Jumat, 17 Mei 2013

KATA IKAN GUE, GUA NTU UPAY


Kata Ryan D’massive, “ Cinta ini membunuhku”
Kata Maia Estianty,  “ Aku mau makan ku ingat kamu, aku mau tidur juga kuingat kamu”
Kata ariel Noah, ” Aku hidup untukmu, aku mati tanpamu”
Kata pasha Ungu, ” Mungkin ini jalan takdirku, mengagumi tanpa dicintai”
Eh ada lagi yang bilang, “ Aku tanpamu butiran debu”
Begitulah cinta versi para musisi tanah air.
Tapi kalau cinta versi karangan gue ama ade gue begini nih:
Ake terjatuh dan ku bisa bangkit lagi
Aku tenggelam dalam lautan luka ringan
Aku tersesat dan aku tau arah jalan pulang
Aku tanpamu BAHAGIA SELALU……..
Hahaha…beli aja kaset dan cd’y di warung nasi terdekat dirumah anda. Beli kasetnya terus buang! Hahaha J becanda sob..
Assalamu’alaikum para ukhti, girl, sist..
Kenapa sih kita rentan banget ama yang namanya airmata? Dikit-dikit nangis? Apakah semua tangisan itu menandakan kebenaran? Apakah semua tangisan itu mulia? Apa dunia merasa iba saat kita menangis? Pertanyaan itu yang ngebuat gue pengen flashback ke masalalu gue bentar pake kaca spion. Kira-kira karena apa aja ya air mata gue keluar? Apakah cinta ikut andil didalamnya?

2 tahun yang lalu, masih terbayang jelas  difikiran gue. Gue pernah nangis menyedihkan. Bahkan setiap hari udah kaya musim hujan bagi gue. Semuanya keliatan mendung. Bahkan handphone gue pernah jadi korban luapan air mata yang susah dikendalikan. Astagfirullah ( jangan ditiru, ini adegan berbahaya dan hanya dilakukan oleh orang yang professional) hahaha….
Tapi kalau dibandingkan dengan air mata Lina, gadis cilik yang sudah menjadi tulang punggung keluarganya. Harus rela putus sekolah demi menafkahi keluarganya. Ibunya yang pergi begitu saja karena sudah tak tahan akan himpitan ekonomi membuat Lina harus berjuang tanpa seorang ibu. Ayahnya yang lumpuh dan tak mampu lagi bekerja. Dan adik semata wayangnya yang masih sangat kecil dan butuh banyak kasih sayang. Di saat teman sebayanya pergi sekolah, ia justru pergi kehutan untuk mencari kayu bakar. Di saat teman yang lainnya serius menimba ilmu dikelas, ia harus menyelesaikan urusan dapur dari mulai memasak, mencuci. Dapat makan nasi saja sudah syukur walau tanpa ada lauk satupun. Jikalau ada sedikit rezeki, barulah ia membeli lauk itupun mungkin tempe. Di saat siang menjelang sore, ia rela jalan berpuluh-puluh kilometer untuk menjual buah-buahan milik tetangganya. Upah yang didapatnyapun tak banyak. Namun ia tetap bersyukur. Kerja keras yang ia lakukan tiap hari membuat ia lupa untuk menangis. Bahkan di sela waktu istirahatnya, ia selalu disibukkan dengan keperluan ayahnya yang ingin ke kamar mandi, karena ayahnya memang lumpuh tak bisa kemana-mana. Dan saat orang lain iba padanya, dia hanya tersenyum. Dan disaat kita bertanya padanya, ia hanya menangis. Hatiku teriiris…air matanya jauh lebih mulia dibandingkan air mataku 2 tahun yg lalu. Saat air mata jatuh kepipinya, aku bisa merasakan bahwa air, tanah, udara semua iba padanya bahkan tumbuhan dan hewan pun mungkin tak berhenti membantu do’a untuknya. Hal itu terbukti akan ketegarannya pada hidup.

Sedangkan gue yang dulu pernah nangis gara-gara cinta..merasa konyol banget hidup gue dulu. Tidak seperti Lina, saat gue nangis alam pun kagak simpati sedikitpun. Malahan  saat gue nangis dulu, ikan cupang peliharaan ade gue bilang “ Upay..Upay..Upay”

Jadi kalau kita mau nangis, mending fikir ulang dulu. Liat deh sodara kita yang di bawah. Pantes gak air mata kita keluar untuk masalah sepele yang udah kaya kuman di tengah lautan. Dan masalah kita gak ada apa-apanya dibanding masalah mereka

KITA SEDIH, TAPI ADA YANG JAUH LEBIH SEDIH DARI KITA.
SYUKUR RAME-RAME YUUUKK
YANG LALU BIARLAH BERLALU

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan komentar terbaikmu:)

Serunya Oreo 110th Birthday Celebration Bareng Keluarga di Rumah

  Hal yang paling dirindukan dari seorang anak perempuan yang sudah berumah tangga adalah momen saat bisa kumpul bareng sama orangtua ters...