setelah aku selesai memasukkan motor ke dalam rumah.
 “ Sudah cari, tapi tidak ada yang jual.” Jawabku datar dengan kalimat seadanya.

Batuk ayahku terus mendominasi seisi rumah hingga telingaku mau pecah, tak jarang ayah melempar benda apa saja yang ada di dekatnya. Entah sakit apa ayahku sebenarnya. Komputer yang ku dapatkan dengan susah payah pun menjadi korban dari kelakukan ayahku.

 “ Prakkkkkkkkkkkkkkk” Handphone tua milik Ibuku yang kini ia banting ke lantai.
 “ Nyari bubur saja tidak becus!!!!!!!” nada sinis ayahku sangat menyindirku malam itu.  
“Sudah gerah rasanya berada di rumah ini” ujarku pada Ibu sambil mengambil kembali kunci motor yang telah aku letakkan di atas meja.
“ Ayah sudah tak perlu marah-marah lagi dengan ku! Tak usah cari aku kemanapun !!!!” itulah kalimat terakhir yang terucap di malam itu.

Usaha Ibuku untuk mencegahku pergi dari rumah pun hanya sia-sia belaka. Gadis yang merasa takdirnya sedang dipermainkan pun melaju kencang tanpa arah.
***
Kedua tanganku yang ku regangkan memecah keheningan pagi. Kepala yang sudah lama ku sandarkan ke stank motor kini mulai terasa sakit untuk di tegakkan. Badanku kaku karena hampir semalaman aku tertidur di atas motor. Mataku yang bengkak akibat menangis terlalu lama.

 “ Ouhh tidak..ternyata aku masih hidup di dunia ini” ungkapku kecewa karena berharap tak pernah bangun dari tidur ini.

Setelah mataku sudah mampu melihat secara sempurna, kuamati lingkungan sekitar. Banyak Ibu-Ibu yang beramai-ramai pergi ke pasar, orang-orang itu berjalan memecah pematang sawah milik Pak Abdul.

 “ Ternyata semalam aku tidur di sawah milik Pak Abdul” tuturku sendiri sambil mencoba meregangkan kepalaku.

Hari ini berbeda dari hari biasanya, banyak orang yang pergi ke pasar dan hal itu menyadarkanku bahwa esok sudah masuk bulan suci Ramadhan. Berbondong-bondong orang mempersiapkan hidangan untuk saur pertama mereka di rumah. Itulah tradisi di desa kami. Ku hapus air mataku yang tanpa permisi mengalir di pipi.

 “ Aku hampir lupa indahnya bulan suci Ramadhan, akupun sudah lupa kapan terakhir kali aku berpuasa? Buat apa aku lakukan itu, Tuhan tak menyayangiku” ujarku kaku dalam hati.
***
Kuputuskan untuk tidak sekolah di hari itu. Namun aku harus pergi dari sini, karena daerah ini belumlah jauh dari rumahku. Aku khawatir akan ada yang bisa mengenaliku.

“Kriuk….kriuuuk” bunyi suara perutku yang lapar.

Aku pun tak berfikir lama, ku segera bergegas ke rumaha Afifah dengan motor tuaku, berharap ia masih memiliki sedikit rasa iba untuk memberiku makan. Saat hendak pergi menuju kediaman Afifah, motor tuaku hilang kendali, entah apa lagi yang rusak. Belum sempat ku berhenti dan meminggirkan motor. Sebuah mobil mewah dari arah berlawanan semakin dekat ke arah ku, lajunya yang juga kencang membuatku panik kala itu.

“Jger…” kecelakaan itu tak dapat dihindari.

Untunglah aku hanya keserempet, namun motor ini rusak parah. Kakiku agak terseok namun masih sanggup untuk berdiri.

“Maafkan kami” suara itu seakan menambah rasa sakit itu.

Ya…itu suara Zahra. Suara gadis seumuran dengan ku namun hidupnya selalu indah bagai di taman surga. Tak mau aku melihat dan meladeni permohonan maafnya. Namun Zahra yang sudah rapih mengenakan pakaian seragam pun berusaha mengejarku.

“ Mengapa kau begitu benci padaku?? Apa salahku pada mu? Apakah aku tak boleh mengobati lukamu??? Tanya Zahra begitu cepat

“Aku tidak sakit sama sekali. Jadi kau tak perlu bersusah payah mengobati lukaku. Lukaku ini tak sesakit kehidupanku. Asal kau tau, gadis manja sepertimu yang hidup dengan penuh kenyamanan mana mungkin tau bagaimana rasanya sakit ini! Pergi sana! Kembali saja dengan keluargamu! Aku memang iri padamu! Tapi aku tak meminta belas kasihan dari mu Zahra!” jawabku tegas penuh amarah sesekali aku menunjuk dirinya dengan jariku. 

“Oh jadi ini alasannya, kumohon ikutlah denganku” Zahra segera menarik tanganku bahkan ia menyeret diriku hingga masuk ke dalam mobilnya. Dengan kaki yang terseok tak mampu melawan tarikannya.
***
Hatiku semakin kesal padanya saat ia pamerkan segala benda mewah yang ada di rumahnya. Hingga tiba di sebuah kamar dimana di pintunya bertuliskan “Zahra’s room”. Badan tinggi semampai Zahra tepat di depanku namun ia membelakangiku.

“ Namaku Zahra, akulah orang yang kau benci. Akulah gadis yang hidupnya selalu bahagia. Namun asal dunia tau, rasa sakit ini pun terus menyelimutiku. Aku bukanlah anak mereka. “  suara Zahra sangat pelan hingga membuat suasana semakin haru.

 “ Maksudmu apa kalau kau bukan anak keluarga ini?” tanyaku heran.

 “ Aku adalah anak yang mereka adopsi, aku tau hal ini karena tak sengaja mendengar percakapan kedua orang tua angkatku di kamar. Hidupku hancur di kala itu. Sudah ku coba beberapa kali mencari identitasku sebenarnya. Namun belum kutemukan kepastiannya. Ada yang bilang, orang tua kandungku terlilit hutang hingga akhirnya menjualku, ada pula yang bilang aku adalah anak dari pembantunya yang sudah mati beberapa tahun silam. Ditambah lagi tubuhku yang memiliki kelainan jantung membuatku harus selalu berhadapan dengan kematian. Orang tua angkatku memang sangat menyayangiku, tapi tetaplah hatiku tak pernah bahagia seutuhnya apabila bukan dengan keluarga kandungku sendiri.” Jelas Zahra sambil menangis mengeluarkan segala kepedihan hidupnya.

Kepalanya masih menunduk, tangannya beberapa kali menghapus air matanya dan badannya masih tetap membelakangiku. Aku pun tak tega untuk menatap wajahnya.

“ Tapi aku mampu bertahan, tidak seperti mu Naira” ujar Zahra sambil menegakkan kepanya dan kini mulai menampakkan wajahnya.

“ Aku masih punya Allah yang tak akan pergi kemana mana dariku, dengan do’aku selama ini aku tetap yakin bahwa suatu saat nanti Allah akan mempertemukan aku dengan keluargaku. Walau jika tidak di dunia, maka mungkin bertemu di syurga. Aku tak menyalahkan segala takdirku. Karena aku tau bahwa Allah-lah Tuhan pemilik segala yang ada di bumi, termasuk pemilik orang tuaku”  perkataan Zahra kali ini sungguh menusuk jantungku hingga urat nadiku.

“ Apa yang telah aku lakukan pada hidupku. Bukan Allah yang menghancurkan hidupku, namun aku sendiri. Apa yang telah ku lakukan pada kedua orang tuaku dan adikku?? Apa yang telah kulakukan pada Zahra yang hidupnya jauh lebih menyedihkan dari hidupku” sungguh perkataan Zahra membuat lututku semakin lemas ditambah bekas luka akibat kecelakaan hingga aku pun terjatuh ke lantai.

Tangisan itu memecah keheningan di rumah Zahra. Pelukkan Zahra sangat membuatku semakin bersalah. Rasa Maluku pada Sang Maha Pencipta membuatku tak henti hentinya menangis dan meminta ampun.
***
“Asyhadu Alla ila hailallah waasyhadu anna muhammadurrasulullah, aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Nabi Muhammad adalah utusan Allah” inilah kalimat tobatku di bulan suci  Ramadhan. Aku kembali pada Mu Ya Rabb.

( Wanda Amelia Rahma)



1 komentar:

Berikan komentar terbaikmu:)

Serunya Oreo 110th Birthday Celebration Bareng Keluarga di Rumah

  Hal yang paling dirindukan dari seorang anak perempuan yang sudah berumah tangga adalah momen saat bisa kumpul bareng sama orangtua ters...